Pages

Tuesday, November 9, 2010

PERBEDAAN PUISI LAMA DENGAN PUISI BARU

Puisi Indonesia lama disebut juga puisi melayu klasik. Sesuai dengan masyarakat lama, puisi melayu klasik ini mengekspresikan pikiran, gagasan, perasaan orang pada zamannya, dan adat istiadat pada zaman itu.

Ada macam-macam jenis puisi lama: puisi mantra, seloka, gurindam, pantun, dan syair

Pantun adalah jenis puisi lama yang terdiri dari empat baris, memiliki rima (persamaan bunyi) / a b a b /, dengan baris pertama dan kedua merupakan sampiran (semacam teka-teki) dan baris ketiga dan empat merupakan isi.

Contoh:

Tanam melati di rama-rama

Ubur-ubur sampingan dua

Biarlah mati kita bersama

Satu kubur kita berdua




Gurindam adalah jenis puisi lama yang terdiri atas dua baris, semuanya merupakan isi dan menunjukkan hubungan sebab akibat. Gurindam yang terkenal ditulis oleh Raja Ali Haji yang berjudul “Gurindam Dua Belas” yang terdiri atas dua belas pasal:

I

Barang siapa mengenal Allah

suruh dan tegahnya tiada ia menyalah

Barang siapa mengenal akhirat

tahulah ia dunia mudarat

II

Barangsiapa meninggalkan sembahyang

seperti rumah tiada bertiang

Barangsiapa meninggalkan zakat

Tiadalah hartanya beroleh berkat

III

Apabila terpelihara lidah

niscaya dapat daripadanya paedah

Apabila perut terlalu penuh

Keluarlah fiil yang tiada senunuh

IV

Hati itu kerajaan di dalam tubuh

jikalau lalim, segala anggota pun rubuh

Pekerjaan marah jangan dibela

nanti hilang akal di kepala

V

Jika hendak mengenal orang yang berilmu

bertanya dan belajar tiadalah jemu

Jika hendak mengenal orang yang berakal

di dalam dunia mengambil bekal




VI

Cahari olehmu akan sahabat

yang boleh dijadikan obat

Cahari olehmu akan guru

yang boleh tahukah tiap seteru

VII

Apabila banyak berkata-kata

di situlah jalan masuknya dusta

Apabila anak tidak dilatih

jika besar bapaknya letih

VIII

Kepada dirinya ia aniaya

orang itu jangan engkau percaya

Keaiban orang jangan dibuka

keaiban diri hendaklah sangkaz

IX

Perkumpulan laki-laki dengan perempuan

di situlah syaitan punya jamuan

Jika orang muda kuat berguru

dengan syaitan jadi berseteru

X

Dengan bapa jangan durhaka

supaya Allah tidak murka

Dengan ibu hendaklah hormat

supaya badan dapat selamat

XI

Hendaknya jadi kepala

buang perangai yang cela

Hendaklah memegang amanat

Buanglah segala khianat

XII

Ingatkan dirinya mati

itulah asal berbuat bakti

Akhirat itu terlalu nyata

kepada hati yang tidak buta


Syair berasal dari Arab yang artinya puisi (sajak). Dalam kesusastraan Indonesia, syair berarti puisi lama yang terdiri atas empat baris per bait, memiliki rima / a a a a /. Semua baris merupakan isi dan biasanya tidak selesai dalam satu bait karena digunakan untuk bercerita

1. Terdiri atas 4 baris sebait
2. Terdiri atas 4 atau 5 kata sebaris
3. Terdiri atas 8 sampai dengan 12 suka kata sebaris
4. Berima aaaa
5. Seluruh bait berupa isi


Lalulah berjalan Ken Tambuhan

diiringkah penglipur dengan tadahan

lemah lembut berjalan perlahan-lahan

lakunya manis memberi kasihan


Tunduk menangis segala puteri

Masing-masing berkata sama sendiri

Jahatnya perangai permaisuri

Lakunya seperti jin dan peri


Puisi Indonesia baru disebut juga puisi Indonesia modern. Sesuai dengan masyarakat baru. Puisi Indonesia modern mengedepankan pikiran, gagasan, perasaan orang pada masa kini.

Puisi Indonesia baru tidak dapat dipisahkan dari puisi lama sama sekali karena masih ada hubungan kesejajaran. Sastra yang baru merupakan tanggapan (response) sastra lama. Begitu juga puisi Indonesia baru merupakan tanggapan terhadap puisi Indonesia lama.

Puisi lama sangat terikat pada aturan-aturan yang ketat, yang mutlak. Dalam arti, aturan-aturan itu tidak boleh diubah atau tidak boleh dilanggar. Seperti halnya, bentuk syair dan pantun, pola sajak akhir syair harus a – a – a – a dan pantun harus berpola sajak akhir a – b – a – b.

Dalam puisi baru aturan-aturan itu dapat diperlonggar meskipun masih ada pola sajak akhir. Begitu juga, pembaitannya puisi baru menjadi lebih longgar. Dalam puisi lama tidak ada bait sajak yang gasal, dalam puisi baru ada bait sajak 3 baris, 5 baris, atau 9 baris.


Puisi Indonesia baru (modern) berkembang sejak 1920 hingga sekarang. Sesuai dengan perkembangan kesusastraan dan zaman, bentuk dan muatan puisi Indonesia baru selalu berkembang. Dengan demikian, jenis-jenis puisi Indonesia baru menjadi beragam-ragam.


Pada umumnya, puisi Indonesia baru dibagi menjadi angkatan-angkatan dan periode-periode, sebagai berikut:

1. Periode angkatan Pra-Pujangga Baru: 1920 – 1933
2. Periode Pujangga Baru: 1933 – 1942
3. Periode Angkatan 45: 1942 – 1955
4. Periode 1955 – 1970 (oleh Jassin disebut angkatan 66)
5. Periode 1970 – 1990


Dalam kurun waktu 1920-1996 ini berkembang jenis-jenis puisi Indonesia baru, soneta, balada, puisi bebas, pantun modern, puisi bergaya mantera, puisi cerita, puisi magis, distikon, tarzina, kuatrin, kuint, sektet, septina, stanza, ode, himne, elegi, epigram, satire, romance.


Puisi baru menurut jumlah baris puisi:

1. Distikon adalah puisi baru yang tiap baitnya berjumlah 2 baris
2. Tarzina adalah puisi baru yang tiap baitnya berjumlah 3 baris
3. Kuatrin adalah puisi baru yang tiap baitnya berjumlah 4 baris
4. Kuint adalah puisi baru yang tiap baitnya berjumlah 5 baris
5. Sektet adalah puisi baru yang tiap baitnya berjumlah 6 baris
6. Septina adalah puisi baru yang tiap baitnya berjumlah 7 baris
7. Stanza adalah puisi baru yang tiap baitnya berjumlah 8 baris


Puisi baru menurut isi/makna puisi:

• Ode adalah sajak yang isinya mengandung pujian kepada seseorang, suatu bangsa, atau sesuatu yang dianggap mulia

• Himne adalah sajak pujian kepada Tuhan yang Mahakuasa

• Elegi adalah sajak yang berisi duka nestapa

• Epigram adalah sajak yang berisi tentang ajaran moral

• Satire adalah sajak yang isinya mengecam, mengejek dengan kasar

• Romance adalah sajak yang berisi tentang cinta kasih

• Balada adalah sajak yang berisi cerita atau kisah yang mungkin terjadi atau hanya khayalan penyairnya saja

Puisi periode 1955-1970 masih meneruskan juga puisi liris Angkatan 45, tetapi pada periode itu muncul puisi balada. Balada ini digemari oleh para penyair muda pada waktu itu. Puisi balada ini berasaldari Barat (Inggris). Penyair yang pertama kali mempergunakan nama balada adalah W.S. Rendra.


Pada periode 1970-1990 timbul puisi (bergaya) mantera yang dipelopori oleh Sutardji Calzoum Bachri. Puisi mantera ini untuk menguasai dunia gaib, untuk konsentrasi, dan mendekatkan diri kepada tuhan. Akan tetapi juga untuk melukiskan bahan atau masalah-masalah lain.

Puisi-puisi Periode tahun 1950-an:


1. Rendra
2. Ramadhan K.H.
3. Ajip Rosidi
4. Subagio Sastrowardoyo
5. Teoti Heraty
6. Wing Karjo
7. Toto Sodarto Bachtiar
8. Rachmat Djoko Pradopo
9. Soeparwoto Wiraatmaja

Puisi-puisi Periode tahun 1960-1980:

1. Goenawan Mohamad
2. Taufiq Ismail
3. Sapardi Djoko Damono
4. Hartoyo Andangjaya
5. Sutardji Calzoum Bachri
6. Abdul Hadi W.M.
7. Yudhistira Adinugraha Massardi
8. Apip Mustofa
9. Piek Ardiyanto Supriyadi
10. Linus Suryadi Ag.
11. D. Zawawi Imron


Puisi Periode 1980-2000:


1. Hamid Jabar
2. Emha Ainun Nadjib
3. Agnes Sri Hartini Arswendo
4. Ahmadun Y. Herfanda
5. F. Rahardi
6. Rita Oetoro
7. Dorothea Rosa Herliany
8. Eka Budiana
9. Acep Zamzam Noor
10. K.H. Mustofa Bisri

No comments:

Post a Comment