Posted by : anonimus Thursday, December 1, 2011

Berhubung saya ngga bisa ngusun  kata-kata jadi paragraf yang padu, makanya saya nyontoh cerpennya orang lain. ngga semuanya sih , cuma cara dianya nulis cerpen aja. Hhe... tapi idenya orisinil ide aku lho...
Makanya sebelum baca cerpen buatan aku, baca dulu nih cerpen aslinya. cekidot... =D



Valentine Nggak Garing Lagi
Oleh : Bening Sariwati
“Plis, lo jangan ke kelas gue lagi, Carmelita Situmorang!” seru Shila dengan marah. Air mata mendesak di pelupuk matanya. Nyaris bobol. Kalau Shila nggak langsung membuang pandangan matanya kea rah pohon cemara di depan kelas, mungkin air matanya tumpah.
Suasana kelas kosong, bikin Shila nggak malu saat dadanya terguncang hebat menahan tangis. Akhirnya pertahanan cewek berwajah oriental ini bobol juga.
“ Tapi lo harus denger dulu Shil, keterangan gue! Lo selama ini salah paham dan selalu mandang gue sama Andrew mengkhianati lo. Padahal, kan…”
“Udah deh!” serang Shila sebelum Carmelita menghabiskan kalimatnya.
“Jangan banyak alasan. Bukti sudah jelas, mau dijelasin apa lagi?” kata Shila sambil beranjak dan berjalan cepat meninggalkan kelas.
Carmelita terbengong meliahat temannya pergi begitu saja.
***
Sampai di rumah, Shila langsung membanting tubuhnya ke kasur. Bantal dia bekapkan ke wajahnya, agar air matanya nggak keluar lagi. Yah, sebulan belakangan Shila cemas, gelisah dan takut kehilangan Andrew, cowok yang selama ini lai pedekate sama dia. Andrew, cowok tinggi atletis, rambut cepak dan bergaya tentara. Uhh… gaya cool-nya itu bikin Shila kepincut abis.
Tapi sayang, sebelum Andrew nembak dia, ada kabar, kalau Andrew mulai dekat dengan Carmelita, cewek hitam manis tapi pinternya minta ampun. Lita dia biasa dipanggil, meski nggak cantik banget, inner beauty-nya bikin cowok klepek-klepek.
Lita dan Shila berteman dekat sejak masuk ke sekolah favorit di kota mereka. Walaupun nggak sekelas, mereka cukup akrab. Tapi sejak mendengar kabar Andrew mulai dekat sama Lita, Shila lebih banyak menghindar dari dua temannya itu. Herannya Shila nggak melihat, mereka tuh sebenarnya ngerasa.
Ternyata berita itu bukan isapan jempol. Soalnya beberapa kali Shila memergoki Andrew dan Lita lagi istirahat di kantin, makan bakso bareng. Trus, minggu lalu, Shila melihat mereka lagi di took buku. Mereka tterlihat akrab banget. Pemandangan itu sudah cukup bukti, kalau mereka ada apa-apa.
“Hhh… kirain Valentine ini ada cowok yang bakal nembak gue. Ternyata… Lita yang TMT” Batin Shila, sambil meraih handuk dan masuk ke kamar mandi.
Ya, Shila berharap banget Valentine tahun ini nggak kayak tahun lalu. Garing, kering kerontang. Kayak krupuk dijemur seminggu.
***
Minggu pagi, sehari sebelum Valentine, Shila sengaja malas-malasan di tempat tidur setelah beberapa hari belakangan ngerjain PR terus kayak kerja rodi. Tiba-tiba handphone Shila teriak. Ada SMS dari Carmelita. Isinya…
“Shil, ntar sore gue ke rumah lo. Pokoknya ada hal penting yang musti diomongin.”
“Ada apalagi sih, udah nyerobot pacar temen, masih juga berani main kerumah.” Gerutu Shila sambil melempar handphone ke atas bantal.
Shila sengaja nggak balas SMS Lita. Dia menelungkupkan tubunya di kasurnya yang wangi dan empuk itu. Dia jadi ingat saat pertama kali kenalan sama Andrew. Cowok itu selalu bikin hatinya seneng dan nyamaaan… banget. Perlahan mata Shila terpejam dan… tertidur!
Shila mimpi berlari-lari mengejar Andrew dan Lita di kebun bunga. Sambil lari dia nangis-nangis nggak rela Andrew dibawa Lita. Slow motion gitu, kayak di sinetron. Tiba-tiba… gubrak! Dia jatuh tersandung. Detik itu juga… plok, plok, plok!! Pantatnya tersa ada yang mukul-mukul.
***
“Kwk… wkkk… bangun! Susah banget sih dibangunin dari tadi!” seru Lita.
Shila langsung duduk dan melotot melihat siapa yang ada di dekat tempat tidurnya. Dia menengok jam. Hahh… jam lima??!
“Lo… lo… mau ngapain? Mau ngasih tau lo udah jadian?” cerocos Lita langsung nyadar itu tadi hanya mimpi.
“Lo tuh ya… gue mau ngasih penjelasan nggak pernah dikasih penjelasan, ya udah gue nekad datang aja ke sini. Walaupun SMS nggak ada jawaban!”
Lita langsung duduk di sampingnya dan merangkul bahu Shila. Hangat! Layaknya sahabat sejati yang selalu dekat di hati.
“Heran, ini anak kok ngga ngerasa atu bego, sih?” dalam hati Shila.
“Gue tahu, lo tuh cemburu dan marah banget sama gue. Tapi sumpah, gue nggak ada apa-apa sama Andrew.”
Tangan Lita bertepuk dua kali dan… taraaaa, Andrew masuk kamar dengan senyum khasnya, membawa kado dan setangkai mawar merah. Dia menghampiri Shila yang pada saat itu penampilannya berantakan abis.
“Lita… lo keterlaluan! Gue kan lagi jelek seka….” Belum selesai cerocosan Shila, Andrew memotong dengan suara beratnya yang terdengar cowok banget.
“Apapun penampilan lo, di mata gue, lo tetep cantik Shil.” Ucap Andrew lembut.
“Jadi, gue deket sam Andrew soalnya dia yang minta. Dia pengen tahu seberapa besar sih lo suka sam dia. Dia pengen ngeyakinin dulu perasaan lo sama dia. Trus, gue juga kebetulan perlu sam dia. Soalnya adek gue kan pengen masuk tentara. Nah, gue nanya-nanya deh, gimana caranya. Secara bokapnya Andrew kan tentara.” Ringkas banget penjelasan Lita.
“Iya, terus terang gue juga ngerasa asyik aja saat ngobrol sama Lita. Jadi kayak nyambung aja terus. Makanya, kami sering jalan bareng. Tapi jujur, ini buat misi mulia gue, biar gue nggak kecewa saat nembak lo, Shil.” Tambah Andrew, masih dengan memamerkan senyum termanisnya.
“Jadi… diterima nggak?” Tanya Andrew sambil menyodorkan bunga mawarnya.
Shila hanya terbengong… Ziiing…!!

Nah, udah baca? sekarang baca cerpen yang buatan aku ya... -->


Gara-gara Tujuh Belas Tahun
Oleh: Adelia Herlisa
            “ Tolong, kalian jangan dateng ke kehidupan aku lagi, Retno Kinasih!” seru Aira dengan marahnya. Air mata mendesak di pelupuk matanya. Nyaris jatuh. Jika Aira tidak langsung menutup telepon dari Eno, mungkin air matanya sudah tumpah dengan isak sendu.
            Suasana kamarnya kosong, membuat Aira tidak merasa sungkan saat dadanya yang terguncang hebat menahan tangis. Akhirnya pertahanan gadis pintar ini runtuh juga.
            Ditengah isak tangisnya, tiba-tiba handphone Aira berdering. Telepon dari Eno lagi.
            “Kamu harus denger penjelasan aku dulu Ai! Selama ini kamu itu salah paham. Kamu selalu memandang aku sama Arya itu menghianati kamu. Padahal, kan…”
            “Sudahlah, En!” serang Aira sebelum Eno menuntaskan penjelasnnya.
            “Jangan banyak alasan. Mataku tidak tertutup, telingaku juga tidak tuli. Kamu mau menjelaskan apalagi dengan bukti-bukti yang sudah jelas itu?” kata Aira dengan nada membentak dan kemudian menutup telepon dari Eno.
            Tut… tut… tut…
            Eno hanya bisa terdiam mendengar bentakan Aira.
***
            Air mata Aira terjatuh lagi, kali ini tangisnya makin keras. Kemudian ia langsung membanting tubuhnya ke kasur. Ia langsung menyelimuti seluruh tubuhnya, walaupu sebenarnya cuaca di siang itu cukup panas. Seminggu belakangan memang Aira sangat galau, gelisah dan takut kehilangan Arya, mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Statistik yang penampilannya sederhana, tapi cerdas dan punya pribadi yang baik. Kerendahan hatinyalah yan membuat Aira menyimpan hati kepada laki-laki yang satu tahun lebih tua darinya itu.
            Tapi sayang, sebelum Arya menembak Aira, banyak kabar tersebar tentang kedekatan Arya dengan Eno, gadis berwajah oriental dengan rasa percaya diri yang super tinggi. Album akun Picasa Eno penuh dengan foto-fotonya dengan gaya yang tidak banyak orang berani menirunya. Meskipun begitu, Eno mempunyai inner beauty yang membuat banyak laki-laki tertarik padanya.
            Aira dan Eno bukan teman yang sangat akrab. Mereka mengawali perkenalan mereka lewat suatu forum di jejaring sosial, karena sebenarnya jarak temapt tinggal kedua remaja ini amatlah jauh. Aira tinggal di Padang Panjang sedangkan Eno tinggal di Solo. Mereka mulai menjadi teman akrab ketika Aira menjawab pertanyaan Eno di jejaring sosial hingga akhirnya mereka bertukar nomor telepon.
Tapi sejak mendengar kabar Arya mulai dekat dengan Eno, Aira lebih banyak menghindar dari dua temannya itu. Herannya, Aira tidak melihat perubahan sikap dari kedua temannya itu.
Ternyata berita tersebut bukan isapan jempol. Karena beberapa kali Aira sempat melihat Arya dan Eno berhubungan di jejaring social dengan kata-kata yang membuat Aira terbakar api cemburu. Tidak hanya itu, minggu lalu Aira menerima SMS dengan kata-kata yang tidak biasa dari Arya. Dari isinya yang menyebutkan nama Eno, Aira sadar bahwa SMS itu bukan untuk dia. Aira tidak pernah menanyakan hal tersebut kepada Ari karena ia takutArya marah.
Kejadian-kejadian itu sudah cukup menjadi bukti jika mereka mempunyai hubungan yang lebih dari sekedar teman biasa.
“Hha… kirain sweet seventeen nanti ada seseorang yang spesial yang sudah aku tunggu-tunggu. Ternyata… Eno…ahh!” gumam Aira sambil mengerjakan tugas-tugas yang membuat Aira tambah pusing.
Ya, Aira sangat berharap di ulang tahunnya ke tujuh belas nanti, ia mempunyai seseorang teman lelaki yang lebih dari teman biasa. Aira memang berjanji jika ia tidak akan pacaran sebelum usianya genap tujuh belas tahu.
***
Sabtu pagi, sehari sebelum ulang tahun Aira. Ia sengaja bermalas-malasan di kamarnya karena akhir-akhir minggu ini ia sibuk mengerjakan tuga-tugasnya yang menumpuk.
Tiba-tiba, handphone Aira bordering. Ada pean dari Eno. Isinya…
“Ai, nanti siang aku mau nelpon kamu. Ada hal penting yang mau aku bicarain. Penting!”
“Ada apa lagi sih? Belum puas kamu ngerebut pacar aku, masih berani telpon aku tanpa rasa bersalah.” Gerutu Aira sambil melemparkan handphone ke kasur.
Aira sengaja tidak menanggapi pesan dari Eno. Kembali ia membaringkan tubuhnya di kasur. Ia kembali teringat saat pertama ia mengenal Arya. Seorang lelaki yang mampu membuat Aira berubah dari gadis manja yang tomboy menjadi gadis yang lembut dan anggun. Perlahan kantuk mulai menyerang Aira, ia pun terhanyut dalam mimpi.
Aira bermimpi berlari bersama Eno di tenah hutan. Tanpa mereka sadari, di tengah jalan ada kubangan yang cukup dalam. Mereka terjerumus ke dalam kubangan itu. Tiba-tiba Arya datang. Ia mengulurkan tangannya kepada Eno, bukan Aira. Betapa sedihnya Aira, ia tidak dapat menangis karena ia sadar ia tidak mempunyai hak apa-apa terhadap mereka.
Aira tidak tahan, ia menangis dan menutup matanya. Tiba-tiba terdengar suara keras yang tidak asing di telinganya. Ia berharap suara itu dapat menolongnya keluar ari kubangan. Ketika ia membuka matanya, ia tersadar bahwa kejadian tadi hanya mimpi. Suara keras yang didengarnya tadi adalah suara telepon dari Eno.
Denga terpaksa diangkatnyalah telepon dari Eno.
“Halo Ai. Maaf aku lancang menelpon kamu tanpa izin, aku terpaksa. Eitss… jangan dimatiin dulu. Aku sudah menelpon Ari juga. Sekarang kita selesaikan kesalah pahaman yang terjadi di antara kita!” seru Eno sambil meyakinkan Aira.
“Sudahlah, kalian mengaku saja. Semuanya sudah jelas kok. Kalian pacaran kan..”
“Enggak Ai, sumpah deh. Tanya sama Arya.” Potong Eno.
“Kalian ngga usah bohong. Aku terima kok, mungkin Arya bukanlah laki-laki yang dipilih buat aku. Sudah…” Serang Aira sambil menahan tangis.
“Kamu salah paham, Ai. Aku sama Arya itu tidak ada hubungan apa-apa, Cuma temen Ai. Kami memang deket, tapi itu semua biar Arya bisa deket sama kamu!” Jelas Eno dengan nada agak keras.
“mau ngedeketin gimana? Aku sama Arya juga udah deket dari dulu kali. Jadi, apa yang mau dideketin?” Sahut Aira yang mulai membiarkan Eno mencoba menjelaskan.
“Arya, keluarkan suaramu. Tolong bantu jelasin sama orang yang selama ini kamu kagumi. Arya…!” Kesal Eno.
“Emm… Ai, maaf sebelumnya. Saya ingin jujur sama Aira.” Arya mulai berbicara.
Hati Aira beguncang keras, firasatnya merasakan Arya akan mengatakan hal yang buruk. Ternyata benar, Arya mulai berbicara jujur.
“Ai, memang waktu itu saya mempunyai rasa yang melebihi dari sekedar teman sama Aira. Saya tidak berani mengungkapkannya, karena saya tahu Ai punya janji tidak akan pacaran sebelum usia Ai genap tujuh belas tahun. Makanya saya belum berani mengungkapkan rasa sayang ke Ai. Dan karena itu juga saya mendekati Eno biar saya lebih dekat dengan Ai.” Jelas Arya yang mulai gugup. Tiba-tiba Arya terdiam
“Terus ya, katakanlah apa yang mau ungkapin!” Paksa Eno kepada Arya.
“Tetapi seiring berjalannya waktu, saya mengakui bahwa saya jatuh cinta pada Eno. Maaf Ai, tapi saya masih mengagumi pribadi Ai sebagai adik saya.” Jelas Arya lagi dengan rasa bersalah.
Aira terdiam, ia tidak bisa berkata-kata lagi. Air matanya menetes mendengar setiap ucapan yang keluar dari mulut Arya. Sementara Eno sangat terkejut. Ia langsung menutup telepon karena merasa sangat bersalah kepada Aira.
“Kok jadi gini sih? Aduh… Arya, benarkah kamu?” gumamnya usai menutup telepon.
Dengan gemetar, Eno menelpon Aira kembali. Ia berharap Aira mengangkat telepon darinya.
“Ada apa lagi?” Jawab Aira dengan nada yang pelan dari sebelumnya.
“Sebelumnya aku minta maaf lagi Ai. Aku benar-benar tidak tahu kalo Arya akan berkata seperti itu. Aku sangat kecewa kepada dia.” Bujuk Eno.
“Sudahlah En, aku sudah mengerti. Cinta itu tidak bisa dipaksakan. Terima saja Ari. Mungkin dia lebih pantas untuk Eno, bukan aku.” Jawab Aira sambil menaha tangis.
“Kamu bicara apa, sampai saat ini aku belum percaya dengan apa yang dikatakan Arya tadi!” Sahut Eno mencoba meyakinkan Aira.
“Sudah, sudah cukup En. Tolong kamu terima Arya, demi aku En. Jika Arya bahagia, aku bahagia. Ini akan jadi kado sweet seventeen aku nanti.”
“Aku ngga bisa Ai, kamu temen aku. Walau kita bukan sahabat.”
“Tolong terima dia!”
Tuutt… tuutt.. tuutt…
Aira menutup teleponnya. Ia berusaha menahan tangis dengan senyum keikhlasannya. Tidak ada lagi rasa kegelisahan yang tersimpan dalam hatinya.  sekarang Aira berusaha untuk bersikap dewasa. Walau sebenarnya sikap manja dan tomboinya masih melekat.
***
keesokkan malamnya, usia Aira akan genap menjadi tujuh belas tahun. Ia tidak berharap banyak dengan ulang tahun impiannya ini. Ia hanya mengurung diri di kamar dengan buku-buku kesayangannya.
Satu menit sebelum tengah jam dua belas malam, handphone Aira bordering.
“Halo… Ini si..”
“Ini Eno. Selamat ulang tahun ya. Maaf, aku bukannya ngasih kado spesial buat sweet seventeen kamu. Eh, gara-gara aku malah kamu sakit hati.”
“Hha… Ngga apa-apa kok En. Aku sudah biasa merasakan sakit hati. Ngomong-ngomong kamu sudah nerima Arya belum?”
“Hmm… Demi kamu, aku coba terima dia. Mungkin kamu benar, dia mungkin dipilihkan untuk aku.”
“ya, baguslah kalo begitu. Semoga hubungan kalian berjalan dengan baik.”
“Amin. Sekali lagi Happy Birthday Sweet Seventeen ya Ai, nanti kadonya saya kirim lewat pos aja ya.”
Tiba-tiba, ada panggilan masuk lain di handphone Aira.
“Hha.. terserah. Aku tutup ya teleponnya. Ada panggiilan lain nih”
Tuutt… tuutt..
“Halo, ini siapa?” Tanya Aira.
Happy Birthday Ai, aku pengagum rahasiamu.”
Tuutt… tuutt… tuutt…
TAMAT



{ 1 comments... read them below or add one }

  1. this story just for my assigment in school. remembar it...

    ReplyDelete

Thursday, December 1, 2011

Tugas Bahasa Indonesia Ibu Mimi :)

Posted by anonimus at Thursday, December 01, 2011
Berhubung saya ngga bisa ngusun  kata-kata jadi paragraf yang padu, makanya saya nyontoh cerpennya orang lain. ngga semuanya sih , cuma cara dianya nulis cerpen aja. Hhe... tapi idenya orisinil ide aku lho...
Makanya sebelum baca cerpen buatan aku, baca dulu nih cerpen aslinya. cekidot... =D



Valentine Nggak Garing Lagi
Oleh : Bening Sariwati
“Plis, lo jangan ke kelas gue lagi, Carmelita Situmorang!” seru Shila dengan marah. Air mata mendesak di pelupuk matanya. Nyaris bobol. Kalau Shila nggak langsung membuang pandangan matanya kea rah pohon cemara di depan kelas, mungkin air matanya tumpah.
Suasana kelas kosong, bikin Shila nggak malu saat dadanya terguncang hebat menahan tangis. Akhirnya pertahanan cewek berwajah oriental ini bobol juga.
“ Tapi lo harus denger dulu Shil, keterangan gue! Lo selama ini salah paham dan selalu mandang gue sama Andrew mengkhianati lo. Padahal, kan…”
“Udah deh!” serang Shila sebelum Carmelita menghabiskan kalimatnya.
“Jangan banyak alasan. Bukti sudah jelas, mau dijelasin apa lagi?” kata Shila sambil beranjak dan berjalan cepat meninggalkan kelas.
Carmelita terbengong meliahat temannya pergi begitu saja.
***
Sampai di rumah, Shila langsung membanting tubuhnya ke kasur. Bantal dia bekapkan ke wajahnya, agar air matanya nggak keluar lagi. Yah, sebulan belakangan Shila cemas, gelisah dan takut kehilangan Andrew, cowok yang selama ini lai pedekate sama dia. Andrew, cowok tinggi atletis, rambut cepak dan bergaya tentara. Uhh… gaya cool-nya itu bikin Shila kepincut abis.
Tapi sayang, sebelum Andrew nembak dia, ada kabar, kalau Andrew mulai dekat dengan Carmelita, cewek hitam manis tapi pinternya minta ampun. Lita dia biasa dipanggil, meski nggak cantik banget, inner beauty-nya bikin cowok klepek-klepek.
Lita dan Shila berteman dekat sejak masuk ke sekolah favorit di kota mereka. Walaupun nggak sekelas, mereka cukup akrab. Tapi sejak mendengar kabar Andrew mulai dekat sama Lita, Shila lebih banyak menghindar dari dua temannya itu. Herannya Shila nggak melihat, mereka tuh sebenarnya ngerasa.
Ternyata berita itu bukan isapan jempol. Soalnya beberapa kali Shila memergoki Andrew dan Lita lagi istirahat di kantin, makan bakso bareng. Trus, minggu lalu, Shila melihat mereka lagi di took buku. Mereka tterlihat akrab banget. Pemandangan itu sudah cukup bukti, kalau mereka ada apa-apa.
“Hhh… kirain Valentine ini ada cowok yang bakal nembak gue. Ternyata… Lita yang TMT” Batin Shila, sambil meraih handuk dan masuk ke kamar mandi.
Ya, Shila berharap banget Valentine tahun ini nggak kayak tahun lalu. Garing, kering kerontang. Kayak krupuk dijemur seminggu.
***
Minggu pagi, sehari sebelum Valentine, Shila sengaja malas-malasan di tempat tidur setelah beberapa hari belakangan ngerjain PR terus kayak kerja rodi. Tiba-tiba handphone Shila teriak. Ada SMS dari Carmelita. Isinya…
“Shil, ntar sore gue ke rumah lo. Pokoknya ada hal penting yang musti diomongin.”
“Ada apalagi sih, udah nyerobot pacar temen, masih juga berani main kerumah.” Gerutu Shila sambil melempar handphone ke atas bantal.
Shila sengaja nggak balas SMS Lita. Dia menelungkupkan tubunya di kasurnya yang wangi dan empuk itu. Dia jadi ingat saat pertama kali kenalan sama Andrew. Cowok itu selalu bikin hatinya seneng dan nyamaaan… banget. Perlahan mata Shila terpejam dan… tertidur!
Shila mimpi berlari-lari mengejar Andrew dan Lita di kebun bunga. Sambil lari dia nangis-nangis nggak rela Andrew dibawa Lita. Slow motion gitu, kayak di sinetron. Tiba-tiba… gubrak! Dia jatuh tersandung. Detik itu juga… plok, plok, plok!! Pantatnya tersa ada yang mukul-mukul.
***
“Kwk… wkkk… bangun! Susah banget sih dibangunin dari tadi!” seru Lita.
Shila langsung duduk dan melotot melihat siapa yang ada di dekat tempat tidurnya. Dia menengok jam. Hahh… jam lima??!
“Lo… lo… mau ngapain? Mau ngasih tau lo udah jadian?” cerocos Lita langsung nyadar itu tadi hanya mimpi.
“Lo tuh ya… gue mau ngasih penjelasan nggak pernah dikasih penjelasan, ya udah gue nekad datang aja ke sini. Walaupun SMS nggak ada jawaban!”
Lita langsung duduk di sampingnya dan merangkul bahu Shila. Hangat! Layaknya sahabat sejati yang selalu dekat di hati.
“Heran, ini anak kok ngga ngerasa atu bego, sih?” dalam hati Shila.
“Gue tahu, lo tuh cemburu dan marah banget sama gue. Tapi sumpah, gue nggak ada apa-apa sama Andrew.”
Tangan Lita bertepuk dua kali dan… taraaaa, Andrew masuk kamar dengan senyum khasnya, membawa kado dan setangkai mawar merah. Dia menghampiri Shila yang pada saat itu penampilannya berantakan abis.
“Lita… lo keterlaluan! Gue kan lagi jelek seka….” Belum selesai cerocosan Shila, Andrew memotong dengan suara beratnya yang terdengar cowok banget.
“Apapun penampilan lo, di mata gue, lo tetep cantik Shil.” Ucap Andrew lembut.
“Jadi, gue deket sam Andrew soalnya dia yang minta. Dia pengen tahu seberapa besar sih lo suka sam dia. Dia pengen ngeyakinin dulu perasaan lo sama dia. Trus, gue juga kebetulan perlu sam dia. Soalnya adek gue kan pengen masuk tentara. Nah, gue nanya-nanya deh, gimana caranya. Secara bokapnya Andrew kan tentara.” Ringkas banget penjelasan Lita.
“Iya, terus terang gue juga ngerasa asyik aja saat ngobrol sama Lita. Jadi kayak nyambung aja terus. Makanya, kami sering jalan bareng. Tapi jujur, ini buat misi mulia gue, biar gue nggak kecewa saat nembak lo, Shil.” Tambah Andrew, masih dengan memamerkan senyum termanisnya.
“Jadi… diterima nggak?” Tanya Andrew sambil menyodorkan bunga mawarnya.
Shila hanya terbengong… Ziiing…!!

Nah, udah baca? sekarang baca cerpen yang buatan aku ya... -->


Gara-gara Tujuh Belas Tahun
Oleh: Adelia Herlisa
            “ Tolong, kalian jangan dateng ke kehidupan aku lagi, Retno Kinasih!” seru Aira dengan marahnya. Air mata mendesak di pelupuk matanya. Nyaris jatuh. Jika Aira tidak langsung menutup telepon dari Eno, mungkin air matanya sudah tumpah dengan isak sendu.
            Suasana kamarnya kosong, membuat Aira tidak merasa sungkan saat dadanya yang terguncang hebat menahan tangis. Akhirnya pertahanan gadis pintar ini runtuh juga.
            Ditengah isak tangisnya, tiba-tiba handphone Aira berdering. Telepon dari Eno lagi.
            “Kamu harus denger penjelasan aku dulu Ai! Selama ini kamu itu salah paham. Kamu selalu memandang aku sama Arya itu menghianati kamu. Padahal, kan…”
            “Sudahlah, En!” serang Aira sebelum Eno menuntaskan penjelasnnya.
            “Jangan banyak alasan. Mataku tidak tertutup, telingaku juga tidak tuli. Kamu mau menjelaskan apalagi dengan bukti-bukti yang sudah jelas itu?” kata Aira dengan nada membentak dan kemudian menutup telepon dari Eno.
            Tut… tut… tut…
            Eno hanya bisa terdiam mendengar bentakan Aira.
***
            Air mata Aira terjatuh lagi, kali ini tangisnya makin keras. Kemudian ia langsung membanting tubuhnya ke kasur. Ia langsung menyelimuti seluruh tubuhnya, walaupu sebenarnya cuaca di siang itu cukup panas. Seminggu belakangan memang Aira sangat galau, gelisah dan takut kehilangan Arya, mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Statistik yang penampilannya sederhana, tapi cerdas dan punya pribadi yang baik. Kerendahan hatinyalah yan membuat Aira menyimpan hati kepada laki-laki yang satu tahun lebih tua darinya itu.
            Tapi sayang, sebelum Arya menembak Aira, banyak kabar tersebar tentang kedekatan Arya dengan Eno, gadis berwajah oriental dengan rasa percaya diri yang super tinggi. Album akun Picasa Eno penuh dengan foto-fotonya dengan gaya yang tidak banyak orang berani menirunya. Meskipun begitu, Eno mempunyai inner beauty yang membuat banyak laki-laki tertarik padanya.
            Aira dan Eno bukan teman yang sangat akrab. Mereka mengawali perkenalan mereka lewat suatu forum di jejaring sosial, karena sebenarnya jarak temapt tinggal kedua remaja ini amatlah jauh. Aira tinggal di Padang Panjang sedangkan Eno tinggal di Solo. Mereka mulai menjadi teman akrab ketika Aira menjawab pertanyaan Eno di jejaring sosial hingga akhirnya mereka bertukar nomor telepon.
Tapi sejak mendengar kabar Arya mulai dekat dengan Eno, Aira lebih banyak menghindar dari dua temannya itu. Herannya, Aira tidak melihat perubahan sikap dari kedua temannya itu.
Ternyata berita tersebut bukan isapan jempol. Karena beberapa kali Aira sempat melihat Arya dan Eno berhubungan di jejaring social dengan kata-kata yang membuat Aira terbakar api cemburu. Tidak hanya itu, minggu lalu Aira menerima SMS dengan kata-kata yang tidak biasa dari Arya. Dari isinya yang menyebutkan nama Eno, Aira sadar bahwa SMS itu bukan untuk dia. Aira tidak pernah menanyakan hal tersebut kepada Ari karena ia takutArya marah.
Kejadian-kejadian itu sudah cukup menjadi bukti jika mereka mempunyai hubungan yang lebih dari sekedar teman biasa.
“Hha… kirain sweet seventeen nanti ada seseorang yang spesial yang sudah aku tunggu-tunggu. Ternyata… Eno…ahh!” gumam Aira sambil mengerjakan tugas-tugas yang membuat Aira tambah pusing.
Ya, Aira sangat berharap di ulang tahunnya ke tujuh belas nanti, ia mempunyai seseorang teman lelaki yang lebih dari teman biasa. Aira memang berjanji jika ia tidak akan pacaran sebelum usianya genap tujuh belas tahu.
***
Sabtu pagi, sehari sebelum ulang tahun Aira. Ia sengaja bermalas-malasan di kamarnya karena akhir-akhir minggu ini ia sibuk mengerjakan tuga-tugasnya yang menumpuk.
Tiba-tiba, handphone Aira bordering. Ada pean dari Eno. Isinya…
“Ai, nanti siang aku mau nelpon kamu. Ada hal penting yang mau aku bicarain. Penting!”
“Ada apa lagi sih? Belum puas kamu ngerebut pacar aku, masih berani telpon aku tanpa rasa bersalah.” Gerutu Aira sambil melemparkan handphone ke kasur.
Aira sengaja tidak menanggapi pesan dari Eno. Kembali ia membaringkan tubuhnya di kasur. Ia kembali teringat saat pertama ia mengenal Arya. Seorang lelaki yang mampu membuat Aira berubah dari gadis manja yang tomboy menjadi gadis yang lembut dan anggun. Perlahan kantuk mulai menyerang Aira, ia pun terhanyut dalam mimpi.
Aira bermimpi berlari bersama Eno di tenah hutan. Tanpa mereka sadari, di tengah jalan ada kubangan yang cukup dalam. Mereka terjerumus ke dalam kubangan itu. Tiba-tiba Arya datang. Ia mengulurkan tangannya kepada Eno, bukan Aira. Betapa sedihnya Aira, ia tidak dapat menangis karena ia sadar ia tidak mempunyai hak apa-apa terhadap mereka.
Aira tidak tahan, ia menangis dan menutup matanya. Tiba-tiba terdengar suara keras yang tidak asing di telinganya. Ia berharap suara itu dapat menolongnya keluar ari kubangan. Ketika ia membuka matanya, ia tersadar bahwa kejadian tadi hanya mimpi. Suara keras yang didengarnya tadi adalah suara telepon dari Eno.
Denga terpaksa diangkatnyalah telepon dari Eno.
“Halo Ai. Maaf aku lancang menelpon kamu tanpa izin, aku terpaksa. Eitss… jangan dimatiin dulu. Aku sudah menelpon Ari juga. Sekarang kita selesaikan kesalah pahaman yang terjadi di antara kita!” seru Eno sambil meyakinkan Aira.
“Sudahlah, kalian mengaku saja. Semuanya sudah jelas kok. Kalian pacaran kan..”
“Enggak Ai, sumpah deh. Tanya sama Arya.” Potong Eno.
“Kalian ngga usah bohong. Aku terima kok, mungkin Arya bukanlah laki-laki yang dipilih buat aku. Sudah…” Serang Aira sambil menahan tangis.
“Kamu salah paham, Ai. Aku sama Arya itu tidak ada hubungan apa-apa, Cuma temen Ai. Kami memang deket, tapi itu semua biar Arya bisa deket sama kamu!” Jelas Eno dengan nada agak keras.
“mau ngedeketin gimana? Aku sama Arya juga udah deket dari dulu kali. Jadi, apa yang mau dideketin?” Sahut Aira yang mulai membiarkan Eno mencoba menjelaskan.
“Arya, keluarkan suaramu. Tolong bantu jelasin sama orang yang selama ini kamu kagumi. Arya…!” Kesal Eno.
“Emm… Ai, maaf sebelumnya. Saya ingin jujur sama Aira.” Arya mulai berbicara.
Hati Aira beguncang keras, firasatnya merasakan Arya akan mengatakan hal yang buruk. Ternyata benar, Arya mulai berbicara jujur.
“Ai, memang waktu itu saya mempunyai rasa yang melebihi dari sekedar teman sama Aira. Saya tidak berani mengungkapkannya, karena saya tahu Ai punya janji tidak akan pacaran sebelum usia Ai genap tujuh belas tahun. Makanya saya belum berani mengungkapkan rasa sayang ke Ai. Dan karena itu juga saya mendekati Eno biar saya lebih dekat dengan Ai.” Jelas Arya yang mulai gugup. Tiba-tiba Arya terdiam
“Terus ya, katakanlah apa yang mau ungkapin!” Paksa Eno kepada Arya.
“Tetapi seiring berjalannya waktu, saya mengakui bahwa saya jatuh cinta pada Eno. Maaf Ai, tapi saya masih mengagumi pribadi Ai sebagai adik saya.” Jelas Arya lagi dengan rasa bersalah.
Aira terdiam, ia tidak bisa berkata-kata lagi. Air matanya menetes mendengar setiap ucapan yang keluar dari mulut Arya. Sementara Eno sangat terkejut. Ia langsung menutup telepon karena merasa sangat bersalah kepada Aira.
“Kok jadi gini sih? Aduh… Arya, benarkah kamu?” gumamnya usai menutup telepon.
Dengan gemetar, Eno menelpon Aira kembali. Ia berharap Aira mengangkat telepon darinya.
“Ada apa lagi?” Jawab Aira dengan nada yang pelan dari sebelumnya.
“Sebelumnya aku minta maaf lagi Ai. Aku benar-benar tidak tahu kalo Arya akan berkata seperti itu. Aku sangat kecewa kepada dia.” Bujuk Eno.
“Sudahlah En, aku sudah mengerti. Cinta itu tidak bisa dipaksakan. Terima saja Ari. Mungkin dia lebih pantas untuk Eno, bukan aku.” Jawab Aira sambil menaha tangis.
“Kamu bicara apa, sampai saat ini aku belum percaya dengan apa yang dikatakan Arya tadi!” Sahut Eno mencoba meyakinkan Aira.
“Sudah, sudah cukup En. Tolong kamu terima Arya, demi aku En. Jika Arya bahagia, aku bahagia. Ini akan jadi kado sweet seventeen aku nanti.”
“Aku ngga bisa Ai, kamu temen aku. Walau kita bukan sahabat.”
“Tolong terima dia!”
Tuutt… tuutt.. tuutt…
Aira menutup teleponnya. Ia berusaha menahan tangis dengan senyum keikhlasannya. Tidak ada lagi rasa kegelisahan yang tersimpan dalam hatinya.  sekarang Aira berusaha untuk bersikap dewasa. Walau sebenarnya sikap manja dan tomboinya masih melekat.
***
keesokkan malamnya, usia Aira akan genap menjadi tujuh belas tahun. Ia tidak berharap banyak dengan ulang tahun impiannya ini. Ia hanya mengurung diri di kamar dengan buku-buku kesayangannya.
Satu menit sebelum tengah jam dua belas malam, handphone Aira bordering.
“Halo… Ini si..”
“Ini Eno. Selamat ulang tahun ya. Maaf, aku bukannya ngasih kado spesial buat sweet seventeen kamu. Eh, gara-gara aku malah kamu sakit hati.”
“Hha… Ngga apa-apa kok En. Aku sudah biasa merasakan sakit hati. Ngomong-ngomong kamu sudah nerima Arya belum?”
“Hmm… Demi kamu, aku coba terima dia. Mungkin kamu benar, dia mungkin dipilihkan untuk aku.”
“ya, baguslah kalo begitu. Semoga hubungan kalian berjalan dengan baik.”
“Amin. Sekali lagi Happy Birthday Sweet Seventeen ya Ai, nanti kadonya saya kirim lewat pos aja ya.”
Tiba-tiba, ada panggilan masuk lain di handphone Aira.
“Hha.. terserah. Aku tutup ya teleponnya. Ada panggiilan lain nih”
Tuutt… tuutt..
“Halo, ini siapa?” Tanya Aira.
Happy Birthday Ai, aku pengagum rahasiamu.”
Tuutt… tuutt… tuutt…
TAMAT



1 comments on "Tugas Bahasa Indonesia Ibu Mimi :)"

ADELIA HERLISA on December 2, 2011 at 5:41 AM said...

this story just for my assigment in school. remembar it...

Post a Comment

Thursday, December 1, 2011

Tugas Bahasa Indonesia Ibu Mimi :)


Berhubung saya ngga bisa ngusun  kata-kata jadi paragraf yang padu, makanya saya nyontoh cerpennya orang lain. ngga semuanya sih , cuma cara dianya nulis cerpen aja. Hhe... tapi idenya orisinil ide aku lho...
Makanya sebelum baca cerpen buatan aku, baca dulu nih cerpen aslinya. cekidot... =D



Valentine Nggak Garing Lagi
Oleh : Bening Sariwati
“Plis, lo jangan ke kelas gue lagi, Carmelita Situmorang!” seru Shila dengan marah. Air mata mendesak di pelupuk matanya. Nyaris bobol. Kalau Shila nggak langsung membuang pandangan matanya kea rah pohon cemara di depan kelas, mungkin air matanya tumpah.
Suasana kelas kosong, bikin Shila nggak malu saat dadanya terguncang hebat menahan tangis. Akhirnya pertahanan cewek berwajah oriental ini bobol juga.
“ Tapi lo harus denger dulu Shil, keterangan gue! Lo selama ini salah paham dan selalu mandang gue sama Andrew mengkhianati lo. Padahal, kan…”
“Udah deh!” serang Shila sebelum Carmelita menghabiskan kalimatnya.
“Jangan banyak alasan. Bukti sudah jelas, mau dijelasin apa lagi?” kata Shila sambil beranjak dan berjalan cepat meninggalkan kelas.
Carmelita terbengong meliahat temannya pergi begitu saja.
***
Sampai di rumah, Shila langsung membanting tubuhnya ke kasur. Bantal dia bekapkan ke wajahnya, agar air matanya nggak keluar lagi. Yah, sebulan belakangan Shila cemas, gelisah dan takut kehilangan Andrew, cowok yang selama ini lai pedekate sama dia. Andrew, cowok tinggi atletis, rambut cepak dan bergaya tentara. Uhh… gaya cool-nya itu bikin Shila kepincut abis.
Tapi sayang, sebelum Andrew nembak dia, ada kabar, kalau Andrew mulai dekat dengan Carmelita, cewek hitam manis tapi pinternya minta ampun. Lita dia biasa dipanggil, meski nggak cantik banget, inner beauty-nya bikin cowok klepek-klepek.
Lita dan Shila berteman dekat sejak masuk ke sekolah favorit di kota mereka. Walaupun nggak sekelas, mereka cukup akrab. Tapi sejak mendengar kabar Andrew mulai dekat sama Lita, Shila lebih banyak menghindar dari dua temannya itu. Herannya Shila nggak melihat, mereka tuh sebenarnya ngerasa.
Ternyata berita itu bukan isapan jempol. Soalnya beberapa kali Shila memergoki Andrew dan Lita lagi istirahat di kantin, makan bakso bareng. Trus, minggu lalu, Shila melihat mereka lagi di took buku. Mereka tterlihat akrab banget. Pemandangan itu sudah cukup bukti, kalau mereka ada apa-apa.
“Hhh… kirain Valentine ini ada cowok yang bakal nembak gue. Ternyata… Lita yang TMT” Batin Shila, sambil meraih handuk dan masuk ke kamar mandi.
Ya, Shila berharap banget Valentine tahun ini nggak kayak tahun lalu. Garing, kering kerontang. Kayak krupuk dijemur seminggu.
***
Minggu pagi, sehari sebelum Valentine, Shila sengaja malas-malasan di tempat tidur setelah beberapa hari belakangan ngerjain PR terus kayak kerja rodi. Tiba-tiba handphone Shila teriak. Ada SMS dari Carmelita. Isinya…
“Shil, ntar sore gue ke rumah lo. Pokoknya ada hal penting yang musti diomongin.”
“Ada apalagi sih, udah nyerobot pacar temen, masih juga berani main kerumah.” Gerutu Shila sambil melempar handphone ke atas bantal.
Shila sengaja nggak balas SMS Lita. Dia menelungkupkan tubunya di kasurnya yang wangi dan empuk itu. Dia jadi ingat saat pertama kali kenalan sama Andrew. Cowok itu selalu bikin hatinya seneng dan nyamaaan… banget. Perlahan mata Shila terpejam dan… tertidur!
Shila mimpi berlari-lari mengejar Andrew dan Lita di kebun bunga. Sambil lari dia nangis-nangis nggak rela Andrew dibawa Lita. Slow motion gitu, kayak di sinetron. Tiba-tiba… gubrak! Dia jatuh tersandung. Detik itu juga… plok, plok, plok!! Pantatnya tersa ada yang mukul-mukul.
***
“Kwk… wkkk… bangun! Susah banget sih dibangunin dari tadi!” seru Lita.
Shila langsung duduk dan melotot melihat siapa yang ada di dekat tempat tidurnya. Dia menengok jam. Hahh… jam lima??!
“Lo… lo… mau ngapain? Mau ngasih tau lo udah jadian?” cerocos Lita langsung nyadar itu tadi hanya mimpi.
“Lo tuh ya… gue mau ngasih penjelasan nggak pernah dikasih penjelasan, ya udah gue nekad datang aja ke sini. Walaupun SMS nggak ada jawaban!”
Lita langsung duduk di sampingnya dan merangkul bahu Shila. Hangat! Layaknya sahabat sejati yang selalu dekat di hati.
“Heran, ini anak kok ngga ngerasa atu bego, sih?” dalam hati Shila.
“Gue tahu, lo tuh cemburu dan marah banget sama gue. Tapi sumpah, gue nggak ada apa-apa sama Andrew.”
Tangan Lita bertepuk dua kali dan… taraaaa, Andrew masuk kamar dengan senyum khasnya, membawa kado dan setangkai mawar merah. Dia menghampiri Shila yang pada saat itu penampilannya berantakan abis.
“Lita… lo keterlaluan! Gue kan lagi jelek seka….” Belum selesai cerocosan Shila, Andrew memotong dengan suara beratnya yang terdengar cowok banget.
“Apapun penampilan lo, di mata gue, lo tetep cantik Shil.” Ucap Andrew lembut.
“Jadi, gue deket sam Andrew soalnya dia yang minta. Dia pengen tahu seberapa besar sih lo suka sam dia. Dia pengen ngeyakinin dulu perasaan lo sama dia. Trus, gue juga kebetulan perlu sam dia. Soalnya adek gue kan pengen masuk tentara. Nah, gue nanya-nanya deh, gimana caranya. Secara bokapnya Andrew kan tentara.” Ringkas banget penjelasan Lita.
“Iya, terus terang gue juga ngerasa asyik aja saat ngobrol sama Lita. Jadi kayak nyambung aja terus. Makanya, kami sering jalan bareng. Tapi jujur, ini buat misi mulia gue, biar gue nggak kecewa saat nembak lo, Shil.” Tambah Andrew, masih dengan memamerkan senyum termanisnya.
“Jadi… diterima nggak?” Tanya Andrew sambil menyodorkan bunga mawarnya.
Shila hanya terbengong… Ziiing…!!

Nah, udah baca? sekarang baca cerpen yang buatan aku ya... -->


Gara-gara Tujuh Belas Tahun
Oleh: Adelia Herlisa
            “ Tolong, kalian jangan dateng ke kehidupan aku lagi, Retno Kinasih!” seru Aira dengan marahnya. Air mata mendesak di pelupuk matanya. Nyaris jatuh. Jika Aira tidak langsung menutup telepon dari Eno, mungkin air matanya sudah tumpah dengan isak sendu.
            Suasana kamarnya kosong, membuat Aira tidak merasa sungkan saat dadanya yang terguncang hebat menahan tangis. Akhirnya pertahanan gadis pintar ini runtuh juga.
            Ditengah isak tangisnya, tiba-tiba handphone Aira berdering. Telepon dari Eno lagi.
            “Kamu harus denger penjelasan aku dulu Ai! Selama ini kamu itu salah paham. Kamu selalu memandang aku sama Arya itu menghianati kamu. Padahal, kan…”
            “Sudahlah, En!” serang Aira sebelum Eno menuntaskan penjelasnnya.
            “Jangan banyak alasan. Mataku tidak tertutup, telingaku juga tidak tuli. Kamu mau menjelaskan apalagi dengan bukti-bukti yang sudah jelas itu?” kata Aira dengan nada membentak dan kemudian menutup telepon dari Eno.
            Tut… tut… tut…
            Eno hanya bisa terdiam mendengar bentakan Aira.
***
            Air mata Aira terjatuh lagi, kali ini tangisnya makin keras. Kemudian ia langsung membanting tubuhnya ke kasur. Ia langsung menyelimuti seluruh tubuhnya, walaupu sebenarnya cuaca di siang itu cukup panas. Seminggu belakangan memang Aira sangat galau, gelisah dan takut kehilangan Arya, mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Statistik yang penampilannya sederhana, tapi cerdas dan punya pribadi yang baik. Kerendahan hatinyalah yan membuat Aira menyimpan hati kepada laki-laki yang satu tahun lebih tua darinya itu.
            Tapi sayang, sebelum Arya menembak Aira, banyak kabar tersebar tentang kedekatan Arya dengan Eno, gadis berwajah oriental dengan rasa percaya diri yang super tinggi. Album akun Picasa Eno penuh dengan foto-fotonya dengan gaya yang tidak banyak orang berani menirunya. Meskipun begitu, Eno mempunyai inner beauty yang membuat banyak laki-laki tertarik padanya.
            Aira dan Eno bukan teman yang sangat akrab. Mereka mengawali perkenalan mereka lewat suatu forum di jejaring sosial, karena sebenarnya jarak temapt tinggal kedua remaja ini amatlah jauh. Aira tinggal di Padang Panjang sedangkan Eno tinggal di Solo. Mereka mulai menjadi teman akrab ketika Aira menjawab pertanyaan Eno di jejaring sosial hingga akhirnya mereka bertukar nomor telepon.
Tapi sejak mendengar kabar Arya mulai dekat dengan Eno, Aira lebih banyak menghindar dari dua temannya itu. Herannya, Aira tidak melihat perubahan sikap dari kedua temannya itu.
Ternyata berita tersebut bukan isapan jempol. Karena beberapa kali Aira sempat melihat Arya dan Eno berhubungan di jejaring social dengan kata-kata yang membuat Aira terbakar api cemburu. Tidak hanya itu, minggu lalu Aira menerima SMS dengan kata-kata yang tidak biasa dari Arya. Dari isinya yang menyebutkan nama Eno, Aira sadar bahwa SMS itu bukan untuk dia. Aira tidak pernah menanyakan hal tersebut kepada Ari karena ia takutArya marah.
Kejadian-kejadian itu sudah cukup menjadi bukti jika mereka mempunyai hubungan yang lebih dari sekedar teman biasa.
“Hha… kirain sweet seventeen nanti ada seseorang yang spesial yang sudah aku tunggu-tunggu. Ternyata… Eno…ahh!” gumam Aira sambil mengerjakan tugas-tugas yang membuat Aira tambah pusing.
Ya, Aira sangat berharap di ulang tahunnya ke tujuh belas nanti, ia mempunyai seseorang teman lelaki yang lebih dari teman biasa. Aira memang berjanji jika ia tidak akan pacaran sebelum usianya genap tujuh belas tahu.
***
Sabtu pagi, sehari sebelum ulang tahun Aira. Ia sengaja bermalas-malasan di kamarnya karena akhir-akhir minggu ini ia sibuk mengerjakan tuga-tugasnya yang menumpuk.
Tiba-tiba, handphone Aira bordering. Ada pean dari Eno. Isinya…
“Ai, nanti siang aku mau nelpon kamu. Ada hal penting yang mau aku bicarain. Penting!”
“Ada apa lagi sih? Belum puas kamu ngerebut pacar aku, masih berani telpon aku tanpa rasa bersalah.” Gerutu Aira sambil melemparkan handphone ke kasur.
Aira sengaja tidak menanggapi pesan dari Eno. Kembali ia membaringkan tubuhnya di kasur. Ia kembali teringat saat pertama ia mengenal Arya. Seorang lelaki yang mampu membuat Aira berubah dari gadis manja yang tomboy menjadi gadis yang lembut dan anggun. Perlahan kantuk mulai menyerang Aira, ia pun terhanyut dalam mimpi.
Aira bermimpi berlari bersama Eno di tenah hutan. Tanpa mereka sadari, di tengah jalan ada kubangan yang cukup dalam. Mereka terjerumus ke dalam kubangan itu. Tiba-tiba Arya datang. Ia mengulurkan tangannya kepada Eno, bukan Aira. Betapa sedihnya Aira, ia tidak dapat menangis karena ia sadar ia tidak mempunyai hak apa-apa terhadap mereka.
Aira tidak tahan, ia menangis dan menutup matanya. Tiba-tiba terdengar suara keras yang tidak asing di telinganya. Ia berharap suara itu dapat menolongnya keluar ari kubangan. Ketika ia membuka matanya, ia tersadar bahwa kejadian tadi hanya mimpi. Suara keras yang didengarnya tadi adalah suara telepon dari Eno.
Denga terpaksa diangkatnyalah telepon dari Eno.
“Halo Ai. Maaf aku lancang menelpon kamu tanpa izin, aku terpaksa. Eitss… jangan dimatiin dulu. Aku sudah menelpon Ari juga. Sekarang kita selesaikan kesalah pahaman yang terjadi di antara kita!” seru Eno sambil meyakinkan Aira.
“Sudahlah, kalian mengaku saja. Semuanya sudah jelas kok. Kalian pacaran kan..”
“Enggak Ai, sumpah deh. Tanya sama Arya.” Potong Eno.
“Kalian ngga usah bohong. Aku terima kok, mungkin Arya bukanlah laki-laki yang dipilih buat aku. Sudah…” Serang Aira sambil menahan tangis.
“Kamu salah paham, Ai. Aku sama Arya itu tidak ada hubungan apa-apa, Cuma temen Ai. Kami memang deket, tapi itu semua biar Arya bisa deket sama kamu!” Jelas Eno dengan nada agak keras.
“mau ngedeketin gimana? Aku sama Arya juga udah deket dari dulu kali. Jadi, apa yang mau dideketin?” Sahut Aira yang mulai membiarkan Eno mencoba menjelaskan.
“Arya, keluarkan suaramu. Tolong bantu jelasin sama orang yang selama ini kamu kagumi. Arya…!” Kesal Eno.
“Emm… Ai, maaf sebelumnya. Saya ingin jujur sama Aira.” Arya mulai berbicara.
Hati Aira beguncang keras, firasatnya merasakan Arya akan mengatakan hal yang buruk. Ternyata benar, Arya mulai berbicara jujur.
“Ai, memang waktu itu saya mempunyai rasa yang melebihi dari sekedar teman sama Aira. Saya tidak berani mengungkapkannya, karena saya tahu Ai punya janji tidak akan pacaran sebelum usia Ai genap tujuh belas tahun. Makanya saya belum berani mengungkapkan rasa sayang ke Ai. Dan karena itu juga saya mendekati Eno biar saya lebih dekat dengan Ai.” Jelas Arya yang mulai gugup. Tiba-tiba Arya terdiam
“Terus ya, katakanlah apa yang mau ungkapin!” Paksa Eno kepada Arya.
“Tetapi seiring berjalannya waktu, saya mengakui bahwa saya jatuh cinta pada Eno. Maaf Ai, tapi saya masih mengagumi pribadi Ai sebagai adik saya.” Jelas Arya lagi dengan rasa bersalah.
Aira terdiam, ia tidak bisa berkata-kata lagi. Air matanya menetes mendengar setiap ucapan yang keluar dari mulut Arya. Sementara Eno sangat terkejut. Ia langsung menutup telepon karena merasa sangat bersalah kepada Aira.
“Kok jadi gini sih? Aduh… Arya, benarkah kamu?” gumamnya usai menutup telepon.
Dengan gemetar, Eno menelpon Aira kembali. Ia berharap Aira mengangkat telepon darinya.
“Ada apa lagi?” Jawab Aira dengan nada yang pelan dari sebelumnya.
“Sebelumnya aku minta maaf lagi Ai. Aku benar-benar tidak tahu kalo Arya akan berkata seperti itu. Aku sangat kecewa kepada dia.” Bujuk Eno.
“Sudahlah En, aku sudah mengerti. Cinta itu tidak bisa dipaksakan. Terima saja Ari. Mungkin dia lebih pantas untuk Eno, bukan aku.” Jawab Aira sambil menaha tangis.
“Kamu bicara apa, sampai saat ini aku belum percaya dengan apa yang dikatakan Arya tadi!” Sahut Eno mencoba meyakinkan Aira.
“Sudah, sudah cukup En. Tolong kamu terima Arya, demi aku En. Jika Arya bahagia, aku bahagia. Ini akan jadi kado sweet seventeen aku nanti.”
“Aku ngga bisa Ai, kamu temen aku. Walau kita bukan sahabat.”
“Tolong terima dia!”
Tuutt… tuutt.. tuutt…
Aira menutup teleponnya. Ia berusaha menahan tangis dengan senyum keikhlasannya. Tidak ada lagi rasa kegelisahan yang tersimpan dalam hatinya.  sekarang Aira berusaha untuk bersikap dewasa. Walau sebenarnya sikap manja dan tomboinya masih melekat.
***
keesokkan malamnya, usia Aira akan genap menjadi tujuh belas tahun. Ia tidak berharap banyak dengan ulang tahun impiannya ini. Ia hanya mengurung diri di kamar dengan buku-buku kesayangannya.
Satu menit sebelum tengah jam dua belas malam, handphone Aira bordering.
“Halo… Ini si..”
“Ini Eno. Selamat ulang tahun ya. Maaf, aku bukannya ngasih kado spesial buat sweet seventeen kamu. Eh, gara-gara aku malah kamu sakit hati.”
“Hha… Ngga apa-apa kok En. Aku sudah biasa merasakan sakit hati. Ngomong-ngomong kamu sudah nerima Arya belum?”
“Hmm… Demi kamu, aku coba terima dia. Mungkin kamu benar, dia mungkin dipilihkan untuk aku.”
“ya, baguslah kalo begitu. Semoga hubungan kalian berjalan dengan baik.”
“Amin. Sekali lagi Happy Birthday Sweet Seventeen ya Ai, nanti kadonya saya kirim lewat pos aja ya.”
Tiba-tiba, ada panggilan masuk lain di handphone Aira.
“Hha.. terserah. Aku tutup ya teleponnya. Ada panggiilan lain nih”
Tuutt… tuutt..
“Halo, ini siapa?” Tanya Aira.
Happy Birthday Ai, aku pengagum rahasiamu.”
Tuutt… tuutt… tuutt…
TAMAT



1 comments:

ADELIA HERLISA on December 2, 2011 at 5:41 AM said...

this story just for my assigment in school. remembar it...

Post a Comment

Welcome to My Blog

Popular Post

Blogger templates

My Blog List

Sample text

Pageviews past week

shoutbox zone


ShoutMix chat widget

clock link

flag counter zone

free counters

Ads Header

Followers

About Me

Followers

Friends

Blog Archive

Ajari aku ‘tuk bisa Menjadi yang engkau cinta Agar ku bisa memiliki rasa Yang luar biasa untukku dan untukmu

web counter zone

Best Free Cute WordPress Themes

Hiya!

Welcome to Cutie Gadget, the place that love to post Cute Gadgets and Cute Stuff. Today I will share you my findings about Cute Wordpress Themes. These themes are really good if you create Cute themed Blog, Girls blog, Candy blog, or children blog as themes Free Cute Blog Templates really suitable for that reason. Ok, here’s the list :

pink cute themes 300x144 Best Free Cute Wordpress Themes

This Cute Candy themed Worpress template called Pink-Kupy. The color is combination of Gradation of pink, from Soft pink to vibrant pink. However, the background color is dark grey and white, they’re made to harmonised the pinky color. A really nice Pink Wordpress themes :) Free Download here

leaf cute themes 300x150 Best Free Cute Wordpress Themes

If you bored with regular Wordpress backgrond that using the usual color backgrond, then this wordpress themes is good for you.I really like the leaf green background, blended with white color. Look simple, cute and nice! Download here

greenery wordpress 300x145 Best Free Cute Wordpress Themes

The last but not the least, here is the Beautiful themes named Greenery. The color lime green, which looked really fresh and nice. I really like the tree color, looked cute because the cartoon styled drawing. Download here.

If don’t use worpdress, but using Blogger or Blogspot as your Blogging Platform, you can check out my Post about Cute Blogger Themes

Popularity: 1% [?]

Artikel Best Free Cute WordPress Themes Proudly presented by The Most Unique Gadget Blog. Please also see our sister site:Free Powerpoint Templates and Themes to get Free Powerpoint Template for school, business, medical presentation and many more!.

calender zone

Pages

my stuff and life. Powered by Blogger.
There was an error in this gadget

- Copyright © my zoONne -Robotic Notes- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -