Posted by : anonimus Wednesday, January 5, 2011

LAPORAN KEGIATAN
PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT












PELATIHAN GURU PEMBINA OLIMPIADE MATEMATIKA SMA TINGKAT KABUPATEN/KOTA
Se- PROVINSI LAMPUNG









Oleh :

Wamiliana, Ph.D.
Amanto, S.Si., M.Si.
Drs. Rudi Ruswandi, M. Si.
Noti Ragayu, S.Si., M.Si.
Subian Saidi, S.Si.








FAKULTAS MATEMATIKA DAN PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS LAMPUNG
2009
PELATIHAN GURU PEMBINA OLIMPIADE MATEMATIKA SMA TINGKAT KABUPATEN/KOTA
Se- PROVINSI LAMPUNG





LAPORAN KEGIATAN
PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT





Oleh :

Wamiliana, Ph.D.
Amanto, S.Si., M.Si.
Drs. Rudi Ruswandi, M. Si.
Noti Ragayu, S.Si., M.Si.
Subian Saidi, S.Si.






Biaya Mandiri Dosen Jurusan Matematika FMIPA Universitas Lampung Tanggal 14 – 15 Maret 2009
\









FAKULTAS MATEMATIKA DAN PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS LAMPUNG
2009

Halaman Pengesahan
Laporan Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat


1. Judul Pengabdian : Pelatihan Guru Pembina Olimpiade
Matematika SMA Tingkat Kabupaten/Kota
Se- Provinsi Lampung

2. Ketua Tim Pelaksana
a. Nama Lengkap : Wamiliana, Ph.D
b. Pangkat, Golongan dan NIP : Pembina Tk. I / IVb / 131815391
c. Jabatan Fungsional : Lektor Kepala
d. Fakultas / Jurusan : MIPA / Matematika
3. Personalia
Jumlah Anggota Pelaksana : 5 Orang
4. Jangka Waktu Pelaksanaan : 13 s.d. 14 Desember 2007
5. Bentuk Kegiatan : Pelatihan
6. Sifat Kegiatan : Penunjang
7. Lokasi Pengabdian : SMA Negeri 5 Bandar Lampung
8. Biaya Yang Diperlukan : ……………..
9. Sumber Biaya : Mandiri


Bandar Lampung, 17 Maret 2009
Mengetahui
Dekan MIPA Unila Ketua Pelaksana,





Dr. Sutyarso, M. Biomed. Wamiliana, Ph.D.
NIP 131689903 NIP. 131815391


Menyetujui,

Ketua Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat
Universitas Lampung




Dr. Budi Koestoro, M.Pd.
NIP. 131129056



KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan limpahan rahmat, taufiq dan ilmu pengetahuan sehingga kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang berjudul “Pelatihan Guru Pembina Olimpiade Matematika SMA Tingkat Kabupaten/KotaSe- Provinsi Lampung” dapat terlaksana.

Target kegiatan ini adalah setelah mengikuti pelatihan peserta memiliki kemampuan dan kemahiran dalam menyelesaikan soal-soal olimpiade Matematika serta dapat menyebarkan (mentransfer) pengetahuan tersebut kepada para siswa dan teman guru lain di lingkungan sekolahnya masing-masing, sehingga diharapkan Provinsi Lampung pada masa-masa yang akan datang memiliki siswa-siswa yang unggul dan berprestasi dalam ajang olimpiade nasional maupun internasional..

Kami menyampaikan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya atas bantuan baik dalam hal material, finansial dan moril kepada :
1. Bapak Ketua Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat Unila yang telah merestui kegiatan ini.
2. Bapak Dekan FMIPA UNILA
3. Ketua Jurusan Matematika
4. Bapak/Ibu guru pembina olimpiade matematika tingkat kabupaten/kota se Provinsi Lampung yang telah berpartisipasi dalam kelancaran kegiatan ini.
5. Seluruh anggota tim (Nara Sumber) serta semua pihak yang telah memberi motivasi dan bantuan moril/spirituil sehingga jalannya kegiatan menjadi lancar, tertib.

Saran dan kritik sangat kami harapkan untuk perbaikan kegiatan di masa yang akan datang. Semoga apa yang telah diperbuat menjadi bermanfaat bagi kehidupan kini dan generasi nanti serta mendapat ridho Allah SWT. Amiieen.



Bandar Lampung, 17 Maret 2009
Ketua Tim Pelaksana,




Wamiliana, Ph.D.
NIP 131815391





DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL ……………………………………………….. i
HALAMAN PENGESAHAN…………………………………………….. iii
KATA PENGANTAR …………………………………………………… iv
DAFTAR ISI ……………………………………………………………….. v
DAFTAR LAMPIRAN …………………………………………...……….. vii

I. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Masalah....…………………………………………..... 1
1.2 Perumusan Masalah …………………………………………………... 3
1.3 Tujuan Kegiatan …………………………………………………….... 3
1.4 Manfaat Kegiatan …………………………………………………….. 3

II. Tinjauan Pustaka
2.1 Forum Pengembangan Olimpiade Matematika..................................... 4
2.2 Institusi dan mekanisme Kerja………………………………………... 5
2.3 Tahapan Seleksi Olimpiade Matematika…………………………….... 7
2.4 Skema Sistem Seleksi dan Pembinaan Olimpiade…………………….. 10
2.5 Karakteristik Soal Olimpiade Matematika...…………………………... 11
2.6 Materi Olimpiade Matematika ...............…………………………….... 11
2.7 Evaluasi Tim IMO Pusat...................................... …………………….. 14


III. Metode Pengabdian…………………………………………………….. 16

IV. Pelaksanaan Kegiatan
4.1 Rangkaian Kegiatan...........…………………………………………..... 17
4.2 Jadwal Kegiatan...... …………………………………………………... 18



V. Hasil dan Pembahasan
5.1 Hasil Yang Diperoleh........…………………………………………..... 19
5.2 Pembahasan............ …………………………………………………... 20

VI. Kesimpulan dan Saran
6.1 Kesimpulan.......................…………………………………………..... 21
6.2 Saran....................... …………………………………………………... 21

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 23
LAMPIRAN

































DAFTAR LAMPIRAN


Halaman
Lampiran 1. Surat Permohonan Sebagai Nara Sumber …..……..................
Lampiran 2. Surat Izin Melaksanakan Kegiatan Pengabdian Kepada
Masyarakat ……………..……………….................................
Lampiran 3. Daftar Hadir Peserta …..…………………………….............
Lampiran 4. Materi Pelatihan ……………….. ……………………………
Lampiran 5. Contoh Soal Latihan…….……………….………...................
Lampiran 6. Berita Foto ..………………………………………………….
Lampiran 7. Contoh Sertifikat Bagi Peserta Pelatihan …………………….

















I. PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Masalah

Mutu sumber daya manusia suatu bangsa tergantung pada mutu pendidikan. Dengan berbagai macam strategi, perbaikan mutu pendidikan diarahkan untuk meningkatkan mutu siswa dalam penguasaan ilmu pengetahuan dasar, penguasaan bahasa asing, dan penanaman sikap dan perilaku yang mencerminkan budi pekerti. Untuk dapat mencapai hal tersebut di atas, Direktorat Pendidikan Menengah Umum terus melakukan berbagai kegiatan pengembangan bakat dan minat siswa SMA/MA melalui kompetisi ilmu pengetahuan dasar, bahasa asing dan kepribadian sejak dari tingkat sekolah, kota/kabupaten, provinsi, nasional sampai dengan internasional (Depdiknas-Dikmenum, 2003).

Sebagai wahana efektif dalam membangun kembali citra positif bangsa Indonesia di masyarakat global, sejak tahun 1998, Departemen Pendidikan Nasional telah memfasilitasi dan mendampingi pelajar Indonesia dalam berbagai olimpiade internasioanl bidang Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, Komputer/Informatika, dan bahkan pada tahun 2003 pertama kali Indonesia mengikuti Olimpiade astronomi. Partisipasi dan keberhasilan siswa dari Indonesia sangat diperhitungkan oleh masyarakat dunia. Kemampuan tim olimpiade Indonesia telah menghasilkan medali emas, perak dan perunggu, serta mendapatkan ‘honorable mention’. Bahkan, Indonesia telah dipercaya oleh masyarakat dunia sebagai penyelenggara Olimpiade Fisika Tingkat Asia yang pertama pada tahun 2000, dan Olimpiade Fisika Internasional ke-33 di Denpasar, Bali pada 22 – 30 Juli 2002 lalu. Bahkan pada tahun 2005, Indonesia akan menjadi tuan rumah Olimpiade Fisika Tingkat Asia keenam (Depdiknas-Dikmenum, 2004).
Indonesia mengikuti IMO untuk pertama kalinya di tahun 1988, yaitu IMO 29 di Canberra, Australia. Sejak itu Indonesia tidak pernah absen mengikuti IMO. Selama 16 kali mengikuti IMO, Indonesia memperoleh 1 medali perak dan 6 medali perunggu, selain sejumlah honorable mention (Ahmad Muchlis, 2003).

Seiring dengan prestasi di atas, maka hal tersebut masih sangat sulit dikejar oleh siswa-siswi yang berasal dari daerah-daerah, khusunya provinsi Lampung. Siswa-siswi dari provinsi Lampung menempati di bawah 60 besar untuk tingkat nasional. Selama 4 tahun terakhir Lampung hanya mengirimkan 1 siswa, itupun karena jatah provinsi, bukan siswa yang memenuhi pasing grade yaitu dengan nilai di atas 26.

Memperhatikan kondisi di atas, yaitu bahwa prestasi siswa-siswi dari provinsi Lampung masih di bawah pasing grade, sungguh merupakan tantangan bagi staf jurusan Matematika FMIPA Unila untuk memberikan pengetahuan dan ketrampilan dalam menyelesaikan soal-soal olimpiade kepada guru, khususnya Guru Menengah Atas di kabupaten/kota se Provinsi Lampung.

Dalam rangkaian Dies Natalis Jurusan Matematika FMIPA Unila yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Matematika (HIMATIKA), para Dosen Jurusan Matematika melalui tim pelaksana Wamiliana, dkk. merasa terpanggil untuk melakukan suatu kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan bekerjasama dengan Lembaga Pengadian kepada Masyarakat Universitas Lampung. Kegiatan yang dimaksud diberi judul “Pelatihan Guru Pembina Olimpiade Matematika SMA Tingkat Kabupaten/KotaSe- Provinsi Lampung” yang penyelenggaraannya berlangsung pada tanggal 14 s.d. 15 Maret 2009 di Jurusan Matematika FMIPA UNILA.







1.2 Perumusan Masalah

Dari kondisi yang dikemukan dalam analisis situasi, permasalahan yang dihadapi para guru di Kota Bandar Lampung adalah masih minimnya pengetahuan mereka terhadap materi olimpiade yang harus diajarkan kepada siswa-siswanya, sebab beberapa materi olimpiade tidak tercakup di kurukulum SMA di Indonesia dan soal olimpiade merupakan soal yang tidak rutin. Maka perlu adanya pelatihan guru pembina olimpiade matematika agar mereka dapat mengantarkan siswa-siswinya berprestasi ewakili provinsi Lampung berlaga di Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Matematika, bahkan ke tingkat Internasional (IMO).

1.3 Tujuan Kegiatan

Kegiatan ini dilaksana dengan tujuan sebagai berikut:
1. Meningkatkan kemampuan dan kemahiran bagi guru pembina dalam menganalisa dan menyelesaikan soal-soal olimpiade Matematika.
2. Para guru pembina olimpiade dapat mentransfer pengetahuan tersebut kepada para siswa dan teman guru lain di lingkungan sekolahnya masing-masing.
3. Untuk mempersiapkan siswa-siswa yang unggul dan berprestasi dalam ajang olimpiade nasional maupun internasional.

1.4 Manfaat Kegiatan

Dengan dilaksanakan kegiatan ini, diharapkan akan diperoleh sebagai berikut:
1. Terwujudnya sinergi antara pengajar Perguruan Tinggi dan Pembina Olimpiade pada kabupaten/kota se Provinsi Lampung dalam hal mempersiapkan siswa didik yang unggul dan mampu memberikan kontribusi terbaik dalam ajang OSN tingkat Nasional maupun Internasional.
2. Memperkenalkan dan memberikan konsep-konsep dasar matematika dan strategi problem solving yang sistematis, logis dan analitis sebagai modal dasar menuju Lampung berdaya saing OSN matematika.


II. TINJAUAN PUSTAKA



2.1 Forum Pengembangan Olimpiade Matematika

Agar kinerja Direktorat Pendidikan Menengah Umum dan tim pembina lebih efektif, kerjasama yang erat antara guru-guru SMA/MA, Dinas Pendidikan Provinsi maupun Kabupaten/Kota dan Perguruan Tinggi merupakan kebutuhan mendesak. Perguruan Tinggi dan Dinas Pendidikan diharapkan dapat membidani kebijakan dan strategi peningkatan mutu pendidikan daerah melalui kegiatan lomba berbagai ilmu pengetahuan. Dan mampu membina guru MIPA dan bahasa di SMA/MA di daerah masing-masing melalui intensifikasi kegiatan MGMP dan maupun kerjasama dalam pembinaan siswa secara langsung pada pelajaran Biologi, Fisika, Kimia, Matematika, dan Informatika, serta Bahasa Asing.

Untuk itu juga diperlukan kolaborasi antarperguruan tinggi, Direktorat Pendidikan Menengah Umum, Dinas Pendidikan Provinsi, dan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, MGMP. Dan MKKS, yang dapat dilembagakan menjadi sebuah Forum Jaringan Kerja Pengembangan Olimpiade dan Lomba-Lomba Keilmuan pada tahun 2003 (Depdiknas-Dikmenum, 2003). Kemudian forum ini pada tahun 2004 berubah nama Forum Jaringan Inovasi Pendidikan untuk Pengembangan Olimpiade dan Lomba-Lomba Keilmuan. Forum ini secara mandiri dapat menentukan intervensi manajemen maupun finansial sesuai dengan sumbar daya daerah masing-masing. Kolaborasi demikian menjadi sangat penting untuk dilakukan dalam rangka menyiapkan calon peserta olimpiade mendatang (Depdiknas-Dikmenum, 2004).


Universitas Lampung telah ditunjuk oleh DIKMENUM sebagai salah satu perguruan tinggi pembina daerah Provinsi Lampung dan Jurusan Matematika FMIPA ditunjuk sebagai pembina bidang Matematika. Agar kolaborasi ini dapat berjalan diperlukan kerjasama yang baik dari berbagai pihak seperti Dinas Pendidikan Provinsi Lampung, Dinas Kabupaten/Kota, MGMP. Dan MKKS se- Provinsi Lampung.

Sebagai langkah awal, kegiatan ini bertujuan untuk menciptakan Forum Jaringan Kerja Pengembangan Olimpiade dan Lomba-loma Keilmuan khususnya bidang matematika dan penyebaranluasan informasi mengenai olimpiade internasional di Provinsi Lampung. Forum ini akan terdiri dari Tim Pembina Daerah Lampung yang akan bekerjasama dengan Direktorat Menengah Umum, Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/Kota, MKKS, dan MGMP.

2.2 Institusi dan Mekanisme Kerja

Institusi yang terlibat dalam olimpiade dan lomba-lomba bidang matematika di antaranya adalah Direktorat Pendidikan Menengah Umum, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Tim Pembina Olimpiade dan lomba-lomba Bidang Matematika, Perguruan Tinggi, Dinas Pendidikan Provinsi, Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, MKKS, dan MGMP.

a. Direktorat Pendidikan Menengah Umum, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah
Bertindak sebagai leading sector dari kegiatan pengembangan wawasan keilmuan bagi siswa SMU pada khususnya dan siswa SLTA pada umumnya.





b. Tim Pembina Olimpiade dan lomba-lomba Bidang Matematika
Tim Pembina Olimpiade dan lomba-lomba Bidang Matematika ditunjuk dan ditetapkan oleh Direktorat Pendidikan Menengah Umum, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, serta bertindak sebagai Pembina Olimpiade dan lomba-lomba Bidang Matematika bagi siswa SMU dan siswa SLTA pada umumnya.

c. Perguruan Tinggi
Perguruan tinggi sebagai mitra kerja Direktorat Pendidikan Menengah Umum dalam pengembangan wawasan keilmuan melakukan kerjasama dalam pencarian dan mengembangkan bakat dan minat siswa SMU pada khususnya dan siswa SLTA pada umumnya serta membina calon guru dan melatih guru yang diharapkan dapat mengembangkan wawasan keilmuan di sekolah masing-masing.

d. Dinas Pendidikan Provinsi
Dinas Pendidikan Provinsi sebagai mitra Direktorat Pendidikan Menengah Umum dalam pengembangan wawasan keilmuan melalui pelaksanaan pencarian siswa-siswa (mulai dari SD, SLTP, hingga SLTA) yang berminat dan berbakat dalam bidang Matematika, Fisika, Biologi, Kimia, Komputer, Bahasa Asing dan bidang penelitian melalui berbagai lomba. Dinas peniddikan Provinsi juga bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, MKKS dan MGMP di provinsi, serta perguruan tinggi yang ada di Provinsi.

e. Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota
Merupakan mitra Direktorat Pendidikan Menengah Umum dalam pengembangan wawasan keilmuan melalui pelaksanaan pencarian siswa-siswa siswa (mulai dari SD, SLTP, hingga SLTA) yang berminat dan berbakat dalam bidang Matematika, Fisika, Biologi, Kimia, Komputer, Bahasa Asing dan bidang penelitian melalui berbagai lomba. Dinas peniddikan Kabupaten/Kota juga bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Provinsi, MKKS dan MGMP di Kabupaten/Kota, serta perguruan tinggi.
f. Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS)
Merupakan sarana sharing information and knowledge di kalangan kepala sekolah, dimulai dari tingkat SD, SLTP, dan SLTA khususnya SMU dan media bagi diseminasi program pengembangan wawasan keilmuan di kalangan siswa SMU pada khususnya dan siswa SLTA pada umumnya.


g. Musyawarah Kerja Guru Mata Pelajaran (MGMP)
Merupakan sarana sharing information and knowledge di kalangan guru-guru mulai dari SD, SLTP hingga SLTA khususnya khususnya guru-guru mata pelajaran Matematika, dan guru Pembina Kelompok Ilmiah Remaja di SMU serta merupakan ujung tombak bagi diseminasi program pengembangan wawasan keilmuan, pencarian dan pembinaan bagi siswa-siswa SD, SLTP, dan SLTA yang berbakat dan berminat pada bidang keilmuan, khususnya siswa SMU dan siswa SLTA pada umumnya.

2.3 Tahapan Seleksi Olimpiade Matematika
Sebelum sampai ke Olimpiade Sains Nasional (OSN) Bidang Matematika dilakukan seleksi secara bertingkat dan dilanjutkan dengan pembinaan.
Tahapan seleksi olimpiade adalah sebagai berikut (Depdiknas-Dikmenum, 2004) :
Tahap Pertama (Seleksi Tingkat Sekolah)
Sekolah diberi kesempatan melakukan proses seleksi untuk mengambil siswa terbaiknya. Dari hasil seleksi, sekolah mengirimkan siswa terbaiknya untuk mengikuti seleksi ke tingkat kabupaten/kota.

Tahap Kedua (Olimpiade Kabupaten/Kota)
Merupakan proses seleksi di tingkat kabupaten/kota yang diikuti oleh siswa hasil seleksi dari setiap sekolah baik negeri maupun swasta yang ada di kabupaten/kota. Tahap ini pelaksanaannya diadakan pada akhir bulan April. Dua siswa terbaik hasil seleksi setiap sekolah dikirim ke tingkat kabupaten/kota untuk mengikuti tes seleksi di kabupaten/kota.
Dalam tiga tahun terakhir ini, soal seleksi dipersiapkan oleh pusat, sementara pelaksanaan (termasuk penilaian dan penentuan wakil terpilih) dilakukan sepenuhnya oleh daerah. Penyusunan soal seleksi tingkat kabupaten/kota ini terbuka untuk diambil alih kolaborator (Perguruan Tinggi dan Dinas). Sudah tentu perlu dilakukan koordinasi dengan dinas pendidikan dan MGMP yang selama ini terlibat.
Tahap Ketiga (Olimpiade Provinsi)
Merupakan seleksi di tingkat provinsi yang dilaksanakan di Kantor Dinas Provinsi. Calon peserta seleksi merupakan hasil seleksi yang terbaik dari setiap kabupaten/kota yang ada di wilayah provinsi dan setiap kabupaten/kota mengirimkan siswa dengan jumlah maksimal 5 calon pada setiap olimpiade, kecuali ada pertimbangan tertentu.

Tahap Keempat (Olimpiade Nasional)
Merupakan seleksi nasional yang diikuti oleh siswa hasil seleksi yang terbaik dari provinsi yang telah disaring dan dipilih oleh tim yang terdiri dari unsur perguruan tinggi dan pembina yang sesuai dengan bidang keahliannya masing-masing.
Penyusunan soal, penilaian dan penentuan hasil seleksi dilakukan oleh pusat. Dalam tiga tahun terakhir ini, format seleksi sudah terbakukan. Seleksi terdiri dari dua bagian yang dilaksanakan dalam satu hari.

Penilaian dilakukan dalam dua tahap. Mula-mula, penilaian dilakukan terhadap pekerjaan bagian pertama untuk semua peserta. Penentuan peserta yang akan diundang untuk mengikuti OSN bidang MIPA SMA dimulai dengan menetapkan seorang peserta terbaik untuk setiap propinsi. Peserta lain dipilih berdasarkan peringkat nasional untuk menggenapkan jumlah siswa yang diundang menjadi 80-90 orang. Batas nilai minimal untuk diundang dapat ditetapkan berbeda untuk kelas yang berbeda.

Dalam melaksanakan seleksi tingkat provinsi ditemui kendala menyangkut waktu seleksi ketika sejumlah provinsi mengundurkan tanggl seleksi. Ini menjadi masalah karena seluruh peserta seleksi mengerjakan soal yang sama, sehingga terbuka kemungkinan peserta yang menjalani seleksi belakangan memperoleh keuntungan yang tidak wajar. Untuk memberikan rangsangan berprestasi, sedang dipertimbvangkan untuk memberikan kuota jumlah peserta yang boleh mengikuti seleksi di tingkat propinsi. Kuota ini diberikan berdasarkan prestasi provinsi di tahun-tahun sebelumnya. Supaya kesempatan bagi siswa SMA masih tetap terbuka luas, perlu disisipkan suatu seleksi lagi di antara seleksi kota/kabupaten dengan seleksi provinsi. Dengan skenario ini, seleksi sisipan menjadi seleksi tingkat provinsi, sedangkan seleksi propinsi sebelumnya menjadi seleksi nasional. Kemudian, pengambilalihan seleksi kota/kabupaten oleh propinsi memungkinkan seluruh proses dimulai lebih awal pada setiap tahunnya.

Tahap Kelima (Pembinaan Tahap Pertama)
Dari seleksi nasional akan dipilih sebanyak lebih kurang 30 siswa terbaik untuk dibina selama lebih kurang satu bulan. 30 siswa terbaik ini mendapat medali dengan aturan sebagai berikut.
■ Peringkat 1 – 5, mendapat medali emas
■ Peringkat 6 – 15, mendapat medali perak
■ Peringkat 16 – 30, mendapat medali perunggu
Materi pembinaan yang diberikan disesuaikan dengan materi IMO yang mencakup materi-materi dasar dalam aljabar, geometri, kombinatorika dan teori bilangan, khususnya yang tidak tercakup dalam kurikulum matematika sekolah di Indonesia. Selain itu juga diberikan teknik-teknik dasar dalam pemecahan masalah.

Tahap Keenam (Pembinaan Tahap Kedua/Pembinaan Khusus)
Dari hasil pembinaan tahap pertama akan diseleksi (dipilih) 10 s.d. 15 siswa calon peserta yang akan dibina secara khusus selama lebih kurang 3-4 minggu. Dari pembinaan khusus akan dipilih 4 s.d. 6 peserta yang akan mewakili Indonesia dalam Olimpiade Matematika Internasional (IMO). Akhirnya siswa ini akan mendapatkan tempaan lagi sel;ama 10 hari menjelang keberangkatan mengikuti IMO. Dalam tahap ini dilakukan pengkondisian agar anggota tim siap menghadapi tes IMO.
Seluruh kegiatan persiapan dan pemberangkatan Tim IMO Indonesia dilakukan di bawah kendali Direktorat Pendidikan Menengah Umum (Dikmenum), Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen), dan Departemen Pendidikan Nasional. Aspek akademis dikelola oleh suatu tim pembina yang pada saat ini terdiri dari :

2.4 Skema sistem seleksi dan pembinaan olimpiade bidang Matematika
(Soewono, 2004)




















2.5 Karakteristik Soal Olimpiade Matematika

Orientasi soal olimpiade matematika adalah pemecahan masalah (problem solving) dengan karakteristik :
• Tidak rutin (terdapat modifikasi logika)
• Memerlukan pengetahuan sekolah menengah, tetapi memerlukan kematangan
matematika lanjut, yaitu :
• Wawasan
• Kecermatan
• Kejelian
• Kecerdikan, dan
• Pengalaman
• Jawaban soal olimpiade harus memuat gagasan matematika, tidak boleh
menuliskan fakta yang sudah diketahui atau manipulasi aljabar
Pada setiap tahapan seleksi olimpiade yang ingin dilihat adalah kemampuan siswa untuk menyelesaikan masalah yang tidak rutin. Ini berarti bahwa siswa yang akan berhasil adalah siswa yang dapat menggunakan materi yang telah dipelejarinya di sekolah secara kreatif untuk menyelesaikan soal-soal yang diberikan. Untuk itu penilai akan melihat bagaimana siswa menangani soal yang diberikan dan bagaimana pula siswa menyajikan penyelesaian soal.

2.6 Materi Olimpiade Matematika

1. Kisi-Kisi

Soal seleksi olimpiade matematika baik dari tingkat kabupaten/kota, provinsi dan nasional disesuaikan dengan soal-soal Olimpiade Tingkat Internasional (IMO), yang dikelompokkan dalam 4 (empat) bidang (Soewono, 2005) :
 Aljabar (Algebra)
• Sistem persamaan non linear
• Persamaan fungsi
• Pertidaksamaan
 Geometri (Geometry)
• Geometri bidang (segitiga, lingkaran, segibanyak)
• Kongruensi dan kolinearitas
• Teorema: Euler, Ptolemy, Ceva dan Menelaus

 Kombinatorik (Combinatorics)
Teori yang digunakan untuk menyelesaian masalah :
• Permutasi
• Kombinasi
• Basic Counting Principles
• Konsep Pigeonhole (Pigeonhole Principle)
• Prinsip Inklusi dan Eksklusi

 Teori Bilangan (Number Theory)
• Keterbagian Bilangan bulat
• Relasi Kongruensi Modulo m (Congruence Relation Modulo m)
• Teorema Fermat dan Euler
• Fungsi Bilangan Bulat Terbesar
• Fungsi Aritmatika

2. Distribusi Soal

a. Olimpiade Internasional (IMO)
Soal olimpiade dipilih oleh dewan juri dan berasal dari soal-soal yang diusulkan oleh negara-negara peserta.
Dewan juri terdiri dari :
 Pemimpin (leader) semua negara
 Juri eksekutif dari negara tuan rumah
Dilaksanakan 2 hari, setiap hari 3 soal dengan rincian
1. Hari pertama, terdapat tiga soal (waktu 4.5 jam)
1. Soal mudah, nilai maksimum 7
2. Soal sedang, nilai maksimum 7
3. Soal sukar, nilai maksimum 7
2. Hari kedua, terdapat tiga soal (waktu 4.5 jam)
1. Soal mudah, nilai maksimum 7
2. Soal sedang, nilai maksimum 7
3. Soal sukar, nilai maksimum 7
Sehingga setiap peserta maksimum mendapatkan nilai 42.
Karena setiap negara maksimum megirimkan 6 peserta, maka setiap negra maksimum mendapatkan nilai 252.

b. Olimpiade Sains Matematika Tingkat Nasional
Dilaksanakan selama dua hari,
1. Hari Pertama : Terdiri dari 4 soal, yang terdiri dari soal teori bilangan, geometri, aljabar dan kombinatorik (masing-masing 1 soal) dan waktu mengerjakan 3 jam.
2. Hari Kedua : Terdiri dari 4 soal (lebih sulit dari hari pertama), yang terdiri dari soal teori bilangan, geometri, aljabar dan kombinatorik (masing-masing 1 soal) dan waktu mengerjakan 3 jam.

c. Seleksi Peserta Olimpiade Tingkat Provinsi
Soal terdiri dari dua bagian :
20 soal isian singkat dengan waktu 90 menit, setiap jawaban yang benar diberikan nilai 1. Hasil nilai pada bagian pertama ini menentukan untuk dapat dikoreksi pada bagian kedua, yaitu nilai pada bagian pertama minimal 7 baru dapat masuk ke tahap soal kedua.
5 soal uraian dengan waktu 120 menit, setiap soal yang benar diberikan nilai 7.




d. Seleksi Peserta Olimpiade Tingkat Tingkat Kabupaten/Kota
Soal terdiri dari 20 soal dan dikerjakan dalam waktu 120 menit, meliputi 10 pilihan ganda (1 soal maksimum diberi nilai 6, minimum 1 (soal tanpa jawaban) dan 10 soal isian singkat (setiap soal maksimum diberi nilai 9).

2.7 Evaluasi Tim IMO Pusat

Berikut ini akan diberikan catatan penting berupa evaluasi oleh tim IMO pusat. Dari pengalaman mengikuti IMO, tampak bahwa siswa Indonesia pada dasarnya memiliki kemampuan untuk berkompetisi matematika pada tingkat tinggi. Sekalipun demikian, untuk berprestasi baik mereka terhambat oleh sejumlah kelemahan. Kelemahan pertama menyangkut kemampuan kerja matematika. Dalam kategori ini, yang paling terasa adalah kekurangmampuan siswa kita mengemukanan jawaban secara baik (sistematis, argumentatif, jelas), meskipun mereka mendapatkan jawabannya. Dapat diduga bahwa kelemahan ini merupakan cermin dari pengajaran matematika sekolah di Indonesia dan merupakan dampak dari perhatian yang keliru terhadap UMPTN atau SPMB (Ahmad Muchlis, 2004).

Kelemahan kedua menyangkut sikap dan kebiasaan. Sikap skeptis yang mencerminkan kebutuhan akan pembuktian jarang tampak pada siswa kita. Siswa kita tidak terbiasa untuk memeriksa secara teliti kebenaran hasil yang mereka peroleh. Kelemahan lain terkait dengan materi IMO. Cakupan soal IMO ummumnya lebih luas dari pada kurikulum kita. Selain materi yang tidak tercakup dalam kurikulum, untuk dapat menyelesaikan soal IMO dibutuhkan pemahaman konseptual yang baik. Hal terakhir ini tidak memperoleh perhatian yang cukup dalam kurikulum kita.

Kemampuan yang dibutuhkan tersebut sebetulnya dapat ditumbuhkan melalui pembiasaan. Siswa potensial perlu membiasakan diri untuk memberikan argumentasi terhadap hasil yang diperoleh, untuk tidak segera puas dengan jawaban berupa dugaan. Untuk dapat menumbuhkan kebiasaan demikian, siswa perlu terbiasa dengan usaha untuk memperoleh pemahaman mendalam terhadap konsep-konsep matematika, bukan skadar mampu menghitung.

Uraian di atas membawa kita kepada kelemahan lain pada siswa kita, kelemahan yang bersifat bukan-matematika. Pertama, soal motivasi. Untuk dapat mewujudkan tuntutan-tuntutan di atas, siswa perlu memiliki motivasi yang cukup. Mengapa saya perlu memenuhi tuntutan-tuntutan tersebut, padahal tanpa itu saya bisa diterima di perguruan tinggi terkemuka ? Begitu mungkin siswa akan bertanya. Kompetisi matematika dapat memberikan jawaban, tetapi hanya sebagian. Pada tingkat tinggi, penghargaan dari luar diri (external reward) tidak cukup. Seorang juara memerlukan internal reward; dalam konteks kita ini mencakup kepuasan dapat menyelesaikan soal yang sukar. Motivasi yang tumbuh karena kebutuhan akan internal reward ini akan mendorong siswa untuk berani mengambil inisiatif. Tertalu jauh juga kita untuk berharap agar mereka dapat menutupi kelemahan-kelemahan tersebut atas usaha sendiri. Kesempatan perlu disediakan guru, oleh guru, sekolah, birokrasi pendidikan, dan pihak-pihak lain yang berkepentingan dengan peningkatan mutu pendidikan.
















III. METODE PENGABDIAN


Dalam pelaksanaan pelatihan ini, metode yang digunakan adalah sebagai berikut:

1. Metode curah-pendapat (sharing opinion)
Pada metode ini, peserta yang merupakan pembina olimpiade yang berasal dari kabupaten/kota se Provinsi Lampung diminta pendapatnya tentang kendala-kendala yang dialami oleh para pembina maupun siswa dalam mempersiapkan diri mengikuti olimpiade matematika. Pada sesi ini digagas tentang kerangka pemecahan masalah dan strategi penyelesaian soal-soal olimpiade secara umum.

2. Metode Ceramah
Pada metode ini, nara sumber secara bergantian menyampai konsep-konsep dasar penyelesaian soal-soal olimpiade. Materi olimpiade yang disampaikan meleputi: Teori bilangan, kombinatorik, aljabar dan geometri.

3. Metode Simulasi Pemecahan Masalah (problem solving)
Melalui metode ini, para peserta diberikan waktu untuk menyelesaikan soal-soal sesuai dengan materi yang telah disampaikan. Diakhir sesi, nara sumber membahas soal-soal yang telah dikerjakan peserta dan peserta memeriksa jawaban mereka.

4. Metode Diskusi
Dalam metode ini, para peserta diberikan kesempatan untuk menyampaikan pertanya-pertanyaan mengenai soal-soal olimpiade yang belum dipecahkan dan mendiskusikannya bersama nara sumber.





IV. PELAKSANAAN KEGIATAN

4.1 Rangkaian Kegiatan

Kegiatan pelatihan guru pembina olimpiade matematika ini dilaksanakan di jurusan Matematika FMIPA Universitas Lampung, pada tanggal 14-15 Maret 2009. Kegiatan ini merupakan bentuk Pengabdian Kepada Masyarakat yang dilaksanakan oleh dosen Jurusan Matematika FMIPA UNILA. Rangkaian kegiatan yang dilakukan sebagai berikut :
1. Mempersiapkan materi yang berkenaan dengan Teori Bilangan, Kombinatorika, Aljabar, dan Geometri. Materi dan jadwal disampaikan pada saat pelatihan dimulai. Isi materi telah dipersiapkan jauh sebelum pelatihan dimulai yang ruang lingkupnya berdasarkan hasil survey dan jawaban kuesioner yang telah dikembalikan. Ini dimaksudkan agar kegiatan lebih terarah pada persoalan yang dihadapi oleh peserta dan tujuan yang ingin dicapai penyelenggara.
2. Setelah pembukaan pelatihan, dilakukan curah-pendapat (sharing opinion) kepada para peserta terkait tentang kendala dan hambatan yang dirasakan dalam membina olimpiade kepada siswa. Selain itu juga digali sejauhmana penguasaan peserta terhadap soal-soal olimpiade. Hasil dari curah pendapat ini juga sebagai bahan perbandingan bagi seluruh peserta yang berasal dari kabupaten/kota se Provinsi Lampung.
3. Penyampaian materi oleh nara sumber dalam bentuk ceramah, diskusi dan latihan soal olimpiade. Adapun penyajian materi dibagi dalam 4 session sebagai berikut :
• Pada session pertama Teori Bilangan. Pada session ini ada sebagian peserta yang sudah menguasai dasar-dasar Teori Bilangan, tetapi untuk materi lanjutan sebagian besar guru belum menguasai.
• Pada session kedua, materi yang disampaikan Kombinatorika. Pada session ini ada sebagian peserta yang sudah menguasai dasar-dasar materi Kombinatorika.
• Pada session ketiga Aljabar. Pada session ini ada sebagian peserta besar peserta belum menguasai materi persamaan fungsional.
• Pada session keempat, materi yang disampaikan Geometri. Pada session ini hampir semua peserta belum menguasai materi dengan baik dan benar.

4.2 Jadwal Kegiatan

Pelaksanaan kegiatan diselenggarakan sesuai jadwal yang telah disusun yaitu :

Hari dan Tanggal Waktu Acara Nara Sumber
Sabtu,
14 Maret 2009
07.15 – 08.00
08.00 – 09.00

09.00 – 09.15
09.15 – 11.45
11.45 – 13.00
13.00 – 14.30
14.30 – 16.00
16.00 - 16.15
16.15 – 17.45
Check in peserta dan Pembukaan
Sharing Opinion
“Strategi Olimpiade Matematika”
Rehat
Teori Bilangan
Ishoma
Kombinatorika
Aljabar
Rehat
Geometri
Panitia

Wamiliana, Ph.D.
Panitia
Amanto, S.Si., M.Si.
Panitia
Rudi Ruswandi, M.Si.
Noti Ragayu, M.Si.
Panitia
Subian Saidi, S.Si.
Minggu,
15 Maret 2009 07.30 – 09.00
09.00 – 09.15
09.15 – 10.45
10.45 – 12.15
12.15 – 13.15
13.15 – 15.45
15.45 – 16.00
16.00 – 17.00
17.00 – 17.30 Problem Solving soal olimpiade
Rehat
Teori Bilangan
Kombinatorika
Ishoma
Aljabar
Geometri
Diskusi/tanya jawab
Penutupan Subian Saidi, S.Si.
Panitia
Amanto, S.Si., M.si.
Wamiliana, Ph.D.
Panitia
Noti Ragayu, M.Si.
Rudi Ruswandi, M.Si.
Amanto, S.Si., M.si.
Panitia







V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil Yang Diperoleh

Hasil yang diperoleh dalam kegiatan Pelatihan Guru Pembina Olimpiade Matematika Tingkat SMU kabupaten/kota se Provinsi Lampung diperoleh informasi sebagai berikut :
1. Perhatian peserta sangat baik terhadap jalannya kegiatan hal ini ditandai dengan rasa antusias mereka pada saat pelatihan. Pertanyaan yang disampaikan nara sumber direspon dengan baik walaupun tidak semua pertanyaan dijawab dengan jawaban bernilai benar.

2. Penyampaian strategi pembinaan olimpiade Matematika sangat penting, sebab olimpiade Matematika merupakan ajang kompetisi. Soal olimpiade merupakan soal tidak rutin, sehingga dalam pengerjaannya diperlukan strategi yang khusus juga.

3. Dari hasil simulasi penyelesaian soal-soal olimpiade yang diberikan, menunjukkan sebagian besar guru belum terbiasa mengerjakan soal olimpiade, hal ini karena soal olimpiade tidak mudah dan mungkin penghargaan (reward) kepada guru dan siswa yang menekuni olimpiade masih kurang.

4. Materi Teori bilangan termasuk materi yang lebih mudah dibandingkan dengan materi lainnya. Sedangkan materi Geometri merupakan materi yang paling sulit dirasakan oleh guru dan siswa. Tetapi dalam penyampaian materi dilakukan secara merata, karena bobot penilaian maupun distribusi soal terhadap keempat bidang, yaitu Teori Bilangan, Kombinatorika, Aljabar dan Geometri adalah sama.





5.2 Pembahasan

Berdasarkan hasil kegiatan pelatihan yang diperoleh seperti tersebut di atas ada beberapa hal yang perlu dijelaskan sebagai berikut :
Jika dilihat dari kondisi awal kita dapat jelas bahwa ada sebagian besar peserta belum memahami tentang strategi pembinaan olimpiade khususnya kepada siswa didik masing-masing. Hal ini tercermin begitu banyaknya permasalahan yang disampaikan oleh peserta tentang kendala-kendala dalam membina olimpiade, mulai dari SDM, sarana prasarana maupun finansial. Hasil simulasi yang telah diberikan juga menunjukkan bahwa kemampuan setiap peserta sangat beragam dan masih jauh dari hasil yang menjanjian. Setelah dilakukan pelatihan intensif (tatap muka) selama 2 hari, hasil yang diperoleh cukup membanggakan. Hasil yang memuaskan ini dilihat dari begitu antusiasnya peserta mengikuti pelatihan dan begitu banyaknya perminta agar UNILA khususnya jurusan matematika bersedia memberikan pembinaan secara intensif kepada para peserta. Peningkatan yang memuaskan juga dapat dilihat dari penyampaian materi dan pembahasan soal-soal olimpiade dapat cerna dengan baik oleh para peserta.























VI. KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil uraian yang dikemukakan dalam bab sebelumnya, dapat dikemukakan beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Kegiatan pelatihan yang dilaksanakan pada tanggal 14 s.d. 15 Maret 2009 bertempat di Jurusan Matematika Universitas Lampung berjalan tertib dan aman.
2. Semua peserta menyatakan mereka merasa terbantu dengan adanya pelatihan olimpiade Matematika.
3. Secara umum penyelenggara kegiatan pelatihan ini memperoleh sambutan yang sangat antusias, baik ketika pelaksanaan survei berupa wawancara dan pertemuan langsung dengan guru dan siswa (ketika diadakan olimpiade Matematika oleh Himpunan Mahasiswa Matematika yang dilaksanakan secara rutin setiap bulan Maret) maupun ketika kegiatan berlangsung. Oleh karena itu hasil kegiatan pelatihan ini memberi hasil yang “sangat baik”.

6.2 Saran

Berdasarkan hasil kegiatan pelatihan ini dan dengan memperhatikan saran dan tanggapan dari para peserta pelatihan maka ada sejumlah saran yang dapat dikemukakan, sebagai berikut :

1. Kegiatan ini dirasakan peserta sangat bermanfaat dalam rangka mempersiapkan siswa-siswa dari Provinsi Lampung, khususnya untuk setiap kabupaten/kota menghadapi serangkaian tahapan seleksi olimpiade Matematika yang akan dilaksanakan pada bulan April (Olimpiade Kabupaten/Kota), Juni (Olimpiade Tingkat Provinsi) dan pada bulan September 2008 (Olimpiade Nasional). Oleh karena itu disarankan agar kiranya Unila dapat mengambil sikap proaktif untuk menindak lanjuti hasil kegiatan ini dengan cara melakukan kegiatan yang sama untuk sekolah-sekolah lain baik yang ada di lingkup kota Bandar Lampung bahkan sampai ke kabupaten-kebupaten yang ada di propinsi Lampung.
2. Mengingat keterbatasan dana yang dimiliki Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat Unila, maka unila perlu menjamin kerjasama konkrit dengan pemerintah Daerah khususnya Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota maupun Provinsi dalam menyelenggarakan kegiatan serupa/sejenis.






































DAFTAR PUSTAKA


1. Ahmad Muchlis, 2003. Partisipasi Indonesia Dalam Olimpiade Matematika Internasional. Disampaikan pada Sosialisasi Forum Jaringan Kerja Pengembangan Olimpiade dan Lomba-Lomba Bidang Keilmuan Matematika. Jurusan Matematika FMIPA Unila. Bandar Lampung.

2. Ahmad Muchlis, 2004. Olimpiade Sainsi Nasional : Matematika SMA. Makalah disampaikan pada pertemuan Forum Jaringan Inovasi Pendidikan untuk Pengembangan Olimpiade dan Lomba-Lomba Keilmuan.

3. Depdikbud. 1996. Pedoman Pelaksanaan Penelitian dan Pengabdian kepada
masyarakat oleh Perguruan Tinggi, Jakarta : Dirjen Dikti.

4. Depdiknas-Dikmenum, 2003. Petunjuk Pelaksanaan Forum Jaringan Kerja Pengembangan Olimpiade dan Lomba-Lomba Keilmuan Tahun 2003. Dep Diknas Dikmenum Bagian Proyek Pengembangan Wawasan Keilmuan. Jakarta.

5. Depdiknas-Dikmenum, 2004. Panduan Pelaksanaan Forum Jaringan Inovasi Pendidikan untuk Pengembangan Olimpiade dan Lomba-Lomba Keilmuan . Dep Diknas Dikmenum Bagian Proyek Pengembangan Wawasan Keilmuan. Jakarta.

6. Soewono, 2004. Harapan dan Kenyataan Prestasi Olimpiade Matematika. Disampaikan pada Pertemuan Kolaborasi dengan Perguruan Tinggi Se-Indonesia. Jakarta.

6. Soewono, 2005. Sumbang Saran Pemikiran Mengenai : Bagaimana Mengajarkan Matematika Kepada Murid-Murid Agar Menyenangkan. Disampaikan kepada Simposium Guru Pendamping Siswa Peserta Olimpiade Sains V Bidang Matematika 2005. Jakarta.


































LAMPIRAN

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Wednesday, January 5, 2011

Posted by anonimus at Wednesday, January 05, 2011
LAPORAN KEGIATAN
PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT












PELATIHAN GURU PEMBINA OLIMPIADE MATEMATIKA SMA TINGKAT KABUPATEN/KOTA
Se- PROVINSI LAMPUNG









Oleh :

Wamiliana, Ph.D.
Amanto, S.Si., M.Si.
Drs. Rudi Ruswandi, M. Si.
Noti Ragayu, S.Si., M.Si.
Subian Saidi, S.Si.








FAKULTAS MATEMATIKA DAN PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS LAMPUNG
2009
PELATIHAN GURU PEMBINA OLIMPIADE MATEMATIKA SMA TINGKAT KABUPATEN/KOTA
Se- PROVINSI LAMPUNG





LAPORAN KEGIATAN
PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT





Oleh :

Wamiliana, Ph.D.
Amanto, S.Si., M.Si.
Drs. Rudi Ruswandi, M. Si.
Noti Ragayu, S.Si., M.Si.
Subian Saidi, S.Si.






Biaya Mandiri Dosen Jurusan Matematika FMIPA Universitas Lampung Tanggal 14 – 15 Maret 2009
\









FAKULTAS MATEMATIKA DAN PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS LAMPUNG
2009

Halaman Pengesahan
Laporan Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat


1. Judul Pengabdian : Pelatihan Guru Pembina Olimpiade
Matematika SMA Tingkat Kabupaten/Kota
Se- Provinsi Lampung

2. Ketua Tim Pelaksana
a. Nama Lengkap : Wamiliana, Ph.D
b. Pangkat, Golongan dan NIP : Pembina Tk. I / IVb / 131815391
c. Jabatan Fungsional : Lektor Kepala
d. Fakultas / Jurusan : MIPA / Matematika
3. Personalia
Jumlah Anggota Pelaksana : 5 Orang
4. Jangka Waktu Pelaksanaan : 13 s.d. 14 Desember 2007
5. Bentuk Kegiatan : Pelatihan
6. Sifat Kegiatan : Penunjang
7. Lokasi Pengabdian : SMA Negeri 5 Bandar Lampung
8. Biaya Yang Diperlukan : ……………..
9. Sumber Biaya : Mandiri


Bandar Lampung, 17 Maret 2009
Mengetahui
Dekan MIPA Unila Ketua Pelaksana,





Dr. Sutyarso, M. Biomed. Wamiliana, Ph.D.
NIP 131689903 NIP. 131815391


Menyetujui,

Ketua Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat
Universitas Lampung




Dr. Budi Koestoro, M.Pd.
NIP. 131129056



KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan limpahan rahmat, taufiq dan ilmu pengetahuan sehingga kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang berjudul “Pelatihan Guru Pembina Olimpiade Matematika SMA Tingkat Kabupaten/KotaSe- Provinsi Lampung” dapat terlaksana.

Target kegiatan ini adalah setelah mengikuti pelatihan peserta memiliki kemampuan dan kemahiran dalam menyelesaikan soal-soal olimpiade Matematika serta dapat menyebarkan (mentransfer) pengetahuan tersebut kepada para siswa dan teman guru lain di lingkungan sekolahnya masing-masing, sehingga diharapkan Provinsi Lampung pada masa-masa yang akan datang memiliki siswa-siswa yang unggul dan berprestasi dalam ajang olimpiade nasional maupun internasional..

Kami menyampaikan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya atas bantuan baik dalam hal material, finansial dan moril kepada :
1. Bapak Ketua Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat Unila yang telah merestui kegiatan ini.
2. Bapak Dekan FMIPA UNILA
3. Ketua Jurusan Matematika
4. Bapak/Ibu guru pembina olimpiade matematika tingkat kabupaten/kota se Provinsi Lampung yang telah berpartisipasi dalam kelancaran kegiatan ini.
5. Seluruh anggota tim (Nara Sumber) serta semua pihak yang telah memberi motivasi dan bantuan moril/spirituil sehingga jalannya kegiatan menjadi lancar, tertib.

Saran dan kritik sangat kami harapkan untuk perbaikan kegiatan di masa yang akan datang. Semoga apa yang telah diperbuat menjadi bermanfaat bagi kehidupan kini dan generasi nanti serta mendapat ridho Allah SWT. Amiieen.



Bandar Lampung, 17 Maret 2009
Ketua Tim Pelaksana,




Wamiliana, Ph.D.
NIP 131815391





DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL ……………………………………………….. i
HALAMAN PENGESAHAN…………………………………………….. iii
KATA PENGANTAR …………………………………………………… iv
DAFTAR ISI ……………………………………………………………….. v
DAFTAR LAMPIRAN …………………………………………...……….. vii

I. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Masalah....…………………………………………..... 1
1.2 Perumusan Masalah …………………………………………………... 3
1.3 Tujuan Kegiatan …………………………………………………….... 3
1.4 Manfaat Kegiatan …………………………………………………….. 3

II. Tinjauan Pustaka
2.1 Forum Pengembangan Olimpiade Matematika..................................... 4
2.2 Institusi dan mekanisme Kerja………………………………………... 5
2.3 Tahapan Seleksi Olimpiade Matematika…………………………….... 7
2.4 Skema Sistem Seleksi dan Pembinaan Olimpiade…………………….. 10
2.5 Karakteristik Soal Olimpiade Matematika...…………………………... 11
2.6 Materi Olimpiade Matematika ...............…………………………….... 11
2.7 Evaluasi Tim IMO Pusat...................................... …………………….. 14


III. Metode Pengabdian…………………………………………………….. 16

IV. Pelaksanaan Kegiatan
4.1 Rangkaian Kegiatan...........…………………………………………..... 17
4.2 Jadwal Kegiatan...... …………………………………………………... 18



V. Hasil dan Pembahasan
5.1 Hasil Yang Diperoleh........…………………………………………..... 19
5.2 Pembahasan............ …………………………………………………... 20

VI. Kesimpulan dan Saran
6.1 Kesimpulan.......................…………………………………………..... 21
6.2 Saran....................... …………………………………………………... 21

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 23
LAMPIRAN

































DAFTAR LAMPIRAN


Halaman
Lampiran 1. Surat Permohonan Sebagai Nara Sumber …..……..................
Lampiran 2. Surat Izin Melaksanakan Kegiatan Pengabdian Kepada
Masyarakat ……………..……………….................................
Lampiran 3. Daftar Hadir Peserta …..…………………………….............
Lampiran 4. Materi Pelatihan ……………….. ……………………………
Lampiran 5. Contoh Soal Latihan…….……………….………...................
Lampiran 6. Berita Foto ..………………………………………………….
Lampiran 7. Contoh Sertifikat Bagi Peserta Pelatihan …………………….

















I. PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Masalah

Mutu sumber daya manusia suatu bangsa tergantung pada mutu pendidikan. Dengan berbagai macam strategi, perbaikan mutu pendidikan diarahkan untuk meningkatkan mutu siswa dalam penguasaan ilmu pengetahuan dasar, penguasaan bahasa asing, dan penanaman sikap dan perilaku yang mencerminkan budi pekerti. Untuk dapat mencapai hal tersebut di atas, Direktorat Pendidikan Menengah Umum terus melakukan berbagai kegiatan pengembangan bakat dan minat siswa SMA/MA melalui kompetisi ilmu pengetahuan dasar, bahasa asing dan kepribadian sejak dari tingkat sekolah, kota/kabupaten, provinsi, nasional sampai dengan internasional (Depdiknas-Dikmenum, 2003).

Sebagai wahana efektif dalam membangun kembali citra positif bangsa Indonesia di masyarakat global, sejak tahun 1998, Departemen Pendidikan Nasional telah memfasilitasi dan mendampingi pelajar Indonesia dalam berbagai olimpiade internasioanl bidang Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, Komputer/Informatika, dan bahkan pada tahun 2003 pertama kali Indonesia mengikuti Olimpiade astronomi. Partisipasi dan keberhasilan siswa dari Indonesia sangat diperhitungkan oleh masyarakat dunia. Kemampuan tim olimpiade Indonesia telah menghasilkan medali emas, perak dan perunggu, serta mendapatkan ‘honorable mention’. Bahkan, Indonesia telah dipercaya oleh masyarakat dunia sebagai penyelenggara Olimpiade Fisika Tingkat Asia yang pertama pada tahun 2000, dan Olimpiade Fisika Internasional ke-33 di Denpasar, Bali pada 22 – 30 Juli 2002 lalu. Bahkan pada tahun 2005, Indonesia akan menjadi tuan rumah Olimpiade Fisika Tingkat Asia keenam (Depdiknas-Dikmenum, 2004).
Indonesia mengikuti IMO untuk pertama kalinya di tahun 1988, yaitu IMO 29 di Canberra, Australia. Sejak itu Indonesia tidak pernah absen mengikuti IMO. Selama 16 kali mengikuti IMO, Indonesia memperoleh 1 medali perak dan 6 medali perunggu, selain sejumlah honorable mention (Ahmad Muchlis, 2003).

Seiring dengan prestasi di atas, maka hal tersebut masih sangat sulit dikejar oleh siswa-siswi yang berasal dari daerah-daerah, khusunya provinsi Lampung. Siswa-siswi dari provinsi Lampung menempati di bawah 60 besar untuk tingkat nasional. Selama 4 tahun terakhir Lampung hanya mengirimkan 1 siswa, itupun karena jatah provinsi, bukan siswa yang memenuhi pasing grade yaitu dengan nilai di atas 26.

Memperhatikan kondisi di atas, yaitu bahwa prestasi siswa-siswi dari provinsi Lampung masih di bawah pasing grade, sungguh merupakan tantangan bagi staf jurusan Matematika FMIPA Unila untuk memberikan pengetahuan dan ketrampilan dalam menyelesaikan soal-soal olimpiade kepada guru, khususnya Guru Menengah Atas di kabupaten/kota se Provinsi Lampung.

Dalam rangkaian Dies Natalis Jurusan Matematika FMIPA Unila yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Matematika (HIMATIKA), para Dosen Jurusan Matematika melalui tim pelaksana Wamiliana, dkk. merasa terpanggil untuk melakukan suatu kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan bekerjasama dengan Lembaga Pengadian kepada Masyarakat Universitas Lampung. Kegiatan yang dimaksud diberi judul “Pelatihan Guru Pembina Olimpiade Matematika SMA Tingkat Kabupaten/KotaSe- Provinsi Lampung” yang penyelenggaraannya berlangsung pada tanggal 14 s.d. 15 Maret 2009 di Jurusan Matematika FMIPA UNILA.







1.2 Perumusan Masalah

Dari kondisi yang dikemukan dalam analisis situasi, permasalahan yang dihadapi para guru di Kota Bandar Lampung adalah masih minimnya pengetahuan mereka terhadap materi olimpiade yang harus diajarkan kepada siswa-siswanya, sebab beberapa materi olimpiade tidak tercakup di kurukulum SMA di Indonesia dan soal olimpiade merupakan soal yang tidak rutin. Maka perlu adanya pelatihan guru pembina olimpiade matematika agar mereka dapat mengantarkan siswa-siswinya berprestasi ewakili provinsi Lampung berlaga di Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Matematika, bahkan ke tingkat Internasional (IMO).

1.3 Tujuan Kegiatan

Kegiatan ini dilaksana dengan tujuan sebagai berikut:
1. Meningkatkan kemampuan dan kemahiran bagi guru pembina dalam menganalisa dan menyelesaikan soal-soal olimpiade Matematika.
2. Para guru pembina olimpiade dapat mentransfer pengetahuan tersebut kepada para siswa dan teman guru lain di lingkungan sekolahnya masing-masing.
3. Untuk mempersiapkan siswa-siswa yang unggul dan berprestasi dalam ajang olimpiade nasional maupun internasional.

1.4 Manfaat Kegiatan

Dengan dilaksanakan kegiatan ini, diharapkan akan diperoleh sebagai berikut:
1. Terwujudnya sinergi antara pengajar Perguruan Tinggi dan Pembina Olimpiade pada kabupaten/kota se Provinsi Lampung dalam hal mempersiapkan siswa didik yang unggul dan mampu memberikan kontribusi terbaik dalam ajang OSN tingkat Nasional maupun Internasional.
2. Memperkenalkan dan memberikan konsep-konsep dasar matematika dan strategi problem solving yang sistematis, logis dan analitis sebagai modal dasar menuju Lampung berdaya saing OSN matematika.


II. TINJAUAN PUSTAKA



2.1 Forum Pengembangan Olimpiade Matematika

Agar kinerja Direktorat Pendidikan Menengah Umum dan tim pembina lebih efektif, kerjasama yang erat antara guru-guru SMA/MA, Dinas Pendidikan Provinsi maupun Kabupaten/Kota dan Perguruan Tinggi merupakan kebutuhan mendesak. Perguruan Tinggi dan Dinas Pendidikan diharapkan dapat membidani kebijakan dan strategi peningkatan mutu pendidikan daerah melalui kegiatan lomba berbagai ilmu pengetahuan. Dan mampu membina guru MIPA dan bahasa di SMA/MA di daerah masing-masing melalui intensifikasi kegiatan MGMP dan maupun kerjasama dalam pembinaan siswa secara langsung pada pelajaran Biologi, Fisika, Kimia, Matematika, dan Informatika, serta Bahasa Asing.

Untuk itu juga diperlukan kolaborasi antarperguruan tinggi, Direktorat Pendidikan Menengah Umum, Dinas Pendidikan Provinsi, dan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, MGMP. Dan MKKS, yang dapat dilembagakan menjadi sebuah Forum Jaringan Kerja Pengembangan Olimpiade dan Lomba-Lomba Keilmuan pada tahun 2003 (Depdiknas-Dikmenum, 2003). Kemudian forum ini pada tahun 2004 berubah nama Forum Jaringan Inovasi Pendidikan untuk Pengembangan Olimpiade dan Lomba-Lomba Keilmuan. Forum ini secara mandiri dapat menentukan intervensi manajemen maupun finansial sesuai dengan sumbar daya daerah masing-masing. Kolaborasi demikian menjadi sangat penting untuk dilakukan dalam rangka menyiapkan calon peserta olimpiade mendatang (Depdiknas-Dikmenum, 2004).


Universitas Lampung telah ditunjuk oleh DIKMENUM sebagai salah satu perguruan tinggi pembina daerah Provinsi Lampung dan Jurusan Matematika FMIPA ditunjuk sebagai pembina bidang Matematika. Agar kolaborasi ini dapat berjalan diperlukan kerjasama yang baik dari berbagai pihak seperti Dinas Pendidikan Provinsi Lampung, Dinas Kabupaten/Kota, MGMP. Dan MKKS se- Provinsi Lampung.

Sebagai langkah awal, kegiatan ini bertujuan untuk menciptakan Forum Jaringan Kerja Pengembangan Olimpiade dan Lomba-loma Keilmuan khususnya bidang matematika dan penyebaranluasan informasi mengenai olimpiade internasional di Provinsi Lampung. Forum ini akan terdiri dari Tim Pembina Daerah Lampung yang akan bekerjasama dengan Direktorat Menengah Umum, Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/Kota, MKKS, dan MGMP.

2.2 Institusi dan Mekanisme Kerja

Institusi yang terlibat dalam olimpiade dan lomba-lomba bidang matematika di antaranya adalah Direktorat Pendidikan Menengah Umum, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Tim Pembina Olimpiade dan lomba-lomba Bidang Matematika, Perguruan Tinggi, Dinas Pendidikan Provinsi, Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, MKKS, dan MGMP.

a. Direktorat Pendidikan Menengah Umum, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah
Bertindak sebagai leading sector dari kegiatan pengembangan wawasan keilmuan bagi siswa SMU pada khususnya dan siswa SLTA pada umumnya.





b. Tim Pembina Olimpiade dan lomba-lomba Bidang Matematika
Tim Pembina Olimpiade dan lomba-lomba Bidang Matematika ditunjuk dan ditetapkan oleh Direktorat Pendidikan Menengah Umum, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, serta bertindak sebagai Pembina Olimpiade dan lomba-lomba Bidang Matematika bagi siswa SMU dan siswa SLTA pada umumnya.

c. Perguruan Tinggi
Perguruan tinggi sebagai mitra kerja Direktorat Pendidikan Menengah Umum dalam pengembangan wawasan keilmuan melakukan kerjasama dalam pencarian dan mengembangkan bakat dan minat siswa SMU pada khususnya dan siswa SLTA pada umumnya serta membina calon guru dan melatih guru yang diharapkan dapat mengembangkan wawasan keilmuan di sekolah masing-masing.

d. Dinas Pendidikan Provinsi
Dinas Pendidikan Provinsi sebagai mitra Direktorat Pendidikan Menengah Umum dalam pengembangan wawasan keilmuan melalui pelaksanaan pencarian siswa-siswa (mulai dari SD, SLTP, hingga SLTA) yang berminat dan berbakat dalam bidang Matematika, Fisika, Biologi, Kimia, Komputer, Bahasa Asing dan bidang penelitian melalui berbagai lomba. Dinas peniddikan Provinsi juga bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, MKKS dan MGMP di provinsi, serta perguruan tinggi yang ada di Provinsi.

e. Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota
Merupakan mitra Direktorat Pendidikan Menengah Umum dalam pengembangan wawasan keilmuan melalui pelaksanaan pencarian siswa-siswa siswa (mulai dari SD, SLTP, hingga SLTA) yang berminat dan berbakat dalam bidang Matematika, Fisika, Biologi, Kimia, Komputer, Bahasa Asing dan bidang penelitian melalui berbagai lomba. Dinas peniddikan Kabupaten/Kota juga bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Provinsi, MKKS dan MGMP di Kabupaten/Kota, serta perguruan tinggi.
f. Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS)
Merupakan sarana sharing information and knowledge di kalangan kepala sekolah, dimulai dari tingkat SD, SLTP, dan SLTA khususnya SMU dan media bagi diseminasi program pengembangan wawasan keilmuan di kalangan siswa SMU pada khususnya dan siswa SLTA pada umumnya.


g. Musyawarah Kerja Guru Mata Pelajaran (MGMP)
Merupakan sarana sharing information and knowledge di kalangan guru-guru mulai dari SD, SLTP hingga SLTA khususnya khususnya guru-guru mata pelajaran Matematika, dan guru Pembina Kelompok Ilmiah Remaja di SMU serta merupakan ujung tombak bagi diseminasi program pengembangan wawasan keilmuan, pencarian dan pembinaan bagi siswa-siswa SD, SLTP, dan SLTA yang berbakat dan berminat pada bidang keilmuan, khususnya siswa SMU dan siswa SLTA pada umumnya.

2.3 Tahapan Seleksi Olimpiade Matematika
Sebelum sampai ke Olimpiade Sains Nasional (OSN) Bidang Matematika dilakukan seleksi secara bertingkat dan dilanjutkan dengan pembinaan.
Tahapan seleksi olimpiade adalah sebagai berikut (Depdiknas-Dikmenum, 2004) :
Tahap Pertama (Seleksi Tingkat Sekolah)
Sekolah diberi kesempatan melakukan proses seleksi untuk mengambil siswa terbaiknya. Dari hasil seleksi, sekolah mengirimkan siswa terbaiknya untuk mengikuti seleksi ke tingkat kabupaten/kota.

Tahap Kedua (Olimpiade Kabupaten/Kota)
Merupakan proses seleksi di tingkat kabupaten/kota yang diikuti oleh siswa hasil seleksi dari setiap sekolah baik negeri maupun swasta yang ada di kabupaten/kota. Tahap ini pelaksanaannya diadakan pada akhir bulan April. Dua siswa terbaik hasil seleksi setiap sekolah dikirim ke tingkat kabupaten/kota untuk mengikuti tes seleksi di kabupaten/kota.
Dalam tiga tahun terakhir ini, soal seleksi dipersiapkan oleh pusat, sementara pelaksanaan (termasuk penilaian dan penentuan wakil terpilih) dilakukan sepenuhnya oleh daerah. Penyusunan soal seleksi tingkat kabupaten/kota ini terbuka untuk diambil alih kolaborator (Perguruan Tinggi dan Dinas). Sudah tentu perlu dilakukan koordinasi dengan dinas pendidikan dan MGMP yang selama ini terlibat.
Tahap Ketiga (Olimpiade Provinsi)
Merupakan seleksi di tingkat provinsi yang dilaksanakan di Kantor Dinas Provinsi. Calon peserta seleksi merupakan hasil seleksi yang terbaik dari setiap kabupaten/kota yang ada di wilayah provinsi dan setiap kabupaten/kota mengirimkan siswa dengan jumlah maksimal 5 calon pada setiap olimpiade, kecuali ada pertimbangan tertentu.

Tahap Keempat (Olimpiade Nasional)
Merupakan seleksi nasional yang diikuti oleh siswa hasil seleksi yang terbaik dari provinsi yang telah disaring dan dipilih oleh tim yang terdiri dari unsur perguruan tinggi dan pembina yang sesuai dengan bidang keahliannya masing-masing.
Penyusunan soal, penilaian dan penentuan hasil seleksi dilakukan oleh pusat. Dalam tiga tahun terakhir ini, format seleksi sudah terbakukan. Seleksi terdiri dari dua bagian yang dilaksanakan dalam satu hari.

Penilaian dilakukan dalam dua tahap. Mula-mula, penilaian dilakukan terhadap pekerjaan bagian pertama untuk semua peserta. Penentuan peserta yang akan diundang untuk mengikuti OSN bidang MIPA SMA dimulai dengan menetapkan seorang peserta terbaik untuk setiap propinsi. Peserta lain dipilih berdasarkan peringkat nasional untuk menggenapkan jumlah siswa yang diundang menjadi 80-90 orang. Batas nilai minimal untuk diundang dapat ditetapkan berbeda untuk kelas yang berbeda.

Dalam melaksanakan seleksi tingkat provinsi ditemui kendala menyangkut waktu seleksi ketika sejumlah provinsi mengundurkan tanggl seleksi. Ini menjadi masalah karena seluruh peserta seleksi mengerjakan soal yang sama, sehingga terbuka kemungkinan peserta yang menjalani seleksi belakangan memperoleh keuntungan yang tidak wajar. Untuk memberikan rangsangan berprestasi, sedang dipertimbvangkan untuk memberikan kuota jumlah peserta yang boleh mengikuti seleksi di tingkat propinsi. Kuota ini diberikan berdasarkan prestasi provinsi di tahun-tahun sebelumnya. Supaya kesempatan bagi siswa SMA masih tetap terbuka luas, perlu disisipkan suatu seleksi lagi di antara seleksi kota/kabupaten dengan seleksi provinsi. Dengan skenario ini, seleksi sisipan menjadi seleksi tingkat provinsi, sedangkan seleksi propinsi sebelumnya menjadi seleksi nasional. Kemudian, pengambilalihan seleksi kota/kabupaten oleh propinsi memungkinkan seluruh proses dimulai lebih awal pada setiap tahunnya.

Tahap Kelima (Pembinaan Tahap Pertama)
Dari seleksi nasional akan dipilih sebanyak lebih kurang 30 siswa terbaik untuk dibina selama lebih kurang satu bulan. 30 siswa terbaik ini mendapat medali dengan aturan sebagai berikut.
■ Peringkat 1 – 5, mendapat medali emas
■ Peringkat 6 – 15, mendapat medali perak
■ Peringkat 16 – 30, mendapat medali perunggu
Materi pembinaan yang diberikan disesuaikan dengan materi IMO yang mencakup materi-materi dasar dalam aljabar, geometri, kombinatorika dan teori bilangan, khususnya yang tidak tercakup dalam kurikulum matematika sekolah di Indonesia. Selain itu juga diberikan teknik-teknik dasar dalam pemecahan masalah.

Tahap Keenam (Pembinaan Tahap Kedua/Pembinaan Khusus)
Dari hasil pembinaan tahap pertama akan diseleksi (dipilih) 10 s.d. 15 siswa calon peserta yang akan dibina secara khusus selama lebih kurang 3-4 minggu. Dari pembinaan khusus akan dipilih 4 s.d. 6 peserta yang akan mewakili Indonesia dalam Olimpiade Matematika Internasional (IMO). Akhirnya siswa ini akan mendapatkan tempaan lagi sel;ama 10 hari menjelang keberangkatan mengikuti IMO. Dalam tahap ini dilakukan pengkondisian agar anggota tim siap menghadapi tes IMO.
Seluruh kegiatan persiapan dan pemberangkatan Tim IMO Indonesia dilakukan di bawah kendali Direktorat Pendidikan Menengah Umum (Dikmenum), Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen), dan Departemen Pendidikan Nasional. Aspek akademis dikelola oleh suatu tim pembina yang pada saat ini terdiri dari :

2.4 Skema sistem seleksi dan pembinaan olimpiade bidang Matematika
(Soewono, 2004)




















2.5 Karakteristik Soal Olimpiade Matematika

Orientasi soal olimpiade matematika adalah pemecahan masalah (problem solving) dengan karakteristik :
• Tidak rutin (terdapat modifikasi logika)
• Memerlukan pengetahuan sekolah menengah, tetapi memerlukan kematangan
matematika lanjut, yaitu :
• Wawasan
• Kecermatan
• Kejelian
• Kecerdikan, dan
• Pengalaman
• Jawaban soal olimpiade harus memuat gagasan matematika, tidak boleh
menuliskan fakta yang sudah diketahui atau manipulasi aljabar
Pada setiap tahapan seleksi olimpiade yang ingin dilihat adalah kemampuan siswa untuk menyelesaikan masalah yang tidak rutin. Ini berarti bahwa siswa yang akan berhasil adalah siswa yang dapat menggunakan materi yang telah dipelejarinya di sekolah secara kreatif untuk menyelesaikan soal-soal yang diberikan. Untuk itu penilai akan melihat bagaimana siswa menangani soal yang diberikan dan bagaimana pula siswa menyajikan penyelesaian soal.

2.6 Materi Olimpiade Matematika

1. Kisi-Kisi

Soal seleksi olimpiade matematika baik dari tingkat kabupaten/kota, provinsi dan nasional disesuaikan dengan soal-soal Olimpiade Tingkat Internasional (IMO), yang dikelompokkan dalam 4 (empat) bidang (Soewono, 2005) :
 Aljabar (Algebra)
• Sistem persamaan non linear
• Persamaan fungsi
• Pertidaksamaan
 Geometri (Geometry)
• Geometri bidang (segitiga, lingkaran, segibanyak)
• Kongruensi dan kolinearitas
• Teorema: Euler, Ptolemy, Ceva dan Menelaus

 Kombinatorik (Combinatorics)
Teori yang digunakan untuk menyelesaian masalah :
• Permutasi
• Kombinasi
• Basic Counting Principles
• Konsep Pigeonhole (Pigeonhole Principle)
• Prinsip Inklusi dan Eksklusi

 Teori Bilangan (Number Theory)
• Keterbagian Bilangan bulat
• Relasi Kongruensi Modulo m (Congruence Relation Modulo m)
• Teorema Fermat dan Euler
• Fungsi Bilangan Bulat Terbesar
• Fungsi Aritmatika

2. Distribusi Soal

a. Olimpiade Internasional (IMO)
Soal olimpiade dipilih oleh dewan juri dan berasal dari soal-soal yang diusulkan oleh negara-negara peserta.
Dewan juri terdiri dari :
 Pemimpin (leader) semua negara
 Juri eksekutif dari negara tuan rumah
Dilaksanakan 2 hari, setiap hari 3 soal dengan rincian
1. Hari pertama, terdapat tiga soal (waktu 4.5 jam)
1. Soal mudah, nilai maksimum 7
2. Soal sedang, nilai maksimum 7
3. Soal sukar, nilai maksimum 7
2. Hari kedua, terdapat tiga soal (waktu 4.5 jam)
1. Soal mudah, nilai maksimum 7
2. Soal sedang, nilai maksimum 7
3. Soal sukar, nilai maksimum 7
Sehingga setiap peserta maksimum mendapatkan nilai 42.
Karena setiap negara maksimum megirimkan 6 peserta, maka setiap negra maksimum mendapatkan nilai 252.

b. Olimpiade Sains Matematika Tingkat Nasional
Dilaksanakan selama dua hari,
1. Hari Pertama : Terdiri dari 4 soal, yang terdiri dari soal teori bilangan, geometri, aljabar dan kombinatorik (masing-masing 1 soal) dan waktu mengerjakan 3 jam.
2. Hari Kedua : Terdiri dari 4 soal (lebih sulit dari hari pertama), yang terdiri dari soal teori bilangan, geometri, aljabar dan kombinatorik (masing-masing 1 soal) dan waktu mengerjakan 3 jam.

c. Seleksi Peserta Olimpiade Tingkat Provinsi
Soal terdiri dari dua bagian :
20 soal isian singkat dengan waktu 90 menit, setiap jawaban yang benar diberikan nilai 1. Hasil nilai pada bagian pertama ini menentukan untuk dapat dikoreksi pada bagian kedua, yaitu nilai pada bagian pertama minimal 7 baru dapat masuk ke tahap soal kedua.
5 soal uraian dengan waktu 120 menit, setiap soal yang benar diberikan nilai 7.




d. Seleksi Peserta Olimpiade Tingkat Tingkat Kabupaten/Kota
Soal terdiri dari 20 soal dan dikerjakan dalam waktu 120 menit, meliputi 10 pilihan ganda (1 soal maksimum diberi nilai 6, minimum 1 (soal tanpa jawaban) dan 10 soal isian singkat (setiap soal maksimum diberi nilai 9).

2.7 Evaluasi Tim IMO Pusat

Berikut ini akan diberikan catatan penting berupa evaluasi oleh tim IMO pusat. Dari pengalaman mengikuti IMO, tampak bahwa siswa Indonesia pada dasarnya memiliki kemampuan untuk berkompetisi matematika pada tingkat tinggi. Sekalipun demikian, untuk berprestasi baik mereka terhambat oleh sejumlah kelemahan. Kelemahan pertama menyangkut kemampuan kerja matematika. Dalam kategori ini, yang paling terasa adalah kekurangmampuan siswa kita mengemukanan jawaban secara baik (sistematis, argumentatif, jelas), meskipun mereka mendapatkan jawabannya. Dapat diduga bahwa kelemahan ini merupakan cermin dari pengajaran matematika sekolah di Indonesia dan merupakan dampak dari perhatian yang keliru terhadap UMPTN atau SPMB (Ahmad Muchlis, 2004).

Kelemahan kedua menyangkut sikap dan kebiasaan. Sikap skeptis yang mencerminkan kebutuhan akan pembuktian jarang tampak pada siswa kita. Siswa kita tidak terbiasa untuk memeriksa secara teliti kebenaran hasil yang mereka peroleh. Kelemahan lain terkait dengan materi IMO. Cakupan soal IMO ummumnya lebih luas dari pada kurikulum kita. Selain materi yang tidak tercakup dalam kurikulum, untuk dapat menyelesaikan soal IMO dibutuhkan pemahaman konseptual yang baik. Hal terakhir ini tidak memperoleh perhatian yang cukup dalam kurikulum kita.

Kemampuan yang dibutuhkan tersebut sebetulnya dapat ditumbuhkan melalui pembiasaan. Siswa potensial perlu membiasakan diri untuk memberikan argumentasi terhadap hasil yang diperoleh, untuk tidak segera puas dengan jawaban berupa dugaan. Untuk dapat menumbuhkan kebiasaan demikian, siswa perlu terbiasa dengan usaha untuk memperoleh pemahaman mendalam terhadap konsep-konsep matematika, bukan skadar mampu menghitung.

Uraian di atas membawa kita kepada kelemahan lain pada siswa kita, kelemahan yang bersifat bukan-matematika. Pertama, soal motivasi. Untuk dapat mewujudkan tuntutan-tuntutan di atas, siswa perlu memiliki motivasi yang cukup. Mengapa saya perlu memenuhi tuntutan-tuntutan tersebut, padahal tanpa itu saya bisa diterima di perguruan tinggi terkemuka ? Begitu mungkin siswa akan bertanya. Kompetisi matematika dapat memberikan jawaban, tetapi hanya sebagian. Pada tingkat tinggi, penghargaan dari luar diri (external reward) tidak cukup. Seorang juara memerlukan internal reward; dalam konteks kita ini mencakup kepuasan dapat menyelesaikan soal yang sukar. Motivasi yang tumbuh karena kebutuhan akan internal reward ini akan mendorong siswa untuk berani mengambil inisiatif. Tertalu jauh juga kita untuk berharap agar mereka dapat menutupi kelemahan-kelemahan tersebut atas usaha sendiri. Kesempatan perlu disediakan guru, oleh guru, sekolah, birokrasi pendidikan, dan pihak-pihak lain yang berkepentingan dengan peningkatan mutu pendidikan.
















III. METODE PENGABDIAN


Dalam pelaksanaan pelatihan ini, metode yang digunakan adalah sebagai berikut:

1. Metode curah-pendapat (sharing opinion)
Pada metode ini, peserta yang merupakan pembina olimpiade yang berasal dari kabupaten/kota se Provinsi Lampung diminta pendapatnya tentang kendala-kendala yang dialami oleh para pembina maupun siswa dalam mempersiapkan diri mengikuti olimpiade matematika. Pada sesi ini digagas tentang kerangka pemecahan masalah dan strategi penyelesaian soal-soal olimpiade secara umum.

2. Metode Ceramah
Pada metode ini, nara sumber secara bergantian menyampai konsep-konsep dasar penyelesaian soal-soal olimpiade. Materi olimpiade yang disampaikan meleputi: Teori bilangan, kombinatorik, aljabar dan geometri.

3. Metode Simulasi Pemecahan Masalah (problem solving)
Melalui metode ini, para peserta diberikan waktu untuk menyelesaikan soal-soal sesuai dengan materi yang telah disampaikan. Diakhir sesi, nara sumber membahas soal-soal yang telah dikerjakan peserta dan peserta memeriksa jawaban mereka.

4. Metode Diskusi
Dalam metode ini, para peserta diberikan kesempatan untuk menyampaikan pertanya-pertanyaan mengenai soal-soal olimpiade yang belum dipecahkan dan mendiskusikannya bersama nara sumber.





IV. PELAKSANAAN KEGIATAN

4.1 Rangkaian Kegiatan

Kegiatan pelatihan guru pembina olimpiade matematika ini dilaksanakan di jurusan Matematika FMIPA Universitas Lampung, pada tanggal 14-15 Maret 2009. Kegiatan ini merupakan bentuk Pengabdian Kepada Masyarakat yang dilaksanakan oleh dosen Jurusan Matematika FMIPA UNILA. Rangkaian kegiatan yang dilakukan sebagai berikut :
1. Mempersiapkan materi yang berkenaan dengan Teori Bilangan, Kombinatorika, Aljabar, dan Geometri. Materi dan jadwal disampaikan pada saat pelatihan dimulai. Isi materi telah dipersiapkan jauh sebelum pelatihan dimulai yang ruang lingkupnya berdasarkan hasil survey dan jawaban kuesioner yang telah dikembalikan. Ini dimaksudkan agar kegiatan lebih terarah pada persoalan yang dihadapi oleh peserta dan tujuan yang ingin dicapai penyelenggara.
2. Setelah pembukaan pelatihan, dilakukan curah-pendapat (sharing opinion) kepada para peserta terkait tentang kendala dan hambatan yang dirasakan dalam membina olimpiade kepada siswa. Selain itu juga digali sejauhmana penguasaan peserta terhadap soal-soal olimpiade. Hasil dari curah pendapat ini juga sebagai bahan perbandingan bagi seluruh peserta yang berasal dari kabupaten/kota se Provinsi Lampung.
3. Penyampaian materi oleh nara sumber dalam bentuk ceramah, diskusi dan latihan soal olimpiade. Adapun penyajian materi dibagi dalam 4 session sebagai berikut :
• Pada session pertama Teori Bilangan. Pada session ini ada sebagian peserta yang sudah menguasai dasar-dasar Teori Bilangan, tetapi untuk materi lanjutan sebagian besar guru belum menguasai.
• Pada session kedua, materi yang disampaikan Kombinatorika. Pada session ini ada sebagian peserta yang sudah menguasai dasar-dasar materi Kombinatorika.
• Pada session ketiga Aljabar. Pada session ini ada sebagian peserta besar peserta belum menguasai materi persamaan fungsional.
• Pada session keempat, materi yang disampaikan Geometri. Pada session ini hampir semua peserta belum menguasai materi dengan baik dan benar.

4.2 Jadwal Kegiatan

Pelaksanaan kegiatan diselenggarakan sesuai jadwal yang telah disusun yaitu :

Hari dan Tanggal Waktu Acara Nara Sumber
Sabtu,
14 Maret 2009
07.15 – 08.00
08.00 – 09.00

09.00 – 09.15
09.15 – 11.45
11.45 – 13.00
13.00 – 14.30
14.30 – 16.00
16.00 - 16.15
16.15 – 17.45
Check in peserta dan Pembukaan
Sharing Opinion
“Strategi Olimpiade Matematika”
Rehat
Teori Bilangan
Ishoma
Kombinatorika
Aljabar
Rehat
Geometri
Panitia

Wamiliana, Ph.D.
Panitia
Amanto, S.Si., M.Si.
Panitia
Rudi Ruswandi, M.Si.
Noti Ragayu, M.Si.
Panitia
Subian Saidi, S.Si.
Minggu,
15 Maret 2009 07.30 – 09.00
09.00 – 09.15
09.15 – 10.45
10.45 – 12.15
12.15 – 13.15
13.15 – 15.45
15.45 – 16.00
16.00 – 17.00
17.00 – 17.30 Problem Solving soal olimpiade
Rehat
Teori Bilangan
Kombinatorika
Ishoma
Aljabar
Geometri
Diskusi/tanya jawab
Penutupan Subian Saidi, S.Si.
Panitia
Amanto, S.Si., M.si.
Wamiliana, Ph.D.
Panitia
Noti Ragayu, M.Si.
Rudi Ruswandi, M.Si.
Amanto, S.Si., M.si.
Panitia







V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil Yang Diperoleh

Hasil yang diperoleh dalam kegiatan Pelatihan Guru Pembina Olimpiade Matematika Tingkat SMU kabupaten/kota se Provinsi Lampung diperoleh informasi sebagai berikut :
1. Perhatian peserta sangat baik terhadap jalannya kegiatan hal ini ditandai dengan rasa antusias mereka pada saat pelatihan. Pertanyaan yang disampaikan nara sumber direspon dengan baik walaupun tidak semua pertanyaan dijawab dengan jawaban bernilai benar.

2. Penyampaian strategi pembinaan olimpiade Matematika sangat penting, sebab olimpiade Matematika merupakan ajang kompetisi. Soal olimpiade merupakan soal tidak rutin, sehingga dalam pengerjaannya diperlukan strategi yang khusus juga.

3. Dari hasil simulasi penyelesaian soal-soal olimpiade yang diberikan, menunjukkan sebagian besar guru belum terbiasa mengerjakan soal olimpiade, hal ini karena soal olimpiade tidak mudah dan mungkin penghargaan (reward) kepada guru dan siswa yang menekuni olimpiade masih kurang.

4. Materi Teori bilangan termasuk materi yang lebih mudah dibandingkan dengan materi lainnya. Sedangkan materi Geometri merupakan materi yang paling sulit dirasakan oleh guru dan siswa. Tetapi dalam penyampaian materi dilakukan secara merata, karena bobot penilaian maupun distribusi soal terhadap keempat bidang, yaitu Teori Bilangan, Kombinatorika, Aljabar dan Geometri adalah sama.





5.2 Pembahasan

Berdasarkan hasil kegiatan pelatihan yang diperoleh seperti tersebut di atas ada beberapa hal yang perlu dijelaskan sebagai berikut :
Jika dilihat dari kondisi awal kita dapat jelas bahwa ada sebagian besar peserta belum memahami tentang strategi pembinaan olimpiade khususnya kepada siswa didik masing-masing. Hal ini tercermin begitu banyaknya permasalahan yang disampaikan oleh peserta tentang kendala-kendala dalam membina olimpiade, mulai dari SDM, sarana prasarana maupun finansial. Hasil simulasi yang telah diberikan juga menunjukkan bahwa kemampuan setiap peserta sangat beragam dan masih jauh dari hasil yang menjanjian. Setelah dilakukan pelatihan intensif (tatap muka) selama 2 hari, hasil yang diperoleh cukup membanggakan. Hasil yang memuaskan ini dilihat dari begitu antusiasnya peserta mengikuti pelatihan dan begitu banyaknya perminta agar UNILA khususnya jurusan matematika bersedia memberikan pembinaan secara intensif kepada para peserta. Peningkatan yang memuaskan juga dapat dilihat dari penyampaian materi dan pembahasan soal-soal olimpiade dapat cerna dengan baik oleh para peserta.























VI. KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil uraian yang dikemukakan dalam bab sebelumnya, dapat dikemukakan beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Kegiatan pelatihan yang dilaksanakan pada tanggal 14 s.d. 15 Maret 2009 bertempat di Jurusan Matematika Universitas Lampung berjalan tertib dan aman.
2. Semua peserta menyatakan mereka merasa terbantu dengan adanya pelatihan olimpiade Matematika.
3. Secara umum penyelenggara kegiatan pelatihan ini memperoleh sambutan yang sangat antusias, baik ketika pelaksanaan survei berupa wawancara dan pertemuan langsung dengan guru dan siswa (ketika diadakan olimpiade Matematika oleh Himpunan Mahasiswa Matematika yang dilaksanakan secara rutin setiap bulan Maret) maupun ketika kegiatan berlangsung. Oleh karena itu hasil kegiatan pelatihan ini memberi hasil yang “sangat baik”.

6.2 Saran

Berdasarkan hasil kegiatan pelatihan ini dan dengan memperhatikan saran dan tanggapan dari para peserta pelatihan maka ada sejumlah saran yang dapat dikemukakan, sebagai berikut :

1. Kegiatan ini dirasakan peserta sangat bermanfaat dalam rangka mempersiapkan siswa-siswa dari Provinsi Lampung, khususnya untuk setiap kabupaten/kota menghadapi serangkaian tahapan seleksi olimpiade Matematika yang akan dilaksanakan pada bulan April (Olimpiade Kabupaten/Kota), Juni (Olimpiade Tingkat Provinsi) dan pada bulan September 2008 (Olimpiade Nasional). Oleh karena itu disarankan agar kiranya Unila dapat mengambil sikap proaktif untuk menindak lanjuti hasil kegiatan ini dengan cara melakukan kegiatan yang sama untuk sekolah-sekolah lain baik yang ada di lingkup kota Bandar Lampung bahkan sampai ke kabupaten-kebupaten yang ada di propinsi Lampung.
2. Mengingat keterbatasan dana yang dimiliki Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat Unila, maka unila perlu menjamin kerjasama konkrit dengan pemerintah Daerah khususnya Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota maupun Provinsi dalam menyelenggarakan kegiatan serupa/sejenis.






































DAFTAR PUSTAKA


1. Ahmad Muchlis, 2003. Partisipasi Indonesia Dalam Olimpiade Matematika Internasional. Disampaikan pada Sosialisasi Forum Jaringan Kerja Pengembangan Olimpiade dan Lomba-Lomba Bidang Keilmuan Matematika. Jurusan Matematika FMIPA Unila. Bandar Lampung.

2. Ahmad Muchlis, 2004. Olimpiade Sainsi Nasional : Matematika SMA. Makalah disampaikan pada pertemuan Forum Jaringan Inovasi Pendidikan untuk Pengembangan Olimpiade dan Lomba-Lomba Keilmuan.

3. Depdikbud. 1996. Pedoman Pelaksanaan Penelitian dan Pengabdian kepada
masyarakat oleh Perguruan Tinggi, Jakarta : Dirjen Dikti.

4. Depdiknas-Dikmenum, 2003. Petunjuk Pelaksanaan Forum Jaringan Kerja Pengembangan Olimpiade dan Lomba-Lomba Keilmuan Tahun 2003. Dep Diknas Dikmenum Bagian Proyek Pengembangan Wawasan Keilmuan. Jakarta.

5. Depdiknas-Dikmenum, 2004. Panduan Pelaksanaan Forum Jaringan Inovasi Pendidikan untuk Pengembangan Olimpiade dan Lomba-Lomba Keilmuan . Dep Diknas Dikmenum Bagian Proyek Pengembangan Wawasan Keilmuan. Jakarta.

6. Soewono, 2004. Harapan dan Kenyataan Prestasi Olimpiade Matematika. Disampaikan pada Pertemuan Kolaborasi dengan Perguruan Tinggi Se-Indonesia. Jakarta.

6. Soewono, 2005. Sumbang Saran Pemikiran Mengenai : Bagaimana Mengajarkan Matematika Kepada Murid-Murid Agar Menyenangkan. Disampaikan kepada Simposium Guru Pendamping Siswa Peserta Olimpiade Sains V Bidang Matematika 2005. Jakarta.


































LAMPIRAN

0 comments on " "

Post a Comment

Wednesday, January 5, 2011


LAPORAN KEGIATAN
PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT












PELATIHAN GURU PEMBINA OLIMPIADE MATEMATIKA SMA TINGKAT KABUPATEN/KOTA
Se- PROVINSI LAMPUNG









Oleh :

Wamiliana, Ph.D.
Amanto, S.Si., M.Si.
Drs. Rudi Ruswandi, M. Si.
Noti Ragayu, S.Si., M.Si.
Subian Saidi, S.Si.








FAKULTAS MATEMATIKA DAN PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS LAMPUNG
2009
PELATIHAN GURU PEMBINA OLIMPIADE MATEMATIKA SMA TINGKAT KABUPATEN/KOTA
Se- PROVINSI LAMPUNG





LAPORAN KEGIATAN
PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT





Oleh :

Wamiliana, Ph.D.
Amanto, S.Si., M.Si.
Drs. Rudi Ruswandi, M. Si.
Noti Ragayu, S.Si., M.Si.
Subian Saidi, S.Si.






Biaya Mandiri Dosen Jurusan Matematika FMIPA Universitas Lampung Tanggal 14 – 15 Maret 2009
\









FAKULTAS MATEMATIKA DAN PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS LAMPUNG
2009

Halaman Pengesahan
Laporan Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat


1. Judul Pengabdian : Pelatihan Guru Pembina Olimpiade
Matematika SMA Tingkat Kabupaten/Kota
Se- Provinsi Lampung

2. Ketua Tim Pelaksana
a. Nama Lengkap : Wamiliana, Ph.D
b. Pangkat, Golongan dan NIP : Pembina Tk. I / IVb / 131815391
c. Jabatan Fungsional : Lektor Kepala
d. Fakultas / Jurusan : MIPA / Matematika
3. Personalia
Jumlah Anggota Pelaksana : 5 Orang
4. Jangka Waktu Pelaksanaan : 13 s.d. 14 Desember 2007
5. Bentuk Kegiatan : Pelatihan
6. Sifat Kegiatan : Penunjang
7. Lokasi Pengabdian : SMA Negeri 5 Bandar Lampung
8. Biaya Yang Diperlukan : ……………..
9. Sumber Biaya : Mandiri


Bandar Lampung, 17 Maret 2009
Mengetahui
Dekan MIPA Unila Ketua Pelaksana,





Dr. Sutyarso, M. Biomed. Wamiliana, Ph.D.
NIP 131689903 NIP. 131815391


Menyetujui,

Ketua Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat
Universitas Lampung




Dr. Budi Koestoro, M.Pd.
NIP. 131129056



KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan limpahan rahmat, taufiq dan ilmu pengetahuan sehingga kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang berjudul “Pelatihan Guru Pembina Olimpiade Matematika SMA Tingkat Kabupaten/KotaSe- Provinsi Lampung” dapat terlaksana.

Target kegiatan ini adalah setelah mengikuti pelatihan peserta memiliki kemampuan dan kemahiran dalam menyelesaikan soal-soal olimpiade Matematika serta dapat menyebarkan (mentransfer) pengetahuan tersebut kepada para siswa dan teman guru lain di lingkungan sekolahnya masing-masing, sehingga diharapkan Provinsi Lampung pada masa-masa yang akan datang memiliki siswa-siswa yang unggul dan berprestasi dalam ajang olimpiade nasional maupun internasional..

Kami menyampaikan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya atas bantuan baik dalam hal material, finansial dan moril kepada :
1. Bapak Ketua Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat Unila yang telah merestui kegiatan ini.
2. Bapak Dekan FMIPA UNILA
3. Ketua Jurusan Matematika
4. Bapak/Ibu guru pembina olimpiade matematika tingkat kabupaten/kota se Provinsi Lampung yang telah berpartisipasi dalam kelancaran kegiatan ini.
5. Seluruh anggota tim (Nara Sumber) serta semua pihak yang telah memberi motivasi dan bantuan moril/spirituil sehingga jalannya kegiatan menjadi lancar, tertib.

Saran dan kritik sangat kami harapkan untuk perbaikan kegiatan di masa yang akan datang. Semoga apa yang telah diperbuat menjadi bermanfaat bagi kehidupan kini dan generasi nanti serta mendapat ridho Allah SWT. Amiieen.



Bandar Lampung, 17 Maret 2009
Ketua Tim Pelaksana,




Wamiliana, Ph.D.
NIP 131815391





DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL ……………………………………………….. i
HALAMAN PENGESAHAN…………………………………………….. iii
KATA PENGANTAR …………………………………………………… iv
DAFTAR ISI ……………………………………………………………….. v
DAFTAR LAMPIRAN …………………………………………...……….. vii

I. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Masalah....…………………………………………..... 1
1.2 Perumusan Masalah …………………………………………………... 3
1.3 Tujuan Kegiatan …………………………………………………….... 3
1.4 Manfaat Kegiatan …………………………………………………….. 3

II. Tinjauan Pustaka
2.1 Forum Pengembangan Olimpiade Matematika..................................... 4
2.2 Institusi dan mekanisme Kerja………………………………………... 5
2.3 Tahapan Seleksi Olimpiade Matematika…………………………….... 7
2.4 Skema Sistem Seleksi dan Pembinaan Olimpiade…………………….. 10
2.5 Karakteristik Soal Olimpiade Matematika...…………………………... 11
2.6 Materi Olimpiade Matematika ...............…………………………….... 11
2.7 Evaluasi Tim IMO Pusat...................................... …………………….. 14


III. Metode Pengabdian…………………………………………………….. 16

IV. Pelaksanaan Kegiatan
4.1 Rangkaian Kegiatan...........…………………………………………..... 17
4.2 Jadwal Kegiatan...... …………………………………………………... 18



V. Hasil dan Pembahasan
5.1 Hasil Yang Diperoleh........…………………………………………..... 19
5.2 Pembahasan............ …………………………………………………... 20

VI. Kesimpulan dan Saran
6.1 Kesimpulan.......................…………………………………………..... 21
6.2 Saran....................... …………………………………………………... 21

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 23
LAMPIRAN

































DAFTAR LAMPIRAN


Halaman
Lampiran 1. Surat Permohonan Sebagai Nara Sumber …..……..................
Lampiran 2. Surat Izin Melaksanakan Kegiatan Pengabdian Kepada
Masyarakat ……………..……………….................................
Lampiran 3. Daftar Hadir Peserta …..…………………………….............
Lampiran 4. Materi Pelatihan ……………….. ……………………………
Lampiran 5. Contoh Soal Latihan…….……………….………...................
Lampiran 6. Berita Foto ..………………………………………………….
Lampiran 7. Contoh Sertifikat Bagi Peserta Pelatihan …………………….

















I. PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Masalah

Mutu sumber daya manusia suatu bangsa tergantung pada mutu pendidikan. Dengan berbagai macam strategi, perbaikan mutu pendidikan diarahkan untuk meningkatkan mutu siswa dalam penguasaan ilmu pengetahuan dasar, penguasaan bahasa asing, dan penanaman sikap dan perilaku yang mencerminkan budi pekerti. Untuk dapat mencapai hal tersebut di atas, Direktorat Pendidikan Menengah Umum terus melakukan berbagai kegiatan pengembangan bakat dan minat siswa SMA/MA melalui kompetisi ilmu pengetahuan dasar, bahasa asing dan kepribadian sejak dari tingkat sekolah, kota/kabupaten, provinsi, nasional sampai dengan internasional (Depdiknas-Dikmenum, 2003).

Sebagai wahana efektif dalam membangun kembali citra positif bangsa Indonesia di masyarakat global, sejak tahun 1998, Departemen Pendidikan Nasional telah memfasilitasi dan mendampingi pelajar Indonesia dalam berbagai olimpiade internasioanl bidang Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, Komputer/Informatika, dan bahkan pada tahun 2003 pertama kali Indonesia mengikuti Olimpiade astronomi. Partisipasi dan keberhasilan siswa dari Indonesia sangat diperhitungkan oleh masyarakat dunia. Kemampuan tim olimpiade Indonesia telah menghasilkan medali emas, perak dan perunggu, serta mendapatkan ‘honorable mention’. Bahkan, Indonesia telah dipercaya oleh masyarakat dunia sebagai penyelenggara Olimpiade Fisika Tingkat Asia yang pertama pada tahun 2000, dan Olimpiade Fisika Internasional ke-33 di Denpasar, Bali pada 22 – 30 Juli 2002 lalu. Bahkan pada tahun 2005, Indonesia akan menjadi tuan rumah Olimpiade Fisika Tingkat Asia keenam (Depdiknas-Dikmenum, 2004).
Indonesia mengikuti IMO untuk pertama kalinya di tahun 1988, yaitu IMO 29 di Canberra, Australia. Sejak itu Indonesia tidak pernah absen mengikuti IMO. Selama 16 kali mengikuti IMO, Indonesia memperoleh 1 medali perak dan 6 medali perunggu, selain sejumlah honorable mention (Ahmad Muchlis, 2003).

Seiring dengan prestasi di atas, maka hal tersebut masih sangat sulit dikejar oleh siswa-siswi yang berasal dari daerah-daerah, khusunya provinsi Lampung. Siswa-siswi dari provinsi Lampung menempati di bawah 60 besar untuk tingkat nasional. Selama 4 tahun terakhir Lampung hanya mengirimkan 1 siswa, itupun karena jatah provinsi, bukan siswa yang memenuhi pasing grade yaitu dengan nilai di atas 26.

Memperhatikan kondisi di atas, yaitu bahwa prestasi siswa-siswi dari provinsi Lampung masih di bawah pasing grade, sungguh merupakan tantangan bagi staf jurusan Matematika FMIPA Unila untuk memberikan pengetahuan dan ketrampilan dalam menyelesaikan soal-soal olimpiade kepada guru, khususnya Guru Menengah Atas di kabupaten/kota se Provinsi Lampung.

Dalam rangkaian Dies Natalis Jurusan Matematika FMIPA Unila yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Matematika (HIMATIKA), para Dosen Jurusan Matematika melalui tim pelaksana Wamiliana, dkk. merasa terpanggil untuk melakukan suatu kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan bekerjasama dengan Lembaga Pengadian kepada Masyarakat Universitas Lampung. Kegiatan yang dimaksud diberi judul “Pelatihan Guru Pembina Olimpiade Matematika SMA Tingkat Kabupaten/KotaSe- Provinsi Lampung” yang penyelenggaraannya berlangsung pada tanggal 14 s.d. 15 Maret 2009 di Jurusan Matematika FMIPA UNILA.







1.2 Perumusan Masalah

Dari kondisi yang dikemukan dalam analisis situasi, permasalahan yang dihadapi para guru di Kota Bandar Lampung adalah masih minimnya pengetahuan mereka terhadap materi olimpiade yang harus diajarkan kepada siswa-siswanya, sebab beberapa materi olimpiade tidak tercakup di kurukulum SMA di Indonesia dan soal olimpiade merupakan soal yang tidak rutin. Maka perlu adanya pelatihan guru pembina olimpiade matematika agar mereka dapat mengantarkan siswa-siswinya berprestasi ewakili provinsi Lampung berlaga di Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Matematika, bahkan ke tingkat Internasional (IMO).

1.3 Tujuan Kegiatan

Kegiatan ini dilaksana dengan tujuan sebagai berikut:
1. Meningkatkan kemampuan dan kemahiran bagi guru pembina dalam menganalisa dan menyelesaikan soal-soal olimpiade Matematika.
2. Para guru pembina olimpiade dapat mentransfer pengetahuan tersebut kepada para siswa dan teman guru lain di lingkungan sekolahnya masing-masing.
3. Untuk mempersiapkan siswa-siswa yang unggul dan berprestasi dalam ajang olimpiade nasional maupun internasional.

1.4 Manfaat Kegiatan

Dengan dilaksanakan kegiatan ini, diharapkan akan diperoleh sebagai berikut:
1. Terwujudnya sinergi antara pengajar Perguruan Tinggi dan Pembina Olimpiade pada kabupaten/kota se Provinsi Lampung dalam hal mempersiapkan siswa didik yang unggul dan mampu memberikan kontribusi terbaik dalam ajang OSN tingkat Nasional maupun Internasional.
2. Memperkenalkan dan memberikan konsep-konsep dasar matematika dan strategi problem solving yang sistematis, logis dan analitis sebagai modal dasar menuju Lampung berdaya saing OSN matematika.


II. TINJAUAN PUSTAKA



2.1 Forum Pengembangan Olimpiade Matematika

Agar kinerja Direktorat Pendidikan Menengah Umum dan tim pembina lebih efektif, kerjasama yang erat antara guru-guru SMA/MA, Dinas Pendidikan Provinsi maupun Kabupaten/Kota dan Perguruan Tinggi merupakan kebutuhan mendesak. Perguruan Tinggi dan Dinas Pendidikan diharapkan dapat membidani kebijakan dan strategi peningkatan mutu pendidikan daerah melalui kegiatan lomba berbagai ilmu pengetahuan. Dan mampu membina guru MIPA dan bahasa di SMA/MA di daerah masing-masing melalui intensifikasi kegiatan MGMP dan maupun kerjasama dalam pembinaan siswa secara langsung pada pelajaran Biologi, Fisika, Kimia, Matematika, dan Informatika, serta Bahasa Asing.

Untuk itu juga diperlukan kolaborasi antarperguruan tinggi, Direktorat Pendidikan Menengah Umum, Dinas Pendidikan Provinsi, dan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, MGMP. Dan MKKS, yang dapat dilembagakan menjadi sebuah Forum Jaringan Kerja Pengembangan Olimpiade dan Lomba-Lomba Keilmuan pada tahun 2003 (Depdiknas-Dikmenum, 2003). Kemudian forum ini pada tahun 2004 berubah nama Forum Jaringan Inovasi Pendidikan untuk Pengembangan Olimpiade dan Lomba-Lomba Keilmuan. Forum ini secara mandiri dapat menentukan intervensi manajemen maupun finansial sesuai dengan sumbar daya daerah masing-masing. Kolaborasi demikian menjadi sangat penting untuk dilakukan dalam rangka menyiapkan calon peserta olimpiade mendatang (Depdiknas-Dikmenum, 2004).


Universitas Lampung telah ditunjuk oleh DIKMENUM sebagai salah satu perguruan tinggi pembina daerah Provinsi Lampung dan Jurusan Matematika FMIPA ditunjuk sebagai pembina bidang Matematika. Agar kolaborasi ini dapat berjalan diperlukan kerjasama yang baik dari berbagai pihak seperti Dinas Pendidikan Provinsi Lampung, Dinas Kabupaten/Kota, MGMP. Dan MKKS se- Provinsi Lampung.

Sebagai langkah awal, kegiatan ini bertujuan untuk menciptakan Forum Jaringan Kerja Pengembangan Olimpiade dan Lomba-loma Keilmuan khususnya bidang matematika dan penyebaranluasan informasi mengenai olimpiade internasional di Provinsi Lampung. Forum ini akan terdiri dari Tim Pembina Daerah Lampung yang akan bekerjasama dengan Direktorat Menengah Umum, Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/Kota, MKKS, dan MGMP.

2.2 Institusi dan Mekanisme Kerja

Institusi yang terlibat dalam olimpiade dan lomba-lomba bidang matematika di antaranya adalah Direktorat Pendidikan Menengah Umum, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Tim Pembina Olimpiade dan lomba-lomba Bidang Matematika, Perguruan Tinggi, Dinas Pendidikan Provinsi, Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, MKKS, dan MGMP.

a. Direktorat Pendidikan Menengah Umum, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah
Bertindak sebagai leading sector dari kegiatan pengembangan wawasan keilmuan bagi siswa SMU pada khususnya dan siswa SLTA pada umumnya.





b. Tim Pembina Olimpiade dan lomba-lomba Bidang Matematika
Tim Pembina Olimpiade dan lomba-lomba Bidang Matematika ditunjuk dan ditetapkan oleh Direktorat Pendidikan Menengah Umum, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, serta bertindak sebagai Pembina Olimpiade dan lomba-lomba Bidang Matematika bagi siswa SMU dan siswa SLTA pada umumnya.

c. Perguruan Tinggi
Perguruan tinggi sebagai mitra kerja Direktorat Pendidikan Menengah Umum dalam pengembangan wawasan keilmuan melakukan kerjasama dalam pencarian dan mengembangkan bakat dan minat siswa SMU pada khususnya dan siswa SLTA pada umumnya serta membina calon guru dan melatih guru yang diharapkan dapat mengembangkan wawasan keilmuan di sekolah masing-masing.

d. Dinas Pendidikan Provinsi
Dinas Pendidikan Provinsi sebagai mitra Direktorat Pendidikan Menengah Umum dalam pengembangan wawasan keilmuan melalui pelaksanaan pencarian siswa-siswa (mulai dari SD, SLTP, hingga SLTA) yang berminat dan berbakat dalam bidang Matematika, Fisika, Biologi, Kimia, Komputer, Bahasa Asing dan bidang penelitian melalui berbagai lomba. Dinas peniddikan Provinsi juga bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, MKKS dan MGMP di provinsi, serta perguruan tinggi yang ada di Provinsi.

e. Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota
Merupakan mitra Direktorat Pendidikan Menengah Umum dalam pengembangan wawasan keilmuan melalui pelaksanaan pencarian siswa-siswa siswa (mulai dari SD, SLTP, hingga SLTA) yang berminat dan berbakat dalam bidang Matematika, Fisika, Biologi, Kimia, Komputer, Bahasa Asing dan bidang penelitian melalui berbagai lomba. Dinas peniddikan Kabupaten/Kota juga bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Provinsi, MKKS dan MGMP di Kabupaten/Kota, serta perguruan tinggi.
f. Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS)
Merupakan sarana sharing information and knowledge di kalangan kepala sekolah, dimulai dari tingkat SD, SLTP, dan SLTA khususnya SMU dan media bagi diseminasi program pengembangan wawasan keilmuan di kalangan siswa SMU pada khususnya dan siswa SLTA pada umumnya.


g. Musyawarah Kerja Guru Mata Pelajaran (MGMP)
Merupakan sarana sharing information and knowledge di kalangan guru-guru mulai dari SD, SLTP hingga SLTA khususnya khususnya guru-guru mata pelajaran Matematika, dan guru Pembina Kelompok Ilmiah Remaja di SMU serta merupakan ujung tombak bagi diseminasi program pengembangan wawasan keilmuan, pencarian dan pembinaan bagi siswa-siswa SD, SLTP, dan SLTA yang berbakat dan berminat pada bidang keilmuan, khususnya siswa SMU dan siswa SLTA pada umumnya.

2.3 Tahapan Seleksi Olimpiade Matematika
Sebelum sampai ke Olimpiade Sains Nasional (OSN) Bidang Matematika dilakukan seleksi secara bertingkat dan dilanjutkan dengan pembinaan.
Tahapan seleksi olimpiade adalah sebagai berikut (Depdiknas-Dikmenum, 2004) :
Tahap Pertama (Seleksi Tingkat Sekolah)
Sekolah diberi kesempatan melakukan proses seleksi untuk mengambil siswa terbaiknya. Dari hasil seleksi, sekolah mengirimkan siswa terbaiknya untuk mengikuti seleksi ke tingkat kabupaten/kota.

Tahap Kedua (Olimpiade Kabupaten/Kota)
Merupakan proses seleksi di tingkat kabupaten/kota yang diikuti oleh siswa hasil seleksi dari setiap sekolah baik negeri maupun swasta yang ada di kabupaten/kota. Tahap ini pelaksanaannya diadakan pada akhir bulan April. Dua siswa terbaik hasil seleksi setiap sekolah dikirim ke tingkat kabupaten/kota untuk mengikuti tes seleksi di kabupaten/kota.
Dalam tiga tahun terakhir ini, soal seleksi dipersiapkan oleh pusat, sementara pelaksanaan (termasuk penilaian dan penentuan wakil terpilih) dilakukan sepenuhnya oleh daerah. Penyusunan soal seleksi tingkat kabupaten/kota ini terbuka untuk diambil alih kolaborator (Perguruan Tinggi dan Dinas). Sudah tentu perlu dilakukan koordinasi dengan dinas pendidikan dan MGMP yang selama ini terlibat.
Tahap Ketiga (Olimpiade Provinsi)
Merupakan seleksi di tingkat provinsi yang dilaksanakan di Kantor Dinas Provinsi. Calon peserta seleksi merupakan hasil seleksi yang terbaik dari setiap kabupaten/kota yang ada di wilayah provinsi dan setiap kabupaten/kota mengirimkan siswa dengan jumlah maksimal 5 calon pada setiap olimpiade, kecuali ada pertimbangan tertentu.

Tahap Keempat (Olimpiade Nasional)
Merupakan seleksi nasional yang diikuti oleh siswa hasil seleksi yang terbaik dari provinsi yang telah disaring dan dipilih oleh tim yang terdiri dari unsur perguruan tinggi dan pembina yang sesuai dengan bidang keahliannya masing-masing.
Penyusunan soal, penilaian dan penentuan hasil seleksi dilakukan oleh pusat. Dalam tiga tahun terakhir ini, format seleksi sudah terbakukan. Seleksi terdiri dari dua bagian yang dilaksanakan dalam satu hari.

Penilaian dilakukan dalam dua tahap. Mula-mula, penilaian dilakukan terhadap pekerjaan bagian pertama untuk semua peserta. Penentuan peserta yang akan diundang untuk mengikuti OSN bidang MIPA SMA dimulai dengan menetapkan seorang peserta terbaik untuk setiap propinsi. Peserta lain dipilih berdasarkan peringkat nasional untuk menggenapkan jumlah siswa yang diundang menjadi 80-90 orang. Batas nilai minimal untuk diundang dapat ditetapkan berbeda untuk kelas yang berbeda.

Dalam melaksanakan seleksi tingkat provinsi ditemui kendala menyangkut waktu seleksi ketika sejumlah provinsi mengundurkan tanggl seleksi. Ini menjadi masalah karena seluruh peserta seleksi mengerjakan soal yang sama, sehingga terbuka kemungkinan peserta yang menjalani seleksi belakangan memperoleh keuntungan yang tidak wajar. Untuk memberikan rangsangan berprestasi, sedang dipertimbvangkan untuk memberikan kuota jumlah peserta yang boleh mengikuti seleksi di tingkat propinsi. Kuota ini diberikan berdasarkan prestasi provinsi di tahun-tahun sebelumnya. Supaya kesempatan bagi siswa SMA masih tetap terbuka luas, perlu disisipkan suatu seleksi lagi di antara seleksi kota/kabupaten dengan seleksi provinsi. Dengan skenario ini, seleksi sisipan menjadi seleksi tingkat provinsi, sedangkan seleksi propinsi sebelumnya menjadi seleksi nasional. Kemudian, pengambilalihan seleksi kota/kabupaten oleh propinsi memungkinkan seluruh proses dimulai lebih awal pada setiap tahunnya.

Tahap Kelima (Pembinaan Tahap Pertama)
Dari seleksi nasional akan dipilih sebanyak lebih kurang 30 siswa terbaik untuk dibina selama lebih kurang satu bulan. 30 siswa terbaik ini mendapat medali dengan aturan sebagai berikut.
■ Peringkat 1 – 5, mendapat medali emas
■ Peringkat 6 – 15, mendapat medali perak
■ Peringkat 16 – 30, mendapat medali perunggu
Materi pembinaan yang diberikan disesuaikan dengan materi IMO yang mencakup materi-materi dasar dalam aljabar, geometri, kombinatorika dan teori bilangan, khususnya yang tidak tercakup dalam kurikulum matematika sekolah di Indonesia. Selain itu juga diberikan teknik-teknik dasar dalam pemecahan masalah.

Tahap Keenam (Pembinaan Tahap Kedua/Pembinaan Khusus)
Dari hasil pembinaan tahap pertama akan diseleksi (dipilih) 10 s.d. 15 siswa calon peserta yang akan dibina secara khusus selama lebih kurang 3-4 minggu. Dari pembinaan khusus akan dipilih 4 s.d. 6 peserta yang akan mewakili Indonesia dalam Olimpiade Matematika Internasional (IMO). Akhirnya siswa ini akan mendapatkan tempaan lagi sel;ama 10 hari menjelang keberangkatan mengikuti IMO. Dalam tahap ini dilakukan pengkondisian agar anggota tim siap menghadapi tes IMO.
Seluruh kegiatan persiapan dan pemberangkatan Tim IMO Indonesia dilakukan di bawah kendali Direktorat Pendidikan Menengah Umum (Dikmenum), Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen), dan Departemen Pendidikan Nasional. Aspek akademis dikelola oleh suatu tim pembina yang pada saat ini terdiri dari :

2.4 Skema sistem seleksi dan pembinaan olimpiade bidang Matematika
(Soewono, 2004)




















2.5 Karakteristik Soal Olimpiade Matematika

Orientasi soal olimpiade matematika adalah pemecahan masalah (problem solving) dengan karakteristik :
• Tidak rutin (terdapat modifikasi logika)
• Memerlukan pengetahuan sekolah menengah, tetapi memerlukan kematangan
matematika lanjut, yaitu :
• Wawasan
• Kecermatan
• Kejelian
• Kecerdikan, dan
• Pengalaman
• Jawaban soal olimpiade harus memuat gagasan matematika, tidak boleh
menuliskan fakta yang sudah diketahui atau manipulasi aljabar
Pada setiap tahapan seleksi olimpiade yang ingin dilihat adalah kemampuan siswa untuk menyelesaikan masalah yang tidak rutin. Ini berarti bahwa siswa yang akan berhasil adalah siswa yang dapat menggunakan materi yang telah dipelejarinya di sekolah secara kreatif untuk menyelesaikan soal-soal yang diberikan. Untuk itu penilai akan melihat bagaimana siswa menangani soal yang diberikan dan bagaimana pula siswa menyajikan penyelesaian soal.

2.6 Materi Olimpiade Matematika

1. Kisi-Kisi

Soal seleksi olimpiade matematika baik dari tingkat kabupaten/kota, provinsi dan nasional disesuaikan dengan soal-soal Olimpiade Tingkat Internasional (IMO), yang dikelompokkan dalam 4 (empat) bidang (Soewono, 2005) :
 Aljabar (Algebra)
• Sistem persamaan non linear
• Persamaan fungsi
• Pertidaksamaan
 Geometri (Geometry)
• Geometri bidang (segitiga, lingkaran, segibanyak)
• Kongruensi dan kolinearitas
• Teorema: Euler, Ptolemy, Ceva dan Menelaus

 Kombinatorik (Combinatorics)
Teori yang digunakan untuk menyelesaian masalah :
• Permutasi
• Kombinasi
• Basic Counting Principles
• Konsep Pigeonhole (Pigeonhole Principle)
• Prinsip Inklusi dan Eksklusi

 Teori Bilangan (Number Theory)
• Keterbagian Bilangan bulat
• Relasi Kongruensi Modulo m (Congruence Relation Modulo m)
• Teorema Fermat dan Euler
• Fungsi Bilangan Bulat Terbesar
• Fungsi Aritmatika

2. Distribusi Soal

a. Olimpiade Internasional (IMO)
Soal olimpiade dipilih oleh dewan juri dan berasal dari soal-soal yang diusulkan oleh negara-negara peserta.
Dewan juri terdiri dari :
 Pemimpin (leader) semua negara
 Juri eksekutif dari negara tuan rumah
Dilaksanakan 2 hari, setiap hari 3 soal dengan rincian
1. Hari pertama, terdapat tiga soal (waktu 4.5 jam)
1. Soal mudah, nilai maksimum 7
2. Soal sedang, nilai maksimum 7
3. Soal sukar, nilai maksimum 7
2. Hari kedua, terdapat tiga soal (waktu 4.5 jam)
1. Soal mudah, nilai maksimum 7
2. Soal sedang, nilai maksimum 7
3. Soal sukar, nilai maksimum 7
Sehingga setiap peserta maksimum mendapatkan nilai 42.
Karena setiap negara maksimum megirimkan 6 peserta, maka setiap negra maksimum mendapatkan nilai 252.

b. Olimpiade Sains Matematika Tingkat Nasional
Dilaksanakan selama dua hari,
1. Hari Pertama : Terdiri dari 4 soal, yang terdiri dari soal teori bilangan, geometri, aljabar dan kombinatorik (masing-masing 1 soal) dan waktu mengerjakan 3 jam.
2. Hari Kedua : Terdiri dari 4 soal (lebih sulit dari hari pertama), yang terdiri dari soal teori bilangan, geometri, aljabar dan kombinatorik (masing-masing 1 soal) dan waktu mengerjakan 3 jam.

c. Seleksi Peserta Olimpiade Tingkat Provinsi
Soal terdiri dari dua bagian :
20 soal isian singkat dengan waktu 90 menit, setiap jawaban yang benar diberikan nilai 1. Hasil nilai pada bagian pertama ini menentukan untuk dapat dikoreksi pada bagian kedua, yaitu nilai pada bagian pertama minimal 7 baru dapat masuk ke tahap soal kedua.
5 soal uraian dengan waktu 120 menit, setiap soal yang benar diberikan nilai 7.




d. Seleksi Peserta Olimpiade Tingkat Tingkat Kabupaten/Kota
Soal terdiri dari 20 soal dan dikerjakan dalam waktu 120 menit, meliputi 10 pilihan ganda (1 soal maksimum diberi nilai 6, minimum 1 (soal tanpa jawaban) dan 10 soal isian singkat (setiap soal maksimum diberi nilai 9).

2.7 Evaluasi Tim IMO Pusat

Berikut ini akan diberikan catatan penting berupa evaluasi oleh tim IMO pusat. Dari pengalaman mengikuti IMO, tampak bahwa siswa Indonesia pada dasarnya memiliki kemampuan untuk berkompetisi matematika pada tingkat tinggi. Sekalipun demikian, untuk berprestasi baik mereka terhambat oleh sejumlah kelemahan. Kelemahan pertama menyangkut kemampuan kerja matematika. Dalam kategori ini, yang paling terasa adalah kekurangmampuan siswa kita mengemukanan jawaban secara baik (sistematis, argumentatif, jelas), meskipun mereka mendapatkan jawabannya. Dapat diduga bahwa kelemahan ini merupakan cermin dari pengajaran matematika sekolah di Indonesia dan merupakan dampak dari perhatian yang keliru terhadap UMPTN atau SPMB (Ahmad Muchlis, 2004).

Kelemahan kedua menyangkut sikap dan kebiasaan. Sikap skeptis yang mencerminkan kebutuhan akan pembuktian jarang tampak pada siswa kita. Siswa kita tidak terbiasa untuk memeriksa secara teliti kebenaran hasil yang mereka peroleh. Kelemahan lain terkait dengan materi IMO. Cakupan soal IMO ummumnya lebih luas dari pada kurikulum kita. Selain materi yang tidak tercakup dalam kurikulum, untuk dapat menyelesaikan soal IMO dibutuhkan pemahaman konseptual yang baik. Hal terakhir ini tidak memperoleh perhatian yang cukup dalam kurikulum kita.

Kemampuan yang dibutuhkan tersebut sebetulnya dapat ditumbuhkan melalui pembiasaan. Siswa potensial perlu membiasakan diri untuk memberikan argumentasi terhadap hasil yang diperoleh, untuk tidak segera puas dengan jawaban berupa dugaan. Untuk dapat menumbuhkan kebiasaan demikian, siswa perlu terbiasa dengan usaha untuk memperoleh pemahaman mendalam terhadap konsep-konsep matematika, bukan skadar mampu menghitung.

Uraian di atas membawa kita kepada kelemahan lain pada siswa kita, kelemahan yang bersifat bukan-matematika. Pertama, soal motivasi. Untuk dapat mewujudkan tuntutan-tuntutan di atas, siswa perlu memiliki motivasi yang cukup. Mengapa saya perlu memenuhi tuntutan-tuntutan tersebut, padahal tanpa itu saya bisa diterima di perguruan tinggi terkemuka ? Begitu mungkin siswa akan bertanya. Kompetisi matematika dapat memberikan jawaban, tetapi hanya sebagian. Pada tingkat tinggi, penghargaan dari luar diri (external reward) tidak cukup. Seorang juara memerlukan internal reward; dalam konteks kita ini mencakup kepuasan dapat menyelesaikan soal yang sukar. Motivasi yang tumbuh karena kebutuhan akan internal reward ini akan mendorong siswa untuk berani mengambil inisiatif. Tertalu jauh juga kita untuk berharap agar mereka dapat menutupi kelemahan-kelemahan tersebut atas usaha sendiri. Kesempatan perlu disediakan guru, oleh guru, sekolah, birokrasi pendidikan, dan pihak-pihak lain yang berkepentingan dengan peningkatan mutu pendidikan.
















III. METODE PENGABDIAN


Dalam pelaksanaan pelatihan ini, metode yang digunakan adalah sebagai berikut:

1. Metode curah-pendapat (sharing opinion)
Pada metode ini, peserta yang merupakan pembina olimpiade yang berasal dari kabupaten/kota se Provinsi Lampung diminta pendapatnya tentang kendala-kendala yang dialami oleh para pembina maupun siswa dalam mempersiapkan diri mengikuti olimpiade matematika. Pada sesi ini digagas tentang kerangka pemecahan masalah dan strategi penyelesaian soal-soal olimpiade secara umum.

2. Metode Ceramah
Pada metode ini, nara sumber secara bergantian menyampai konsep-konsep dasar penyelesaian soal-soal olimpiade. Materi olimpiade yang disampaikan meleputi: Teori bilangan, kombinatorik, aljabar dan geometri.

3. Metode Simulasi Pemecahan Masalah (problem solving)
Melalui metode ini, para peserta diberikan waktu untuk menyelesaikan soal-soal sesuai dengan materi yang telah disampaikan. Diakhir sesi, nara sumber membahas soal-soal yang telah dikerjakan peserta dan peserta memeriksa jawaban mereka.

4. Metode Diskusi
Dalam metode ini, para peserta diberikan kesempatan untuk menyampaikan pertanya-pertanyaan mengenai soal-soal olimpiade yang belum dipecahkan dan mendiskusikannya bersama nara sumber.





IV. PELAKSANAAN KEGIATAN

4.1 Rangkaian Kegiatan

Kegiatan pelatihan guru pembina olimpiade matematika ini dilaksanakan di jurusan Matematika FMIPA Universitas Lampung, pada tanggal 14-15 Maret 2009. Kegiatan ini merupakan bentuk Pengabdian Kepada Masyarakat yang dilaksanakan oleh dosen Jurusan Matematika FMIPA UNILA. Rangkaian kegiatan yang dilakukan sebagai berikut :
1. Mempersiapkan materi yang berkenaan dengan Teori Bilangan, Kombinatorika, Aljabar, dan Geometri. Materi dan jadwal disampaikan pada saat pelatihan dimulai. Isi materi telah dipersiapkan jauh sebelum pelatihan dimulai yang ruang lingkupnya berdasarkan hasil survey dan jawaban kuesioner yang telah dikembalikan. Ini dimaksudkan agar kegiatan lebih terarah pada persoalan yang dihadapi oleh peserta dan tujuan yang ingin dicapai penyelenggara.
2. Setelah pembukaan pelatihan, dilakukan curah-pendapat (sharing opinion) kepada para peserta terkait tentang kendala dan hambatan yang dirasakan dalam membina olimpiade kepada siswa. Selain itu juga digali sejauhmana penguasaan peserta terhadap soal-soal olimpiade. Hasil dari curah pendapat ini juga sebagai bahan perbandingan bagi seluruh peserta yang berasal dari kabupaten/kota se Provinsi Lampung.
3. Penyampaian materi oleh nara sumber dalam bentuk ceramah, diskusi dan latihan soal olimpiade. Adapun penyajian materi dibagi dalam 4 session sebagai berikut :
• Pada session pertama Teori Bilangan. Pada session ini ada sebagian peserta yang sudah menguasai dasar-dasar Teori Bilangan, tetapi untuk materi lanjutan sebagian besar guru belum menguasai.
• Pada session kedua, materi yang disampaikan Kombinatorika. Pada session ini ada sebagian peserta yang sudah menguasai dasar-dasar materi Kombinatorika.
• Pada session ketiga Aljabar. Pada session ini ada sebagian peserta besar peserta belum menguasai materi persamaan fungsional.
• Pada session keempat, materi yang disampaikan Geometri. Pada session ini hampir semua peserta belum menguasai materi dengan baik dan benar.

4.2 Jadwal Kegiatan

Pelaksanaan kegiatan diselenggarakan sesuai jadwal yang telah disusun yaitu :

Hari dan Tanggal Waktu Acara Nara Sumber
Sabtu,
14 Maret 2009
07.15 – 08.00
08.00 – 09.00

09.00 – 09.15
09.15 – 11.45
11.45 – 13.00
13.00 – 14.30
14.30 – 16.00
16.00 - 16.15
16.15 – 17.45
Check in peserta dan Pembukaan
Sharing Opinion
“Strategi Olimpiade Matematika”
Rehat
Teori Bilangan
Ishoma
Kombinatorika
Aljabar
Rehat
Geometri
Panitia

Wamiliana, Ph.D.
Panitia
Amanto, S.Si., M.Si.
Panitia
Rudi Ruswandi, M.Si.
Noti Ragayu, M.Si.
Panitia
Subian Saidi, S.Si.
Minggu,
15 Maret 2009 07.30 – 09.00
09.00 – 09.15
09.15 – 10.45
10.45 – 12.15
12.15 – 13.15
13.15 – 15.45
15.45 – 16.00
16.00 – 17.00
17.00 – 17.30 Problem Solving soal olimpiade
Rehat
Teori Bilangan
Kombinatorika
Ishoma
Aljabar
Geometri
Diskusi/tanya jawab
Penutupan Subian Saidi, S.Si.
Panitia
Amanto, S.Si., M.si.
Wamiliana, Ph.D.
Panitia
Noti Ragayu, M.Si.
Rudi Ruswandi, M.Si.
Amanto, S.Si., M.si.
Panitia







V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil Yang Diperoleh

Hasil yang diperoleh dalam kegiatan Pelatihan Guru Pembina Olimpiade Matematika Tingkat SMU kabupaten/kota se Provinsi Lampung diperoleh informasi sebagai berikut :
1. Perhatian peserta sangat baik terhadap jalannya kegiatan hal ini ditandai dengan rasa antusias mereka pada saat pelatihan. Pertanyaan yang disampaikan nara sumber direspon dengan baik walaupun tidak semua pertanyaan dijawab dengan jawaban bernilai benar.

2. Penyampaian strategi pembinaan olimpiade Matematika sangat penting, sebab olimpiade Matematika merupakan ajang kompetisi. Soal olimpiade merupakan soal tidak rutin, sehingga dalam pengerjaannya diperlukan strategi yang khusus juga.

3. Dari hasil simulasi penyelesaian soal-soal olimpiade yang diberikan, menunjukkan sebagian besar guru belum terbiasa mengerjakan soal olimpiade, hal ini karena soal olimpiade tidak mudah dan mungkin penghargaan (reward) kepada guru dan siswa yang menekuni olimpiade masih kurang.

4. Materi Teori bilangan termasuk materi yang lebih mudah dibandingkan dengan materi lainnya. Sedangkan materi Geometri merupakan materi yang paling sulit dirasakan oleh guru dan siswa. Tetapi dalam penyampaian materi dilakukan secara merata, karena bobot penilaian maupun distribusi soal terhadap keempat bidang, yaitu Teori Bilangan, Kombinatorika, Aljabar dan Geometri adalah sama.





5.2 Pembahasan

Berdasarkan hasil kegiatan pelatihan yang diperoleh seperti tersebut di atas ada beberapa hal yang perlu dijelaskan sebagai berikut :
Jika dilihat dari kondisi awal kita dapat jelas bahwa ada sebagian besar peserta belum memahami tentang strategi pembinaan olimpiade khususnya kepada siswa didik masing-masing. Hal ini tercermin begitu banyaknya permasalahan yang disampaikan oleh peserta tentang kendala-kendala dalam membina olimpiade, mulai dari SDM, sarana prasarana maupun finansial. Hasil simulasi yang telah diberikan juga menunjukkan bahwa kemampuan setiap peserta sangat beragam dan masih jauh dari hasil yang menjanjian. Setelah dilakukan pelatihan intensif (tatap muka) selama 2 hari, hasil yang diperoleh cukup membanggakan. Hasil yang memuaskan ini dilihat dari begitu antusiasnya peserta mengikuti pelatihan dan begitu banyaknya perminta agar UNILA khususnya jurusan matematika bersedia memberikan pembinaan secara intensif kepada para peserta. Peningkatan yang memuaskan juga dapat dilihat dari penyampaian materi dan pembahasan soal-soal olimpiade dapat cerna dengan baik oleh para peserta.























VI. KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil uraian yang dikemukakan dalam bab sebelumnya, dapat dikemukakan beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Kegiatan pelatihan yang dilaksanakan pada tanggal 14 s.d. 15 Maret 2009 bertempat di Jurusan Matematika Universitas Lampung berjalan tertib dan aman.
2. Semua peserta menyatakan mereka merasa terbantu dengan adanya pelatihan olimpiade Matematika.
3. Secara umum penyelenggara kegiatan pelatihan ini memperoleh sambutan yang sangat antusias, baik ketika pelaksanaan survei berupa wawancara dan pertemuan langsung dengan guru dan siswa (ketika diadakan olimpiade Matematika oleh Himpunan Mahasiswa Matematika yang dilaksanakan secara rutin setiap bulan Maret) maupun ketika kegiatan berlangsung. Oleh karena itu hasil kegiatan pelatihan ini memberi hasil yang “sangat baik”.

6.2 Saran

Berdasarkan hasil kegiatan pelatihan ini dan dengan memperhatikan saran dan tanggapan dari para peserta pelatihan maka ada sejumlah saran yang dapat dikemukakan, sebagai berikut :

1. Kegiatan ini dirasakan peserta sangat bermanfaat dalam rangka mempersiapkan siswa-siswa dari Provinsi Lampung, khususnya untuk setiap kabupaten/kota menghadapi serangkaian tahapan seleksi olimpiade Matematika yang akan dilaksanakan pada bulan April (Olimpiade Kabupaten/Kota), Juni (Olimpiade Tingkat Provinsi) dan pada bulan September 2008 (Olimpiade Nasional). Oleh karena itu disarankan agar kiranya Unila dapat mengambil sikap proaktif untuk menindak lanjuti hasil kegiatan ini dengan cara melakukan kegiatan yang sama untuk sekolah-sekolah lain baik yang ada di lingkup kota Bandar Lampung bahkan sampai ke kabupaten-kebupaten yang ada di propinsi Lampung.
2. Mengingat keterbatasan dana yang dimiliki Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat Unila, maka unila perlu menjamin kerjasama konkrit dengan pemerintah Daerah khususnya Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota maupun Provinsi dalam menyelenggarakan kegiatan serupa/sejenis.






































DAFTAR PUSTAKA


1. Ahmad Muchlis, 2003. Partisipasi Indonesia Dalam Olimpiade Matematika Internasional. Disampaikan pada Sosialisasi Forum Jaringan Kerja Pengembangan Olimpiade dan Lomba-Lomba Bidang Keilmuan Matematika. Jurusan Matematika FMIPA Unila. Bandar Lampung.

2. Ahmad Muchlis, 2004. Olimpiade Sainsi Nasional : Matematika SMA. Makalah disampaikan pada pertemuan Forum Jaringan Inovasi Pendidikan untuk Pengembangan Olimpiade dan Lomba-Lomba Keilmuan.

3. Depdikbud. 1996. Pedoman Pelaksanaan Penelitian dan Pengabdian kepada
masyarakat oleh Perguruan Tinggi, Jakarta : Dirjen Dikti.

4. Depdiknas-Dikmenum, 2003. Petunjuk Pelaksanaan Forum Jaringan Kerja Pengembangan Olimpiade dan Lomba-Lomba Keilmuan Tahun 2003. Dep Diknas Dikmenum Bagian Proyek Pengembangan Wawasan Keilmuan. Jakarta.

5. Depdiknas-Dikmenum, 2004. Panduan Pelaksanaan Forum Jaringan Inovasi Pendidikan untuk Pengembangan Olimpiade dan Lomba-Lomba Keilmuan . Dep Diknas Dikmenum Bagian Proyek Pengembangan Wawasan Keilmuan. Jakarta.

6. Soewono, 2004. Harapan dan Kenyataan Prestasi Olimpiade Matematika. Disampaikan pada Pertemuan Kolaborasi dengan Perguruan Tinggi Se-Indonesia. Jakarta.

6. Soewono, 2005. Sumbang Saran Pemikiran Mengenai : Bagaimana Mengajarkan Matematika Kepada Murid-Murid Agar Menyenangkan. Disampaikan kepada Simposium Guru Pendamping Siswa Peserta Olimpiade Sains V Bidang Matematika 2005. Jakarta.


































LAMPIRAN

0 comments:

Post a Comment

Welcome to My Blog

Popular Post

Blogger templates

My Blog List

Sample text

Pageviews past week

shoutbox zone


ShoutMix chat widget

clock link

flag counter zone

free counters

Ads Header

Followers

About Me

Followers

Friends

Blog Archive

Ajari aku ‘tuk bisa Menjadi yang engkau cinta Agar ku bisa memiliki rasa Yang luar biasa untukku dan untukmu

web counter zone

Best Free Cute WordPress Themes

Hiya!

Welcome to Cutie Gadget, the place that love to post Cute Gadgets and Cute Stuff. Today I will share you my findings about Cute Wordpress Themes. These themes are really good if you create Cute themed Blog, Girls blog, Candy blog, or children blog as themes Free Cute Blog Templates really suitable for that reason. Ok, here’s the list :

pink cute themes 300x144 Best Free Cute Wordpress Themes

This Cute Candy themed Worpress template called Pink-Kupy. The color is combination of Gradation of pink, from Soft pink to vibrant pink. However, the background color is dark grey and white, they’re made to harmonised the pinky color. A really nice Pink Wordpress themes :) Free Download here

leaf cute themes 300x150 Best Free Cute Wordpress Themes

If you bored with regular Wordpress backgrond that using the usual color backgrond, then this wordpress themes is good for you.I really like the leaf green background, blended with white color. Look simple, cute and nice! Download here

greenery wordpress 300x145 Best Free Cute Wordpress Themes

The last but not the least, here is the Beautiful themes named Greenery. The color lime green, which looked really fresh and nice. I really like the tree color, looked cute because the cartoon styled drawing. Download here.

If don’t use worpdress, but using Blogger or Blogspot as your Blogging Platform, you can check out my Post about Cute Blogger Themes

Popularity: 1% [?]

Artikel Best Free Cute WordPress Themes Proudly presented by The Most Unique Gadget Blog. Please also see our sister site:Free Powerpoint Templates and Themes to get Free Powerpoint Template for school, business, medical presentation and many more!.

calender zone

Pages

my stuff and life. Powered by Blogger.
There was an error in this gadget

- Copyright © my zoONne -Robotic Notes- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -