Archive for 2010-10-24

perkebunan ganja skala home industry

Friday, October 29, 2010
Posted by anonimus
Tag :
perkebunan ganja skala "HOME INDUSTRY" yang ada di salah satu negara bagian AMERIKA SERIKAT
Bagian depan rumah yang tampak biasa saja. Tidak terlihat mencurigakan.
Spoiler for perkebunan ganja:
Posted by anonimus
Tag :
Piranha Raksasa Pemakan Buaya





Selama ini kita mengenal Piranha adalah jenis ikan kecil pemakan daging yang berhabitat di sepanjang Sungai Amazone. Kita tak pernah tahu di Sungai Kongo ada satu jenis ikan mirip Piranha yang mampu menyantap seekor buaya.
ada kegunaan lain dari cairan tubuh ini, yaitu dapat mengobati jerawat

meskipun tidak semua orang mengakuinya, namun beberapa telah mencoba bentuk pengobatan jerawat ini di beberapa waktu dalam kehidupan mereka. 

Jadi, bagaimana mungkin urin membantu mencegah jerawat dan jerawat?




INILAH.COM, Jakarta- Astronom berhasil merekam dua bola api luar biasa yang berasal dari komet terdekat dalam kurun 24 tahun terakhir. Bola api itu menimbulkan spekulasi hujan meteor.
Untuk melakukan Withdraw (Tarik Tunai) di ATM inipara Nasabah diharuskan menyelesaikan Soal-Soal Matematika dahulu, baru setelah itu mereka bisa melakukan transaksi...

sundaland itu atlantis?

Posted by anonimus
Tag :
benua Sunda Land”Peradaban Atlantis yang hilang” hingga kini barangkali hanyalah sebuah mitos mengingat belum ditemukannya bukti-bukti yang kuat tentang keberadaannya. Mitos itu  pertama kali dicetuskan oleh seorang akhli filsafat terkenal dari Yunani, Plato (427 – 347 SM), dalam bukunya ”Critias dan Timaeus”. Disebutkan oleh Plato  bahwa terdapat awal peradaban yang disebut Benua Atlantis; para penduduknya dianggap sebagai dewa, makhluk luar angkasa, atau bangsa superior; benua itu kemudian hilang,  tenggelam secara perlahan-lahan karena serangkaian bencana, termasuk gempa bumi. 


Selama lebih dari 2000 tahun, Atlantis yang hilang telah menjadi dongeng.  Tetapi sejak abad pertengahan, kisah Atlantis menjadi populer di dunia Barat. Banyak ilmuwan Barat secara diam-diam meyakini kemungkinan keberadaannya.  Di antara para ilmuwan itu banyak  yang menganggap bahwa Atlantis terletak di Samudra Atlantis, bahkan ada yang menganggap Atlantis terletak di Benua Amerika sampai Timur Tengah. Penelitian pun dilakukan di wilayah-wilayah tersebut. Akan tetapi,  kebanyakan peneliti itu  tidak memberikan bukti atau telaah yang cukup. Sebagian besar dari mereka hanya mengira-ngira. .


Hanya beberapa tempat di bumi yang keadaannya memiliki persayaratan untuk dapat diduga sebagai Atlantis sebagaimana dilukiskan oleh Plato lebih dari 20 abad yang lalu. Akan tetapi Samudera Atlantik tidak termasuk wilayah yang memenuhi persyaratan itu. Para peneliti masa kini malahan menunjuk Sundaland (Indonesia bagian barat hingga ke semenanjung Malaysia dan Thailand) sebagai Benua Atlantis yang hilang dan merupakan awal peradaban manusia
.
Fenomen Atlantis dan awal peradaban selalu merupakan impian para peneliti di dunia untuk membuktikan dan menjadikannya penemuan ilmiah sepanjang masa. Apakah pandangan geologi memberi petunjuk yang kuat terhadap kemungkinan ditemukannya Atlantis yang hilang itu? Apabila jawabannya negatif, apakah peluang yang dapat ditangkap dari perdebatan ada tidaknya Atlantis dan kemungkinan lokasinya di wilayah Indonesia?.


PENDAHULUAN
”Mitos” atau cerita tentang benua Atlantis yang hilang pertama kali dicetuskan oleh seorang filosof terkenal dari Yunani  bernama Plato (427 – 347 SM) dalam bukunya berujudl Critias and Timaeus. Penduduknya dianggap dewa, makhluk luar angkasa atau bangsa superior. Plato berpendapat bahwa peradaban dari para peghuni benua Atlantis yang hilang itulah sebagai sumber peradaban manusia saat ini.
Hampir semua tulisan tentang sejarah peradaban menempatkan Asia Tenggara sebagai kawasan ‘pinggiran’. Kawasan yang kebudayaannya dapat subur berkembang hanya karena imbas migrasi manusia atau riak-riak difusi budaya dari pusat-pusat peradaban lain, baik yang berpusat di Mesir, Cina, maupun India. Pemahaman tersebut mengacu pada teori yang dianut saat ini yang  mengemukakan bahwa pada Jaman Es paling akhir yang dialami bumi terjadi sekitar 10.000 sampai 8.000 tahun yang lalu mempengaruhi migrasi spesies manusia.
Jaman Es terakhir ini dikenal dengan nama periode Younger Dryas. Pada saat ini, manusia telah menyebar ke berbagai penjuru bumi berkat ditemukannya cara membuat api 12.000 tahun yang lalu. Dalam kurun empat ribu tahun itu, manusia telah bergerak dari kampung halamannya di padang rumput Afrika Timur ke utara, menyusuri padang rumput purba yang kini dikenal sebagai Afrasia.
Padang rumput purba ini membentang dari pegunungan Kenya di selatan, menyusuri Arabia, dan berakhir di pegunungan Ural di utara. Jaman Es tidak mempengaruhi mereka karena kebekuan itu hanya terjadi di bagian paling utara bumi sehingga iklim di daerah tropik-subtropik justru menjadi sangat nyaman. Adanya api membuat banyak masyarakat manusia betah berada di padang rumput Afrasia ini.
Maka, ketika para ilmuwan barat berspekulasi tentang keberadaan benua Atlantis yang hilang, mereka mengasumsikan bahwa lokasinya terdapat di belahan bumi Barat, di sekitar laut Atlantik, atau paling jauh di sekitar Timur Tengah sekarang. Penelitian untuk menemukan sisa Atlantis pun banyak dilakukan di kawasan-kawasan tersebut. Namun di akhir dasawarsa 1990, kontroversi tentang letak Atlantis yang hilang muluai muncul berkaitan dengan pendapat dua orang peneliti, yaitu: Oppenheimer (1999) dan Santos (2005).
KONTROVERSI DAN REKONTRUKSI OPPENHEIMER
Kontroversi tentang sumber peradaban dunia muncul sejak diterbitkannya buku Eden The East (1999) oleh  Oppenheimer, Dokter ahli genetik yang banyak mempelajari sejarah peradaban. Ia berpendapat bahwa Paparan Sunda (Sundaland) adalah merupakan  cikal bakal peradaban kuno atau dalam bahasa agama sebagai Taman Eden. Istilah ini diserap dari kata dalam bahasa Ibrani Gan Eden. Dalam bahasa Indonesia disebut Firdaus yang diserap dari kata Persia “Pairidaeza” yang arti sebenarnya adalah Taman.
Menurut Oppenheimer,  munculnya peradaban di Mesopotamia, Lembah Sungai Indus, dan Cina justru dipicu oleh kedatangan para migran dari Asia Tenggara. Landasan argumennya adalah etnografi, arkeologi, osenografi, mitologi, analisa DNA, dan linguistik. Ia mengemukakan bahwa di wilayah Sundaland sudah ada peradaban yang menjadi leluhur peradaban Timur Tengah 6.000 tahun silam. Suatu ketika datang banjir besar yang menyebabkan penduduk Sundaland berimigrasi ke barat yaitu ke Asia, Jepang, serta Pasifik. Mereka adalah leluhur Austronesia.
Gambar 1. Buku Eden The East
(Oppenheimer, 1999)
Rekonstruksi Oppenheimer diawali dari saat berakhirnya puncak Jaman Es (Last Glacial Maximum) sekitar 20.000 tahun yang lalu. Ketika itu, muka air laut masih sekitar 150 m di bawah muka air laut sekarang. Kepulauan Indonesia bagian barat masih bergabung dengan benua Asia menjadi dataran luas yang dikenal sebagai Sundaland. Namun, ketika bumi memanas, timbunan es yang ada di kutub meleleh dan mengakibatkan banjir besar yang melanda dataran rendah di berbagai penjuru dunia.
Data geologi dan oseanografi mencatat setidaknya ada tiga banjir besar yang terjadi yaitu pada sekitar 14.000, 11.000, dan 8,000 tahun yang lalu. Banjir besar yang terakhir bahkan menaikkan muka air laut hingga 5-10 meter lebih tinggi dari yang sekarang. Wilayah yang paling parah dilanda banjir adalah Paparan Sunda dan pantai Cina Selatan. Sundaland malah menjadi pulau-pulau yang terpisah, antara lain Kalimantan, Jawa, Bali, dan Sumatera. Padahal, waktu itu kawasan ini sudah cukup padat dihuni manusia prasejarah yang berpenghidupan sebagai petani dan nelayan.
Bagi Oppenheimer, kisah ‘Banjir Nuh’ atau ‘Benua Atlantis yang hilang’ tidak lain adalah rekaman budaya yang mengabadikan fenomena alam dahsyat ini. Di kawasan Asia Tenggara, kisah atau legenda seperti ini juga masih tersebar luas di antara masyarakat tradisional, namun belum ada yang meneliti keterkaitan legenda dengan  fenomena Taman Eden.
BENUA ATLANTIS MENURUT ARYSO SANTOS
Kontroversi dari Oppenheimer seolah dikuatkan oleh pendapat Aryso Santos. Profesor asal Brazil ini menegaskan bahwa Atlantis yang hilang sebagaimana cerita Plato itu adalah wilayah yang sekarang disebut Indonesia. Pendapat itu muncul setelah ia melakukan penelitian selama 30 tahun yang menghasilkan buku Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato’s Lost Civilization (2005). Santos dalam bukunya tersebut menampilkan 33 perbandingan, seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Sundaland (Indonesia bagian Barat).
Santos menetapkan bahwa pada masa lalu Atlantis merupakan benua yang membentang dari bagian selatan India, Sri Langka, dan Indonesia bagian Barat meliputi Sumatra, Kalimantan, Jawa dan terus ke arah timur. Wilayah Indonesia bagian barat sekarang sebagai pusatnya. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.
Argumen Santos tersebut didukung banyak arkeolog Amerika Serikat bahkan mereka meyakini bahwa benua Atlantis adalah sebuah pulau besar bernama Sundaland, suatu wilayah yang kini ditempati Sumatra, Jawa dan Kalimantan. Sekitar 11.600 tahun silam, benua itu tenggelam diterjang banjir besar seiring berakhirnya zaman es.
Gambar 2. Wilayah Sundaland (Indonesia bagian Barat dalam buku Santos (2005)
Menurut Plato, Atlantis merupakan benua yang hilang akibat letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus dan mencairnya Lapisan Es yang pada masa itu sebagian besar benua masih diliputi oleh Lapisan-lapisan Es. Maka tenggelamlah sebagian benua tersebut.
Santos berpendapat bahwa meletus-nya berpuluh-puluh gunung berapi secara bersamaan tergambarkan pada wilayah Indonesia (dulu). Letusan gunung api yang dimaksud di antaranya letusan gunung Meru di India Selatan, letusan gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba, dan letusan gunung Semeru/Mahameru di Jawa Timur. Letusan yang paling dahsyat di kemudian hari adalah letusan Gunung Tambora di Sumbawa yang memecah bagian-bagian pulau di Nusa Tenggara dan Gunung Krakatau (Krakatoa) yang memecah bagian Sumatera dan Jawa membentuk Selat Sunda (Catatan : tulisan Santos ini perlu diklarifikasi dan untuk sementara dikutip di sini sebagai apa yang diketahui Santos).
Berbeda dengan Plato, Santos tidak setuju mengenai lokasi Atlantis yang dianggap terletak di lautan Atlantik. Ilmuwan Brazil itu berargumentasi, bahwa letusan berbagai gunung berapi menyebabkan lapisan es mencair dan mengalir ke samudera sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut membebani samudera dan dasarnya sehingga mengakibatkan tekanan luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantai benua. Tekanan ini mengakibatkan gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh gunung-gunung yang meletus kemudian secara beruntun dan menimbulkan gelombang tsunami yang dahsyat. Santos menamakannya Heinrich Events. Catatan : pernyataan Santos ini disajikan seperti apa adanya dan tidak merupakan pendapat penulis.
Namun, ada beberapa keadaan masa kini yang antara Plato dan Santos sependapat yakni pertama, bahwa lokasi benua yang tenggelam itu adalah Atlantis dan oleh Santos dipastikan sebagai wilayah Republik Indonesia. Kedua, jumlah atau panjangnya mata rantai gunung berapi di Indonesia, diantaranya ialah: Kerinci, Talang, Krakatoa, Malabar, Galunggung, Pangrango, Merapi, Merbabu, Semeru, Bromo, Agung, Rinjani. Sebagian dari gunung itu telah atau sedang aktif kembali.
Dalam usaha mengemukakan pendapat, tampak Plato telah melakukan dua kekhilafan, pertama mengenai bentuk/posisi bumi yang katanya datar. Kedua, mengenai letak benua Atlantis yang katanya berada di Samudera Atlantik yang ditentang oleh Santos. Penelitian oleh para akhli Amerika Serikat di wilayah Atlantik terbukti tidak berhasil menemukan bekas-bekas benua yang hilang itu. Oleh karena itu tidaklah semena-mena ada peribahasa yang berkata, “Amicus Plato, sed magis amica veritas.” Artinya,”Saya senang kepada Plato tetapi saya lebih senang kepada kebenaran.”
Atlantis memang misterius, dan karenanya menjadi salah satu tujuan utama arkeologi di dunia. Jika Atlantis ditemukan, maka penemuan tersebut bisa jadi akan menjadi salah satu penemuan terbesar sepanjang masa.
PANDANGAN GEOLOGI
Pendekatan ilmu geologi untuk mengungkap fenomena hilangnya Benua Atlantis dan awal peradaban kuno, dapat ditinjau dari dua sudut pandang yaitu pendekatan tektonik lempeng dan kejadian zaman es.
Wilayah Indonesia dihasilkan oleh evolusi dan pemusatan lempeng kontinental Eurasia, lempeng lautan Pasifik, dan lempeng Australia Lautan Hindia (Hamilton, 1979). umumnya disepakati bahwa pengaturan fisiografi kepulauan Indonesia dikuasai oleh daerah paparan kontinen, letak daerah Sundaland di barat, daerah paparan Sahul atau Arafura di timur. Intervensi area meliputi suatu daerah kompleks secara geologi dari busur kepulauan, dan cekungan laut dalam (van Bemmelen, 1949).
Kedua area paparan memberikan beberapa persamaan dari inti-inti kontinen yang stabil ke separuh barat dan timur kepulauan. Area paparan Sunda menunjukkan perkembangan bagian tenggara di bawah permukaan air dari lempeng kontinen Eurasia dan terdiri dari Semenanjung Malaya, hampir seluruh Sumatra, Jawa dan Kalimantan, Laut Jawa dan bagian selatan Laut China Selatan.
Tatanan tektonik Indonesia bagian Barat merupakan bagian dari sistim kepulauan vulkanik akibat interaksi penyusupan Lempeng Hindia- Australia di Selatan Indonesia. Interaksi lempeng yang berupa jalur tumbukan (subduction zone) tersebut memanjang mulai dari kepulauan Tanimbar sebelah barat Sumatera, Jawa sampai ke kepulauan Nusa Tenggara di sebelah Timur. Hasilnya adalah terbentuknya busur gunung api (magmatic arc).
Gambar 3. Rekonstruksi Tektonik Lempeng di Wilayah Asia Tenggara (Hall, 2002). Garis merah adalah batas wilayah yang dikenal sebagai Sundaland
Rekontruksi tektonik lempeng tersebut akhirnya dapat menerangkan pelbagai gejala geologi dan memahami pendapat Santos, yang menyakini  Wilayah Indonesia memiliki korelasi dengan anggapan Plato yang menyatakan bahwa tembok Atlantis terbungkus emas, perak, perunggu, timah dan tembaga, seperti terdapatnya mineral berharga tersebut pada jalur magmatik di Indonesia. Hingga saat ini, hanya beberapa tempat di dunia yang merupakan produsen timah utama. Salah satunya disebut Kepulauan Timah dan Logam, bernama Tashish, Tartessos dan nama lain yang menurut Santos (2005) tidak lain adalah Indonesia. Jika Plato benar, maka Atlantis sesungguhnya adalah Indonesia.
Selain menunjukan kekayaan sumberdaya mineral, fenomena tektonik lempeng tersebut menyebabkan munculnya titik-titik pusat gempa, barisan gunung api aktif (bagian dari Ring of Fire dunia),  dan banyaknya komplek patahan (sesar) besar, tersebar di Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara dan Indonesia bagian timur. Pemunculan gunungapi aktif, titik-titik gempa bumi dan kompleks patahan yang begitu besar, seperti sesar Semangko (Great Semangko Fault membujur dari Aceh sampai teluk Semangko di Lampung) memperlihatkan tingkat kerawanan yang begitu besar. Menurut Kertapati (2006), karakteristik gempabumi di daerah Busur Sunda pada umumnya diikuti tsunami.
Para peneliti masa kini  terutama  Santos (2005) dan sebagian peneliti Amerika Serikat memiliki kenyakinan bahwa gejala kerawanan bencana geologi wilayah Indonesia adalah sesuai dengan anggapan Plato yang menyatakan bahwa Benua Atlantis telah hilang akibat letusan gunung berapi yang bersamaan.
Pendekatan lain akan keberadaan Benua Atlantis dan awal peradaban manusia (hancurnya Taman Eden) adalah kejadian Zaman Es. Pada zaman Es suhu atau iklim bumi turun dahsyat dan menyebabkan peningkatan  pembentukan es di kutub dan gletser gunung. Secara geologis, Zaman Es sering digunakan untuk merujuk kepada waktu lapisan Es di belahan bumi utara dan selatan; dengan definisi ini kita masih dalam Zaman Es. Secara awam untuk waktu 4 juta tahun ke belakang, definisi Zaman Es digunakan untuk merujuk kepada waktu yang lebih dingin dengan tutupan Es yang luas di seluruh benua Amerika Utara dan Eropa.
Penyebab terjadinya Zaman Es antara lain adalah terjadinya proses pendinginan aerosol yang sering menimpa planet bumi. Dampak ikutan dari peristiwa Zaman Es adalah penurunan muka laut. Letusan gunung api dapat menerangkan berakhirnya Zaman Es pada skala kecil dan  teori kepunahan Dinosaurus dapat menerangkan akhir Zaman Es pada skala besar.
Gambar 4. Penyebaran es di belahan bumi utara pada masa Pleistosen (USGS, 2005)
Dari sudut pandang di atas, Zaman Es terakhir dimulai sekitar 20.000 tahun yang lalu dan berakhir kira-kira 10.000 tahun lalu atau pada awal kala Holocene (akhir Pleistocene). Proses pelelehan Es di zaman ini berlangsung relatif lama dan beberapa ahli membuktikan proses ini berakhir sekitar 6.000 tahun yang lalu.
Pada Zaman Es, pemukaan air laut jauh lebih rendah daripada sekarang, karena banyak air yang tersedot karena membeku di daerah kutub. Kala itu Laut China Selatan kering, sehingga kepulauan Nusantara barat tergabung dengan daratan Asia Tenggara. Sementara itu pulau Papua juga tergabung dengan benua Australia.
Ketika terjadi peristiwa pelelehan Es tersebut maka terjadi penenggelaman daratan yang luas. Oleh karena itu gelombang migrasi manusia dari/ke Nusantara mulai terjadi. Walaupun belum ditemukan situs pemukiman purba, sejumlah titik diperkirakan sempat menjadi tempat tinggal manusia purba Indonesia sebelum mulai menyeberang selat sempit menuju lokasi berikutnya (Hantoro, 2001).
Tempat-tempat itu dapat dianggap sebagai awal pemukiman pantai di Indonesia. Seiring naiknya paras muka laut, yang mencapai puncaknya pada zaman Holosen ± 6.000 tahun dengan kondisi muka laut  ± 3 m lebih tinggi dari muka laut sekarang, lokasi-lokasi tersebut juga bergeser ke tempat yang lebih tinggi masuk ke hulu sungai.
Berkembangnya budaya manusia, pola berpindah, berburu dan meramu (hasil) hutan lambat laun berubah menjadi penetap, beternak dan berladang serta menyimpan dan bertukar hasil dengan kelompok lain. Kemampuan berlayar dan menguasai navigasi samudera yang sudah lebih baik, memungkinkan beberapa suku bangsa Indonesia mampu menyeberangi Samudra Hindia ke Afrika dengan memanfaatkan pengetahuan cuaca dan astronomi. Dengan kondisi tersebut tidak berlebihan Oppenheimer beranggapan bahwa  Taman Eden berada di wilayah Sundaland.
Taman Eden hancur akibat air bah yang memporak-porandakan dan mengubur sebagian besar hutan-hutan maupun taman-taman sebelumnya. Bahkan sebagian besar dari permukaan bumi ini telah tenggelam dan berada dibawah permukaan laut, Jadi pendapat Oppenheimer memiliki kemiripan dengan akhir Zaman Es yang menenggelamkan sebagian daratan Sundaland.

MENANGKAP PELUANG
Pendapat Oppenheimer (1999) dan Santos (2005) bagi sebagian para peneliti adalah kontroversial dan mengada-ada. Tentu  kritik ini adalah hal yang wajar dalam pengembangan ilmu untuk mendapatkan kebenaran. Beberapa tahun ke belakang pendapat yang paling banyak diterima adalah seperti yang dikemukakan oleh Kircher (1669) bahwa Atlantis itu berada di tengah-tengah Samudera Atlantik sendiri, dan tempat yang paling meyakinkan adalah Pulau Thera di Laut Aegea, sebelah timur Laut Tengah.
Pulau Thera yang dikenal pula sebagai Santorini adalah pulau gunung api yang terletak di sebelah utara Pulau Kreta. Sekira 1.500 SM, sebuah letusan gunung api yang dahsyat mengubur dan menenggelamkan kebudayaan Minoan. Hasil galian arkeologis menunjukkan bahwa kebudayaan Minoan merupakan kebudayaan yang sangat maju di Eropa pada zaman itu, namun demikian sampai saat ini belum ada kesepakatan di mana lokasi Atlantis yang sebenarnya. Setiap teori memiliki pendukung masing-masing yang biasanya sangat fanatik dan bahkan bisa saja Atlantis hanya ada dalam pemikiran Plato.
Perlu diketahui pula bahwa kandidat lokasi Atlantis bukan hanya Indonesia, banyak kandidat lainnya antara lain : Andalusia, Pulau Kreta, Santorini, Tanjung Spartel, Siprus, Malta, Ponza, Sardinia, Troy, Tantali, Antartika, Kepulauan Azores, Karibia, Bolivia, Meksiko, Laut Hitam, Kepulauan Britania, India, Srilanka, Irlandia, Kuba, Finlandia, Laut Utara, Laut Azov, Estremadura dan hasil penelitian  terbaru oleh Kimura’s (2007) yaitu menemukan  beberapa monument batu dibawah perairan Yonaguni, Jepang yang diduga  sisa-sisa dari peradaban Atlantis atau Lemuria.

Gambar 5. Monument Batu yang berhasil ditemukan dibawah perairan Yonaguni, Jepang, (Spiegel Distribution TV, 2000)

PELUANG PENGEMBANGAN ILMU
Adalah fakta bahwa saat ini berkembang  pendapat yang menjadikan Indonesia sebagai wilayah yang dianggap ahli waris Atlantis yang hilang. Untuk itu kita harus bersyukur dan membuat kita tidak rendah diri di dalam pergaulan internasional, sebab Atlantis pada masanya adalah merupakan pusat peradaban dunia yang misterius. Bagi para arkeolog atau oceanografer moderen, Atlantis  merupakan obyek menarik terutama soal teka-teki di mana sebetulnya lokasi benua tersebut dan karenanya menjadi salah satu tujuan utama arkeologi dunia. Jika Atlantis ditemukan, maka penemuan tersebut bisa jadi akan menjadi salah satu penemuan terbesar sepanjang masa.
Perkembangan fenomena ini menyebabkan Indonesia menjadi lebih dikenal di dunia internasional khususnya di antara para peneliti di berbagai bidang yang terkait. Oleh karena itu Pemerintah Indonesia perlu menangkap peluang ini dalam rangka meningkatkan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Peluang ini penting dan jangan sampai diambil oleh pihak lain.
Kondisi ini mengingatkan pada  Sarmast (2003), seorang arsitek Amerika keturunan Persia yang mengklaim telah menemukan Atlantis dan menyebutkan bahwa Atlantis dan Taman Firdaus adalah sama. Sarmast menunjukkan bahwa Laut Mediteranian adalah lokasi Atlantis, tepatnya sebelah tenggara Cyprus dan terkubur sedalam 1500 meter di dalam air.  ‘Penemuan’ Sarmast, menjadikan kunjungan wisatawan ke Cyprus melonjak tajam. Para penyandang hibah dana penelitian Sarmast, seperti editor, produser film, agen media dll mendapat keuntungan besar. Mereka seolah berkeyakinan bahwa jika Sarmast benar, maka mereka akan terkenal; dan jika tidak, mereka telah mengantungi uang yang sangat besar dari para sponsor.
Santos (2005) dan  seorang arkeolog Cyprus sendiri yaitu Flurentzos dalam artikel berjudul : ”Statement on the alleged discovery of atlantis off Cyprus” (Santos, 2003) memang menolak penemuan Sarmast. Mereka sependapat dengan Plato dan menyatakan secara tegas bahwa Atlantis berada di luar Laut Mediterania. Pernyataan ini didukung oleh Morisseau (2003) seorang ahli geologis Perancis yang tinggal di pulau Cyprus. Ia menyatakan tidak berhubungan sama sekali dengan fakta geologis. Bahkan Morisseau menantang Sarmast untuk melakukan debat terbuka. Namun demikian, usaha Sarmast  untuk membuktikan bahwa Atlantis yang hilang itu terletak di Cyprus telah menjadikan kawasan Cyprus dan sekitarnya pada suatu waktu tertentu dibanjiri oleh wisatawan ilmiah dan mampu mendatangkan kapital cukup berasal dari para sponsor dan wisatawan ilmiah tersebut.
Gambar 6. Peta Atlantis menurut Kircher (1669). Pada peta tersebut, Atlantis terletak di tengah Samudra Atlantik.
Demikian juga dengan letak Taman Eden, sudah banyak yang melakukan penelitian mulai dari agamawan sampai para ahli sejarah maupun ahli geologi jaman sekarang. Ada yang menduga letak Taman Eden berada di Mesir, di Mongolia, di Turki, di India, di Irak dsb-nya, tetapi tidak ada yang bisa memastikannya.
Penelitian yang cukup konprehensif berkenaan dengan Taman Eden diantaranya dilakukan oleh Zarins (1983) dari Southwest Missouri State University di Springfield.  Ia telah mengadakan penelitian lebih dari 10 tahun untuk mengungkapkan rahasia di mana letaknya Taman Eden. Ia menyelidiki foto-foto dari satelit dan berdasarkan hasil penelitiannya ternyata Taman Eden itu telah tenggelam dan sekarang berada di bawah permukaan laut di teluk Persia.
Gambar 7.  Taman Eden menurut Zarins (1983)
Hingga saat ini, letak dari Atlantis dan Taman Eden masih menjadi sebuah kontroversi, namun berdasarkan bukti arkeologis dan beberapa teori yang dikemukakan oleh para peneliti, menunjukkan kemungkinan peradaban tersebut berlokasi di Samudera Pasifik (disekitar Indonesia sekarang). Ini menjadi tantangan para peneliti Indonesia untuk menggali lebih jauh, walaupun banyak juga yang skeptis, beranggapan bahwa Atlantis dan Taman Eden tidak pernah ada di muka bumi ini.
Oleh Prof. Dr. H. PRIYATNA ABDURRASYID, Ph.D.


atlantis-indonesia-map-3.jpg MUSIBAH alam beruntun dialami Indonesia. Mulai dari tsunami di Aceh hingga yang mutakhir semburan lumpur panas di Jawa Timur. Hal itu

mengingatkan kita pada peristiwa serupa di wilayah yang dikenal sebagai Benua Atlantis. Apakah ada hubungan antara Indonesia dan

Atlantis?

the collapse of the holy mountain of osiris
borobudurMount Atlas is the same Holy Mountain of Paradise represented by the Great Pyramid. Osiris dead, reposing inside the Holy Mountain, represents the dead Atlantis or, rather, the dead of Atlantis, buried and entombed by the gigantic explosion of the Holy Mount Atlas. Mount Atlas is the same as the Mount Meru of the Hindus, the pyramid-shaped mountain that there served as the sky’s support.
mandborobudurIndeed, the Egyptian word for pyramid, M’R was most probably read MeRu as in the Hindu name of the mountain simulated by the monument. The ancient Egyptians did not spell out the vowels in their hieroglyphs, so the above reading probably corresponds to the actual one of Mt. Meru, the exploded Mountain of Paradise.
In Hindu traditions, Mt. Meru served as the Stambha, the Pillar of Heaven. Mt. Meru (or Kailasa = “Skull” = Calvary”) also served as the support of the Cosmic Tree where the Cosmic Man (Purusha) was crucified, like Christ on the Cross. Mt. Meru is also the Holy Mountain of Paradise, endlessly portrayed in India during its explosion, in beautiful mandalas such as the Shri Yantra. By the way, the Golden Lotus often shown with them portrays the “atomic mushroom” of the cosmic explosion, as we argue in detail in our work entitled “The Secret of the Golden Flower“.
In consequence of the giant explosion, Mt. Meru (or Atlas), voided of its magma, collapsed like a sort of punctured balloon. Its enormous peak sunk underseas, turning into a giant caldera. Our researches into the ancient world legends have shown that this volcano is indeed the Krakatoa, the same one that still castigates the region whenever it again erupts explosively, as it did in 1883 and other occasions.
the meaning of the primordial castration
The Krakatoa is now a submarine volcano located inside the gigantic caldera that now forms the Sunda Strait separating Sumatra from Java. In Hindu myths, its explosion and subsequent fate are allegorized as the Primordial Castration which turned the Cosmic Phallus (Linga) into the Cosmic Yoni (or Vulva). And Earth’s Yoni is the same as the Khasma Mega of Hesiod, mentioned further above.
We see how the apparently absurd traditions of the ancients indeed make far more sense than those of the crude attempts at explanation by the modern experts of all sorts. It is also precisely to this fact that refers the legend of Atlas, the Pillar of Heaven. Unable to bear the load of an earth overpopulated with gods, Atlas collapsed, and let the sky fall dawn over the earth, destroying it.
The name of Atlas indeed derives from the Greek radix tla meaning “to bear”, preceded by the negative affix a, meaning “not”. Hence, the name of Atlas literally means “the one unable to bear [the skies]“. Such is the reason why Atlas (and other Titans like himself) are often portrayed with weak, serpentine legs. The collapse of the skies is, of course, a clever allegory of the fall of volcanic dust and debris from the afar explosion of Mt. Atlas. In Hindu myths, one layer buries the former one, giving rise to a new heaven and a new earth, just as we read in Revelation.
atlantis and the rising of the phoenix
garudapancasilaThe above is, of course, exactly the message of St. John’s Revelation (21:1) concerning the New Jerusalem. The New Jerusalem is Atlantis, reborn from its cinders, as a sort of Phoenix, the bird that personifies Paradise in Greek myths. These myths were indeed copied from Egypt who, in turn, cribbed them from India. India and, more exactly, Indonesia, is the true land of the Phoenix, as is relatively easy to show, since it is from there that comes the name of the Benu bird of the Egyptians and that of the Phoenix of the Greeks.
This mystic bird was called Vena in the Rig Veda. So, if the Phoenix indeed symbolizes Atlantis-Paradise resurging from its own cinders, as we believe it does, there can be little doubt that the legend is originally Vedic, and originated in the Indies. The name means nothing that makes sense in either Egyptian or Greek. But in the holy tongues of India it means the idea of Eros (Love) and, more exactly, the Sun of Justice that symbolizes Atlantis rising from the waters of the primordial abyss. This myth forms the essence of the one of the Celestial Jerusalem, as well as, say, those of the Orphic Cosmogonies, those of the Egyptians, and those of most other ancient nations.
egypt and the origin of the legend of atlantis
cosmic_manPlato concedes that he learnt the legend of Atlantis from Solon who, in turn, got it from the Egyptians. But those, in their turn, learnt it from the Hindus of Punt (Indonesia). Punt was the Ancestral Land (To-wer), the Island of Fire whence the Egyptians originally came, in the dawn of times, expelled by the cataclysm that razed their land. From there also came the Aryans, the Hebrews and Phoenicians, as well as the other nations that founded the magnificent civilizations of olden times.
It is from the primordial Lemurian Atlantis that derive all our myths and religious traditions, the very ones that allowed the ascent of Man above the beasts of the field. From Atlantis derive all our science and our technology: agriculture, cattle herding, the alphabet, metallurgy, astronomy, music, religion, and so forth. These inventions are so clever and so advanced that they seem as natural as the air we breath and the gods we worship. But they are all incredibly advanced inventions that came to us from the dawn of times, from the twin Atlantises we utterly forgot.
It is in India and in Indonesia, that, even today, we find the secret of Atlantis and Lemuria hidden behind the thick veil of their myths and allegories. The crucial events are disguised inside the Hindu and Buddhic religious traditions, or told as charming sagas like those of the Ramayana and the Mahaharata. The error that led the ancients, along with the modern researchers, into believing that Atlantis lay in the Atlantic Ocean is easy to understand now that we know the true whereabouts of the sunken continent. When humanity moved from Indonesia into the regions of Europe and the Near East, the “Occidental Ocean” of the Hindus became the Oriental Ocean, for it then lay towards the east.
The (Hindu) myths that told of Atlantis sinking in the Occidental Ocean became interpreted as referring to the Atlantic Ocean, western in regards to Europe, their new residence. The Hindus called the sunken continent by the name of Atala (or Atalas) a name uncannily similar to that of Atlas and of Atlantis (by the appending of the suffix tis or tiv = “mountain”, “island”, in Dravida, and pronounced “tiw”). It is from this base that names such as that of the mysterious Keftiu of the Egyptians, the “Islands in the Middle of the Ocean (the “Great Green”)” ultimately came (Keftiu = Kap-tiv = “capital island” or “Skull Island” = “Calvary” in Dravida, the pristine language of Indonesia). But this is a long story which we tell elsewhere, presenting the detailed evidence for this uncanny allegation of ours.
the reversal of the oceans and the cardinal directions
It is to this “reversal” of the Cardinal Directions just mentioned that Plato and Herodotus make reference, along with other ancient authorities. Interestingly enough, even the Amerindians — who came in, at least in part, from Indonesia into South America via the Pacific Ocean impelled by the Atlantean Cataclysm — often confuse the direction of their primeval homeland, which they sometimes place in the east, sometimes in the west. But, strangely enough, they never place it towards the north, as they should, if they came in via the Bering Strait.
The ancient Greeks attempted to mend their myths calling, by the name of “Atlantic”, the whole ocean that encircles Eurasia and Africa. But the result was even worse than before and the confusion only grew. Herodotus used to laugh at this ridiculous attempt by the geographers of his time (Hist. 2:28). Aristotle, in his De Coelo, is also very specific on the fact that the name of “Atlantic Ocean” — that is, the “Ocean of the Atlanteans” — was the whole of the circular, earth-encompassing ocean.
So, we able to conclude that Atlantis can legitimately be localized either in the ocean we presently call by that name, or, even more likely, in the ocean where the ancients placed their legends and their navigations, the Indian Ocean. This ocean they named Erythraean, Atlantic, and so on, names which are indeed related with that of Atlantis, “the land of the Reds”, the Primordial Phoenicia or Erythraea, whose names mean “the red one”.
It should perhaps be emphasized that it is the name of the Atlantic Ocean (or “Ocean of the Atlanteans”) that derives from that of Atlantis, and not vice-versa. And that name far predates Plato, being mentioned, f. i., by Herodotus, who wrote his History fully a century before Plato wrote the Critias. Moreover, as Herodotus explains, the name of “Atlantic Ocean” originally applied to the Indian Ocean, rather than the body of water now so named. So, it is on that side of the world, and not on ours that we should expect to find Atlantis.
atlas, hercules, atlantis, and the itinerary of the heroes
Greek myths often embody the confusion of east and west that we just pointed out. The itineraries of Greek heroes such as Hercules, Jason, Ulysses and the Argonauts are all absurd when placed in the Mediterranean or even in the Atlantic Ocean. But they all make a lot of geographical and mythical sense if we place them in the Indian Ocean, as we should. And that is indeed what we do, in other more specialized works of ours on this fascinating subject.
Likewise, the Titan Atlas and his mountain, Mt. Atlas, were placed just about everywhere, from Hesperia (Spain), the Canaries and Morroco to the Bosporus and the Far Orient, at the confines of Hades (Hell). The result was a profusion of Atlantises and of Pillars of Atlas (or of Hercules) that makes no sense al all. Indeed, the two heroes who personified the World’s Pillars represented the two Atlantises we discussed further above. They are personified as Atlas and Hercules, the primeval Twins whom we encounter in all Cosmogonies.
In Plato’s dialogues concerning Atlantis (the Critias and the Timaeus), Hercules is called Gadeiros or Eumelos, names that correspond to something like “Cowboy” or, rather “Fencer of Cattle”. This name is a literal translation of that of Setubandha, the Sanskrit appellation of Indonesia. This name is due to the fact that Indonesia indeed “fences out” the seas, dividing the Pacific from the Indian Ocean.
the ultima thule, the twins, and the war of doomsday
Indonesia was, as we said above, the Ultima Thule (or “Ultimate Boundary“) of the ancients, the last frontier which should not be crossed by the navigators. There lay the Pillars of Hercules and of Atlas, the two primordial Twins. In another guise, the two correspond to the twins of Gemini (Castor and Pollux), directly derived from the Ashvin Twins of the Hindus. In Egypt they corresponded to Seth and Osiris, and were commemorated by the two obelisks posted at the entrance of Egyptian temples.
Hercules is, of course, a Phoenician deity (Baal Melkart), in turn derived from Bala or Bala-Rama (“the Strong Rama”), the twin brother of Krishna. Bala means “Strong” or “Strength” in Sanskrit, being called the same (Bias = “Strength”) in Greek and other tongues. Krishna is the World’s Pillar, clearly the personification of Atlantis.
More exactly, the Twins personify the two races of blondes (Aryo-Semites) and brunets or “reds” (Dravidas), fated to fight wherever they meet. Both shades are originally from Eden (Lemuria), the primordial Paradise where humanity originally arose. Osiris, the Egyptian god, also played the role of Cosmic Pillar (Djed), a role he shared with Seth, his twin and dual. But this mythical symbolism ultimately derives from that of Shiva as the Sthanu, the “Pillar of the World” and that of Shesha (or Vritra), the Cosmic Serpent who was the archetype of Seth-Typhon.
the battle of the sons of light and the sons of darkness
The Twins — like the Devas and Asuras of the Hindus and the Sons of Light and the Sons of Darkness of the Essenians — are always the personifications of the two races that dispute world hegemony since the dawn of times. It was their war, according to Plato — who calls them “Greeks” and Atlanteans — that led to the destruction of Atlantis.
There is no reason to doubt that the great philosopher was indeed transmitting ancient traditions faithfully. For, we are starting to learn all over again that global wars can indeed lead to the world’s end. In fact, it is the same endless war that menaces us now as it did at the dawn of times. This frightening reality is told in the Ramayana, in the Mahabharata and in the Iliad, not to mention the other myths and traditions.
But the war of Atlantis is also the War of Armageddon narrated in the Book of Revelation. This war is in reality a repetition or replica of the worldwide, primordial battle between Gods and Devils. These mighty beings were the same as the so-called Titans (or Giants) in Greece. Their war was, as Plato and his commentators explain in detail, the same as the one of Atlantis.
Armageddon means (in Hebrew) the same as Shambhalla (in Sanskrit), “the Plains of Gathering”. There the armies of the world will gather, in the end of times, for “the war that is to end all wars”, for it will close the Kali Yuga. The perspective indeed seems frighteningly real, doesn’t it indeed? Fables or Reality? Religion or Profanity? Science or Superstitious Nonsense? We are inclined to believe that our ancestors spoke in earnest, and that the war of Armaggedon and the end of the world are fast becoming all too real possibilities.
are mars and venus a celestial example?
We do not want to seem alarmists, as our message is indeed one of hope and salvation, and not of “Bible thumping”. The recent discovery of vestiges of extinct life in Mars brings a memorable lesson that is worth detailing. Earth has been, in the past, the victim of countless catastrophes that nearly wiped out Life altogether. These cataclysms were due to different causes such as cometary and asteroidal falls or volcanic cataclysms bringing on or off the Ice Ages. Not impossibly, wars such as the War of Atlantis and the Battle of the Gods can have indeed happened in a far, utterly forgotten past that lives on in our myths and holy traditions from everywhere.
Perhaps our wars just continue these and others that possibly took place on Mars and Venus, destroying Life there, if not in other Solar Systems as well. It may even be the case that Big Bangs and Creations are indeed cyclic processes that recur periodically, just as the traditions of the Hindus on Cyclical Eras affirm in detail. The extinction of the dinosaurs, and the origin of the Moon — pulled out of the Earth by a planetoidal impact — are instances of such sobering cataclysms. Thousands of giant craters — as large as those on the Moon, though almost effaced by erosion — are still observable on the earth, as scientists are starting to discover. Hundreds of times in the past we have had massive extinctions of Life on earth.
Many times in the past our world nearly became as “empty and dark and devoid of form” as at Creation, when God reshaped the earth for the last time. The Uniformitarianism of Darwin and Lyell is no more than a naive belief in the Panglossian doctrine that “all things only happen for the better, in the best of all possible worlds”.
Fossils and extinctions are here to prove, just as do Geology and other sciences, that Catastrophism is a feature of Nature as much, and possibly even more, than Uniformitarian phenomena. Thousands of Apollo and Amor objects swarm across earth’s orbit, ready to strike us at a moment’s notice with a force of a million Megatons and over. The idea that God favors humans “above the beasts of the field” is just our own naive, self-centered notion of what God should look like. More likely, He regards all Life as sacred, as His own handiwork, if He exists at all. That is what Nature indisputably demonstrates in practice all the time.
Mars, with its dead residues of Life, with its oceans empty and dry, with its terrible dust storms sweeping across the endless void and devastation, is here to prove to all that God — or, as some will, Nature or Mother Earth — sometimes loses his/her temper and extinguishes Life altogether. This almost happened at the Flood, as the myths tell us. The victimizing of Atlantis — perhaps because they sinned, perhaps because they warred — almost took the rest of us along. Venus is another instance, in reverse, that planets can indeed die and become as sterile as the Moon. And perhaps, earth itself was just “reset back to zero” some four billion years ago, when the Moon was pulled out of it by a giant meteoritic impact of planetoidal size.
atlantis and the illusion of darwinian uniformitarianism
As we just said, Darwin’s Theory of Uniformitarian Evolution is just an illusion of die-hard scientists. What the world presents us daily is an endless series of ever larger cataclysms, ranging from atom smashing to the Big Bang. We recently watched a comet hitting Jupiter and opening a gash on that planet as big as the whole earth. Mars shows all signs of having been hit by a planetoidal sized body, which opened a huge crater on one side and pushed up Olympus Mons on the opposite one. Perhaps it was this cataclysm that extinguished Life on the Red Planet. Venus too presents vestiges of similar catastrophes. Perhaps we are only stranded here on earth, fated to become extinct when our allotted time expires who knows when?
Life is an illusion, as all things, as the Hindus teach us. According to them, even the gods eventually die, and are replaced by better, more evolved godly forms. An illusion is also the suprematist theory that affirms that Civilizations first arose in an Occidental Atlantis that never was, out of Europoid stock. But Civilization evolved at a time when the whole of Europe was almost fully covered by a mile thick glacier that rendered survival very meager and scant.
Plato’s Atlantis is, in contrast, described as a luxurious tropical Paradise, bedecked with metals, horses, elephants, coconut, pineapples, perfumes, aromatic woods and other features that were an exclusivity of India and Indonesia in the ancient world. Was the great philosopher dreaming, or was he indeed basing himself on Holy Books now lost in the bonfires of the Holy Inquisition ?
The Atlantic Atlantis is an illusion too, just as are the Cretan, the African, the American, the North European and the Black Sea ones. The true Atlantis, the archetype of all other Atlantises is Indonesia, or rather, the extensive sunken continent rimmed by this island arc. It is there that we had Plato’s “innavigable seas”, the same one mentioned by navigators. such as Pytheas, Himilco, Hanno and others. It was this primordial Atlantis that served as a model for the second Atlantis — the one of the Indus Valley — as well as for the myriad other similar Paradises that we encounter in all ancient religious traditions and mythologies.
the krakatoa volcano and the “innavigable seas” of atlantis
Another central, unique feature of Atlantis were its seas, rendered “innavigable” as the result of the cataclysm, as reported by Plato and other ancient authorities. As we mentioned further above, the seas of Atlantis were innavigable because they were covered thick with giant banks of floating, fiery pumice-stone. This pumice was ejected by the giant explosion of volcanic Mt. Atlas, the one which caused the foundering of the Lost Continent..
A similar phenomenon indeed happened — in a far lesser scale, but one big enough to be one of the world’s largest catastrophes — at the explosion of the Krakatoa volcano that we mentioned further above. The formation of pumice — a sort of stony “froth” made of siliceous glass — is characteristic of the Indonesian volcanoes, and is indeed the cause of their explosive eruptions of incomparable force. The phenomenon is quite similar to the “popping” of popcorn. The water-soaked siliceous magma of the submarine volcano (the primeval Krakatoa) built up tremendous pressures under the weight of the crust and the overlying sea water. Eventually, the topping crust which formed the volcanic peak gave, and the eruption occurred, explosively.
Thus released, the overheated water dissolved in the hot magma turned instantly into vapor, literally bursting like popcorn, except that in a worldwide scale. The sea was impelled, in a huge tsunami that was the event mythified as “the Flood from below”. Simultaneously, the ashes and debris were thrown up into the stratosphere, as “soot”. This fly ash eventually fell back to the earth and the sea, choking all life in the region, and causing the enormous quantities of rain, “the Flood from above”. Further away, it settled over the Ice Age glaciers, causing their melting and triggering the end of the Pleistocene, precisely as related above.
Interestingly enough, the Hindus associate this sort of stuff — this vitreous “seafroth” — with Krishna and Balarama, the archetypes of Hercules and Atlas. Balarama is the alias of the Serpent Shesha, whose name means (in Sanskrit) “residue” and, more exactly, the kind of foam such as ambergris or pumice stone thrown over the beaches by the seas. The whole story is a clever allegory of the explosion of Mt. Atlas, the World’s Pillar, ejecting the huge amounts of pumice stone and fly ash that covered the soil and the seas of Atlantis, and choking out all its paradisial forms of life.
The Titans — and Atlas in particular — were likened to Serpents (or Dragons), and to “weak-legged”, anguipedal, Civilizing Heroes such as Erychthonios, Cadmus, Hercules, Quetzalcoatl, Kukulkan, etc.. All such indeed derive from the Nagas (“Serpent-people”, “Dragons”) of India and Indonesia, as we argue elsewhere.
the illusory, chimerical atlantises
As we said above, the Cretan “Atlantis” of certain authorities is an illusion, as are all others outside the two Indies. Nevertheless, the explosion of the Thera volcano closely parallels the one of the Krakatoa of 1883, as some have noted. But it is far too small and far too wrongly sited in relation to the Pillars of Hercules for to be the right time and the right place.
Moreover, Crete lacked the size and the importance that Plato attributes to Atlantis, being puny in comparison to, say, the contemporary civilizations of Egypt, Babylon and Mycenian Greece. And the Theran cataclysm never sunk Crete underseas, or even hampered its existence in any notable way. In fact, the name of Crete (Kriti) means “swept”, rather than “sunken one”, as does the name of Atlantis in the holy tongues of India. So, Crete was recognizedly “swept” by the Theran cataclysm, but not indeed “sunken” by it, as Atlantis was.
The prehistoric explosion of the Krakatoa volcano that sundered open the Strait of Sunda was, by comparison a million times stronger. If the Theran explosion could sweep away the considerable extent of Minoan Crete, we are led to conclude that the one of the Indonesian volcano could well have wiped out an entire continental-sized civilization, and have triggered the chain of events that culminated in the end of the Pleistocene Ice Age.
Equally illusory are the Atlantises of the Bosporus (Moreau de Jonnés), of Spain (R. Hennig), of Libya (Borchardt), of Benin, in Africa (Leo Frobenius) and the even less likely one of the North Sea (Olaus Rudbeck), the Americas (several authors) and Antactica (idem). Even more impossible are the Atlantises located in sunken islands of continents of the Atlantic Ocean and, particularly, the Sargasso Sea, for they are not even geophysical possibilities.
the mid-atlantic ridge and donnelly’s atlantis
There are no sunken continents at the bottom of the Atlantic Ocean, as an extensive study of this region has unequivocally shown. What this detailed research disclosed is the existence of the Mid-Atlantic Ridge, a vast submarine cordillera that divides the Atlantic Ocean at the middle. This feature corresponds to the rift from whence the Tectonic Plates issue, causing the continents to drift away from the spot, at the rate of a few centimeter per year.
Hence, despite the brilliant plea of Ignatius Donnelly, this ridge corresponds not to a sunken continent, but to land that is slowly rising out of the sea bottom. Such rifts and ridges in fact exist in all oceans. They rise above sea level in certain spots forming island arcs, as in Indonesia and at the Indus Valley. Where they do, they cause the kind of terrible volcanoes and earthquakes that we have been discussing above. It is no coincidence that the two Atlantises we mentioned are located precisely at such spots where the Mid-Oceanic Ridges rise above the surface of the sea.
When we inspect the map of Fig. 1, we also note that a sizable chunk of India disappeared at the end of the Ice Age at the Indus Delta. This region is now known as the Rann of Kutch (“Marshes of Death”) and is in fact still sinking underseas, even today. This region is deemed a sort of Hell, and has been clearly flooded by some sort of terrible cataclysm that also took place at the end of the Pleistocene, just as did the one of Lemurian Atlantis.
lemurian atlantis and the four rivers of paradise
At this occasion, that of the demise of Atlantis, the Himalayan glaciers melted in the greater part, pouring its waters down the Indus Valley, in floods that were hundreds of times larger than the ones of today, even when the monsoon storms castigate the region. Such is clearly the record left by the tempest that swept away the second Atlantis (Hesperus), throwing it into the sea during the second of the Biblical Floods.
The same thing also happened at the other side of the Himalayas, whence issue the rivers that irrigate South Asia, China and Southeast Asia, such as the Huang-ho, the Yangtzé, the Mekong, the Irrawaddy, the Brahmaputra, the Ganges. These are indeed the Four Rivers of Eden (Lemurian Atlantis), as we argue in detail elsewhere. There can be very little doubt that the Lemurian Atlantis — as well as its successor, the Indian Atlantis — are sacred traditions based on real facts which were in no way exaggerated by our ancestors.
the civilizing heroes and heroines are atlantean escapees
The cataclysms in question caused the mass migrations of nations which later were to form civilizations of the past such as those of the Egyptians, the Greeks, the Cretans and the Mesopotamians. These also included the Jews, the Phoenicians, and the Aryans, driven away from their ancestral lands in Indonesia and Southeast Asia. At first they settled in India, but were driven out by the locals, moving to the places just mentioned.
Such mass migrations are told in the Bible and in similar Holy Books of all nations, in legends such as those of Moses and the Israelites, Aeneas and the Romans, Hercules and his Greek “cattle” (armies), of Cain’s expulsion from Eden, of Quetzalcoatl’s arrival in Mexico, of that of Viracocha and the Incas in Peru, of the Fomorians and the Tuatha de Danaan arriving in Britain, and so on.
These legends disguise real facts under the veil of allegories, and personify or deify the nations in question under the figures of heroes such as Noah, Manu, Hercules, Kukulkan, Abraham, Quetzalcoatl, and a myriad others, or in heroines like Venus, Demeter, Dana, Danu, Vesta, Hathor, Isis, Hecate and so on. Lemuria was indeed the Great Black Mother of Gods and Men. She is the same goddess that we know by names such as Kali, Parvati, Demeter, Hera, Isis, Ishtar, Venus, Cybele and even the Virgin Mary.
The paradoxical virginity of the Great Mother refers to the fact that she bore the Lemurian civilization on her own, in an autochthonous manner, without the help of an “inseminator” civilization. In contrast, all other civilizations evolved by being seeded from outside by the Civilizing Heroes, the Angels, the Gods, the Devils, etc.. These were the Lemurian Sons of God that, though , illuminated the world with the Light of our Great Mother.
The second Atlantis, India, is our Great Father. The Father is the inseminating god known as Shiva in India, Jahveh in Israel, Zeus in Greece, Viracocha in Peru, Quetzalcoatl in Mexico, Bochica in Colombia, and so on. He is the god that is castrated and dies but who resurrects from among the dead, whole and virile as ever. The image is not without analogy with an immortal volcano such as the Krakatoa that explodes and vanishes from sight, but keeps shining underneath the ocean, until the time comes for it to rise and shine again, perhaps at God’s command.
the many aspects of god
As we just said, myths work at several levels, and a parallel such as the Atlantean one is just a facet of God’s myriad aspects. In other words, volcanoes are manifestations of God’s power, the weapon he often chooses to castigate the nations and to force Evolution to follow its course. The Hindus call this force by the name of vajra, a Sanskrit word meaning both “hard as diamond”, as well as “thunderbolt”. The vajra is the thunderbolt weapon used by almighty gods such as Baal (Hercules’ archetype), Zeus, Indra, Haddad, and a myriad others. In fact, God is neither the vajra nor the volcano, but the force behind it, its impeller and wielder.
For the vajra is indeed the flail of the gods, the Celestial weapon He uses in order to quicken Evolution and to stir Nature into action, in the endless parade of life forms that characterizes Life. Perhaps all this has a purpose in the divine conscience, though I don’t really know for sure. But there is no doubt whatsoever in my mind that Catastrophism is God’s way, if He indeed has any. Moreover, it is also Nature’s way, let no one doubt it. The ancients well knew that, and so do I, having learnt from them. For instance, they often portrayed the vajra as a flail or a lash, or even a hammer or a mace wielded by the god in order to stir Nature into action.
Gods like Christ are not the only ones to die and to rise again from the dead. By the way, Christ too is the wielder of the “iron rod”, the hardest of metals being a metaphor for “diamond” and, hence, for the vajra. Christ was preceded by many aliases, and the conception of “dying-resurrecting” gods akin to the Sun of Justice dates from oldest antiquity. Among the many archetypes of Christ we can mention, offhand, Osiris, Attis, Tammuz, Adonis, Shiva, Kronos, Saturn, Dionysos, Serapis, Mithra and, of course, Krishna, in his infinite series of avatars, and Hercules, the great hero, in his fiery apotheosis that figured the Atlantean Conflagration.
1 Tektites are glass beads and concretions resulting from giant meteoritic (or cometary) falls or, perhaps, from gigantic volcanic explosions as well. These collisions scatter tektites far and wide, as in the above case. The ones in question are called Indochinites, in an allusion to the region where they abound the most. The Indochinites were dated at 700 kyears (one kiloyear = one thousand years). The explosion of Lake Toba took place 75 kyears ago. The even larger one of Lake Taupo took place at some 100 kyears ago or so.
These giant explosions — which all occurred in the region of Indonesia, volcanically the most active in the whole world — are easily large enough to trigger an Ice Age. However, whether one is indeed caused depends on other conditions, probably dictated by insolation and other variables, astronomical or not. As we just said, the region of Indonesia has literally hundreds of active or dormant volcanoes, and has been very little researched so far, due to its remoteness.
Further research of the Indonesian region will, now that its connection with the birthplace of Mankind is being pointed out, certainly confirm the reality of what we are claiming. Our research is based on very detailed local traditions and is the fruit of many years of study of the myth of Atlantis-Eden from a scientific though unbiased, point of view. We push no religious, scientific, philosophic or mercenary point, and our interest lies solely in establishing Truth. As the Romans used to say, Amicus Plato, magis amica Veritas.

Note: The cataclysms of fire and water of worldwide extent of which we speak in this essay are strictly scientific. They are widely attested in the geological record, being generally accepted by modern Geology. So are the massive extinctions of all sorts of species, and particularly of the large mammals which took place at the end of the Pleistocene Ice Age, some 11,600 years ago. Some 70% of the former species of great mammals which existed in the former era became extinct then, including, in all probability, two species of humans, the Neandertals and the Cro-Magnons, which became extinct more or less at this epoch.
Only the mechanism for the end of the Pleistocene Ice Age — which is a certain fact, but is so far unexplained by Science — is new and our own. We propose that this dramatic event was caused by a huge explosion of the Krakatoa volcano (or perhaps another one), which opened the Strait of Sunda, separating the islands of Java and Sumatra, in Indonesia.



Begitulah bentuk kehidupan di ethiopia
kita disini masih bisa sibuk mencari-cari makanan yang lebih lezat
tak peduli berapapun harganya

tapi lihatlah kehidupan mereka di negrinya
begitu tragis dan membuat mata kita seakan tak sanggup melihatnya

ingatlah dan bersyukurlah
ini bukan tentang keberuntungan
melainkan tentang sisi lain dari kehidupan manusia
yang menjadi tolak ukur kehidupan kita
untuk menjadi manusia yang penuh rasa syukur
dapat menjalani kehidupan ini dengan sempurna

 


 
Kasus kelaparan, kurang gizi, kematian bayi, dan anak-anak kerap terjadi pada beberapa negara di Benua Afrika. Salah satu negara yang selama bertahun-tahun mengalami masalah seperti ini adalah Ethiopia. Negara yang terletak di wilayah Afrika Timur ini memiliki masalah kelaparan pada anak-anak yang berkelanjutan dari tahun ke tahun.


Ethiopia merupakan sebuah negara yang berbentuk Republik. Ibu kota negara ini adalah Addis Abeba. Negara ini memiliki luas wilayah sekitar 1.127.127 km2. Secara geografis, Ethiopia didominasi oleh bentang alam dataran tinggi (plato). Wilayah yang ada umumnya berupa gurun pasir yang membentang luas hingga ke Pantai Laut Merah. Selain itu, karena alam kebanyakan berupa gurun pasir, menyebabkan iklim yang ada menjadi iklim gurun yang keras. Kedua hal ini yang menyebabkan pertanian yang diusahakan di Ethiopia kurang maksimal dan selalu mengalami kegagalan untuk kebutuhan makanan bagi negaranya sendiri.


Jumlah penduduk Ethiopia adalah sekitar 59.690.383 (2003). Pada penduduk sendiri pun terjadi masalah yang kompleks. Sejak tahun 1970-an terus terjai perang saudara yang memperebutkan tahta kekuasaan di Ethiopia. Akibatnya, penduduk Ethiopia banyak yang menjadi korban termasuk anak-anak. Ribuan anak-anak menjadi yatim piatu. Selain itu, masalah kelaparan dan kurang gizi pun membayangi mereka karena kehidupan yang berpindah-pindah untuk menghindari perang menjadikan mereka sering tidak memperoleh makanan.
Kini, saat perang saudara masih terus berkecamuk, anak-anak di Ethiopia terus menjadi korban. Berbagai penyakit terus menyerang mereka seperti busung lapar, diare, dan lain-lain. Kematian pun tidak pernah lepas membayangi mereka...
 

makan di atas langit

Posted by anonimus
konsep makan diatas ketinggian lebih dari 25 meter ini dibuat oleh perusahaan yang berbasis di Belgia dan telah membuat 30 restaurant dengan konsep ini dilebih dari 30 negara. Tidak hanya makanan saja yang anda nikmati namun juga anda akan diiringi dengan musik live yang bermain disamping anda dan dengan 3 koki yang akan menyajikan makanan untuk anda. Anda akan berada diatas langit dengan diangkat oleh crane raksasa dan jangan khwatir dengan keamanan karena anda diharuskan menggunakan sabuk pengaman saat di Sky Dine ini. Dan anda pun dilarang untuk mebuang barang sembarangan kebawah ketika disini.


Dine In The Sky

























Sesungguhnya rumah yang pertama dibangun untuk manusia beribadah adalah rumah yang di Bakkah (Makkah) yang diberkati dan menjadi petunjuk bagi manusia. (QS. Ali Imran: 96)



Melewati Bostwana, Zimbabwe, Mozambique, Malawi, Tanzania, Kenya, Turki, Suriah, dan Yordania, Nathim Caircross (28 tahun) dan Imtiyaz Ahmad Haron (25 tahun) mengayuh sepeda ke Arab Saudi. Setiap hari mereka harus mengayuh sejauh 80-100 km, bermula dari Cape Town, Afrika Selatan.


nathim cairncross kanan dan imtiyaz ahmad haron

zaman purba lebih maju dari zaman modern

Wednesday, October 27, 2010
Posted by anonimus
Tag :
Tahun 1900 ditemukan sebuah logam yang membatu yang berusia sekitar 2000 tahun disebuah kapal karam di pulau Antikythera Yunani, 50 tahun kemudian benda tersebut dilihat dengan sinar-X dan menemukan bahwa benda tersebut merupakan sebuah alat mekanik seperti mekanik pada jam tangan, penemuan ini membuat para ahli arkeologi kebingunan, karena pada saat itu bangsa yunani tidak akan mungkin membuat benda mekanik serumit itu.


Anticythère Mechanics



Anticythère Mechanics Setelah di X-ray



Perkiraannya alat ini digunakan sebagai kalender


Keberadaan mekanik pada jaman prasejarah juga bisa ditemui di kompleks kuil Dendera di Mesir. Pada ruang bawah kuil tersebut terdapat pahatan dinding dua buah benda yang menyerupai bola lampu pijar, hal ini kemudian dikaitkan dengan pertanyaan, bagaimana ruang bawah yang gelap dan panas itu mendapatkan cahaya?

beberapa teori mengatakan bahwa, ruang-ruang dalam kuil tersebut menggunakan cahaya matahari yang dipantulkan dari luar berulang kali oleh cermin-cermin didalam kuil, namun teori ini dapat terbantahkan, karena sinar yang dipantulkan semakin lama semakin lemah sehingga tak bisa menerangi semua ruangan.

Ada juga yang mengatakan menggunakan api / obor tapi tidak ada di satu ruangpun ditemukan bahan untuk membuat api, dan tidak akan cukup oksigen yang didapatkan untuk membuat obor. Jadi, satu-satunya cara untuk menerangi ruangan dalam kuil adalah dengan bola lampu.

Pertanyaannya sekarang, jika benar mereka menggunakan lampu, bagaimana mereka mendapatkan aliran listrik? Bahkan listriknya saja baru ditemukan ribuan tahun setelahnya.

Satu penemuan yang mungkin dapat mendukung keberadaan bola lampu jaman prasejarah adalah penemuan baterai bagdad yang telah di uji mampu menghasilkan listrik dengan menuangkan perasan jeruk kedalam gucinya.

Pahatan dinding dua buah benda yang menyerupai bola lampu pijar



Baterai Bagdad

 

Baterai Bagdad Diisi Perasan Jeruk


Di kompleks kuil Teotihuacan para ahli yang mempercayai ada campur tangan alien dijaman purba menemukan penataan kompleks yang mirip dengan tata letak sama dengan posisi solar system kita, tapi bagaimana mungkin designer kompleks kuil Teotihuacan mengetahui lebih dahulu system peredaran planet-planet mengitari matahari?

Bukankah hal itu memerlukan penelitian ilmiah berkelanjutan selama berabad-abad? ada yang bilang bahwaposisi kuil ini adalah sebuah kebetulan belaka, tapi jika kita melihat peninggalan sejarah ditempat lain yang bahkan lebih tua dari Teotihuacan seperti Stonehenge yang mana bila dilihat dari angkasa, lingkaran-lingkaran susunan batunya sangat menyerupai solar system kita.

Kompleks Kuil Teotihuacan



Kompleks Kuil Teotihuacan Solar System
 



Stonehenge
 



Stonehenge Solar System
 


Stonehenge Dilihat Dari Udara




Pada tahun 1929 diketemukan pula sebuah peta lukisan bertanda tangan seorang Kapten bernama Piri Reis tercantum juga tahun 1513 yang juga berarti 21 tahun setelah Colombus menemukan benua Amerika.

Yang menakjubkan adalah bahwa peta itu sangat akurat menggambarkan garis benua atau garis pulau bahkan dilengkapi dengan gambar sungai dan gunung. Bagaimana sang creator membuatnya? Pengetahuan geografi saja mulai  berkembang ratusan tahun setelahnya.

Piri Reis Map



Piri reis Map dibanding peta modern


Bukti yang paling mendukung teori adanya campur tangan alien / teknologi modern dimasa prasejarah adalah adanya kompleks peninggalan Pumapunku di dataran tinggi Bolivia, disana logika kita tidak akan bisa menerka.

Di Pumapunku ada reruntuhan struktur megalitikum yang telah dihancurkan oleh gempa bumi yang sangat dahsyat. Blok-blok yang runtuh di Pumapunku sangat menakjubkan, yang mana bentuk dari blok-blok yang berserakan mempunyai potongan / bentuk yang sempurna dan memiliki ukuran yang sama dan bahkan lebih menyerupai puzzle-puzzle.

Belum ada yang tahu pasti bagaimana suku Indian Aymara mengangkut batu-batu (800 ton/pcs) kesana, padahal dataran itu berada pada 4.000 meter diatas permukaan laut.

Pumapunku



Pumapunku Blok

Kita semua tahu, bahwa untuk mendirikan sebuah bangunan seperti Pumapunku memerlukan penulisan, perencanaan, dan ide bagaimana tiap-tiap bagian pecahan memilki fungsi masing-masing dan bagaimana cara menyatukannya, tapi para ahli telah sepakat bahwa Indian Aymara tidak pernah mengenal tulisan. Bagaimana mungkin mengerjakan puzzle Pumapunku tanpa perencanaan?

Pumapunku Blok Rekonstruksi Puzzle


Dari segi kualitas, pengerjaan batu di Pumapunku sangatlah sempurna, seperti dikerjakan oleh mesin, untuk memotong dengan ukuran tertentu, membuat lubang, bahkan membuat cekungan panjang dengan ukuran sangat kecil (millimeter), dan tiap-tiap batu mempunyai bentuk dan ukuran yang sama persis.

Padahal material-material batu yang digunakan adalah batu diorite dan granit, batu diorite adalah salah satu batu yang paling keras yang hanya bisa dikalahkan oleh berlian, para arkeolog memperkirakan alat yang digunakan oleh suku Aymara mungkin memiliki mata berlian atau berbahan berlian, namun tak seorangpun arkeolog yang mampu memperkirakan atau mencoba merekonstruksi bagaimana Indian Aymara membuat blok-blok batu tersebut.

Lubang Pada Blok Pumapunku



Pumapunku Millimeter Detail



Pumapunku Ukiran








Sumber :
www.kaskus.us

Friday, October 29, 2010

perkebunan ganja skala home industry

Posted by anonimus at Friday, October 29, 2010 0 comments Links to this post
perkebunan ganja skala "HOME INDUSTRY" yang ada di salah satu negara bagian AMERIKA SERIKAT
Bagian depan rumah yang tampak biasa saja. Tidak terlihat mencurigakan.
Spoiler for perkebunan ganja:
Posted by anonimus at Friday, October 29, 2010 0 comments Links to this post
Piranha Raksasa Pemakan Buaya





Selama ini kita mengenal Piranha adalah jenis ikan kecil pemakan daging yang berhabitat di sepanjang Sungai Amazone. Kita tak pernah tahu di Sungai Kongo ada satu jenis ikan mirip Piranha yang mampu menyantap seekor buaya.

air kencing bisa mengobati jerawat

Posted by anonimus at Friday, October 29, 2010 0 comments Links to this post
ada kegunaan lain dari cairan tubuh ini, yaitu dapat mengobati jerawat

meskipun tidak semua orang mengakuinya, namun beberapa telah mencoba bentuk pengobatan jerawat ini di beberapa waktu dalam kehidupan mereka. 

Jadi, bagaimana mungkin urin membantu mencegah jerawat dan jerawat?

Bola Api Luar Biasa Muncul dari Komet Hartley 2

Posted by anonimus at Friday, October 29, 2010 0 comments Links to this post




INILAH.COM, Jakarta- Astronom berhasil merekam dua bola api luar biasa yang berasal dari komet terdekat dalam kurun 24 tahun terakhir. Bola api itu menimbulkan spekulasi hujan meteor.

ATM yang Mendidik di jepang

Posted by anonimus at Friday, October 29, 2010 0 comments Links to this post
Untuk melakukan Withdraw (Tarik Tunai) di ATM inipara Nasabah diharuskan menyelesaikan Soal-Soal Matematika dahulu, baru setelah itu mereka bisa melakukan transaksi...

sundaland itu atlantis?

Posted by anonimus at Friday, October 29, 2010 0 comments Links to this post
benua Sunda Land”Peradaban Atlantis yang hilang” hingga kini barangkali hanyalah sebuah mitos mengingat belum ditemukannya bukti-bukti yang kuat tentang keberadaannya. Mitos itu  pertama kali dicetuskan oleh seorang akhli filsafat terkenal dari Yunani, Plato (427 – 347 SM), dalam bukunya ”Critias dan Timaeus”. Disebutkan oleh Plato  bahwa terdapat awal peradaban yang disebut Benua Atlantis; para penduduknya dianggap sebagai dewa, makhluk luar angkasa, atau bangsa superior; benua itu kemudian hilang,  tenggelam secara perlahan-lahan karena serangkaian bencana, termasuk gempa bumi. 


Selama lebih dari 2000 tahun, Atlantis yang hilang telah menjadi dongeng.  Tetapi sejak abad pertengahan, kisah Atlantis menjadi populer di dunia Barat. Banyak ilmuwan Barat secara diam-diam meyakini kemungkinan keberadaannya.  Di antara para ilmuwan itu banyak  yang menganggap bahwa Atlantis terletak di Samudra Atlantis, bahkan ada yang menganggap Atlantis terletak di Benua Amerika sampai Timur Tengah. Penelitian pun dilakukan di wilayah-wilayah tersebut. Akan tetapi,  kebanyakan peneliti itu  tidak memberikan bukti atau telaah yang cukup. Sebagian besar dari mereka hanya mengira-ngira. .


Hanya beberapa tempat di bumi yang keadaannya memiliki persayaratan untuk dapat diduga sebagai Atlantis sebagaimana dilukiskan oleh Plato lebih dari 20 abad yang lalu. Akan tetapi Samudera Atlantik tidak termasuk wilayah yang memenuhi persyaratan itu. Para peneliti masa kini malahan menunjuk Sundaland (Indonesia bagian barat hingga ke semenanjung Malaysia dan Thailand) sebagai Benua Atlantis yang hilang dan merupakan awal peradaban manusia
.
Fenomen Atlantis dan awal peradaban selalu merupakan impian para peneliti di dunia untuk membuktikan dan menjadikannya penemuan ilmiah sepanjang masa. Apakah pandangan geologi memberi petunjuk yang kuat terhadap kemungkinan ditemukannya Atlantis yang hilang itu? Apabila jawabannya negatif, apakah peluang yang dapat ditangkap dari perdebatan ada tidaknya Atlantis dan kemungkinan lokasinya di wilayah Indonesia?.


PENDAHULUAN
”Mitos” atau cerita tentang benua Atlantis yang hilang pertama kali dicetuskan oleh seorang filosof terkenal dari Yunani  bernama Plato (427 – 347 SM) dalam bukunya berujudl Critias and Timaeus. Penduduknya dianggap dewa, makhluk luar angkasa atau bangsa superior. Plato berpendapat bahwa peradaban dari para peghuni benua Atlantis yang hilang itulah sebagai sumber peradaban manusia saat ini.
Hampir semua tulisan tentang sejarah peradaban menempatkan Asia Tenggara sebagai kawasan ‘pinggiran’. Kawasan yang kebudayaannya dapat subur berkembang hanya karena imbas migrasi manusia atau riak-riak difusi budaya dari pusat-pusat peradaban lain, baik yang berpusat di Mesir, Cina, maupun India. Pemahaman tersebut mengacu pada teori yang dianut saat ini yang  mengemukakan bahwa pada Jaman Es paling akhir yang dialami bumi terjadi sekitar 10.000 sampai 8.000 tahun yang lalu mempengaruhi migrasi spesies manusia.
Jaman Es terakhir ini dikenal dengan nama periode Younger Dryas. Pada saat ini, manusia telah menyebar ke berbagai penjuru bumi berkat ditemukannya cara membuat api 12.000 tahun yang lalu. Dalam kurun empat ribu tahun itu, manusia telah bergerak dari kampung halamannya di padang rumput Afrika Timur ke utara, menyusuri padang rumput purba yang kini dikenal sebagai Afrasia.
Padang rumput purba ini membentang dari pegunungan Kenya di selatan, menyusuri Arabia, dan berakhir di pegunungan Ural di utara. Jaman Es tidak mempengaruhi mereka karena kebekuan itu hanya terjadi di bagian paling utara bumi sehingga iklim di daerah tropik-subtropik justru menjadi sangat nyaman. Adanya api membuat banyak masyarakat manusia betah berada di padang rumput Afrasia ini.
Maka, ketika para ilmuwan barat berspekulasi tentang keberadaan benua Atlantis yang hilang, mereka mengasumsikan bahwa lokasinya terdapat di belahan bumi Barat, di sekitar laut Atlantik, atau paling jauh di sekitar Timur Tengah sekarang. Penelitian untuk menemukan sisa Atlantis pun banyak dilakukan di kawasan-kawasan tersebut. Namun di akhir dasawarsa 1990, kontroversi tentang letak Atlantis yang hilang muluai muncul berkaitan dengan pendapat dua orang peneliti, yaitu: Oppenheimer (1999) dan Santos (2005).
KONTROVERSI DAN REKONTRUKSI OPPENHEIMER
Kontroversi tentang sumber peradaban dunia muncul sejak diterbitkannya buku Eden The East (1999) oleh  Oppenheimer, Dokter ahli genetik yang banyak mempelajari sejarah peradaban. Ia berpendapat bahwa Paparan Sunda (Sundaland) adalah merupakan  cikal bakal peradaban kuno atau dalam bahasa agama sebagai Taman Eden. Istilah ini diserap dari kata dalam bahasa Ibrani Gan Eden. Dalam bahasa Indonesia disebut Firdaus yang diserap dari kata Persia “Pairidaeza” yang arti sebenarnya adalah Taman.
Menurut Oppenheimer,  munculnya peradaban di Mesopotamia, Lembah Sungai Indus, dan Cina justru dipicu oleh kedatangan para migran dari Asia Tenggara. Landasan argumennya adalah etnografi, arkeologi, osenografi, mitologi, analisa DNA, dan linguistik. Ia mengemukakan bahwa di wilayah Sundaland sudah ada peradaban yang menjadi leluhur peradaban Timur Tengah 6.000 tahun silam. Suatu ketika datang banjir besar yang menyebabkan penduduk Sundaland berimigrasi ke barat yaitu ke Asia, Jepang, serta Pasifik. Mereka adalah leluhur Austronesia.
Gambar 1. Buku Eden The East
(Oppenheimer, 1999)
Rekonstruksi Oppenheimer diawali dari saat berakhirnya puncak Jaman Es (Last Glacial Maximum) sekitar 20.000 tahun yang lalu. Ketika itu, muka air laut masih sekitar 150 m di bawah muka air laut sekarang. Kepulauan Indonesia bagian barat masih bergabung dengan benua Asia menjadi dataran luas yang dikenal sebagai Sundaland. Namun, ketika bumi memanas, timbunan es yang ada di kutub meleleh dan mengakibatkan banjir besar yang melanda dataran rendah di berbagai penjuru dunia.
Data geologi dan oseanografi mencatat setidaknya ada tiga banjir besar yang terjadi yaitu pada sekitar 14.000, 11.000, dan 8,000 tahun yang lalu. Banjir besar yang terakhir bahkan menaikkan muka air laut hingga 5-10 meter lebih tinggi dari yang sekarang. Wilayah yang paling parah dilanda banjir adalah Paparan Sunda dan pantai Cina Selatan. Sundaland malah menjadi pulau-pulau yang terpisah, antara lain Kalimantan, Jawa, Bali, dan Sumatera. Padahal, waktu itu kawasan ini sudah cukup padat dihuni manusia prasejarah yang berpenghidupan sebagai petani dan nelayan.
Bagi Oppenheimer, kisah ‘Banjir Nuh’ atau ‘Benua Atlantis yang hilang’ tidak lain adalah rekaman budaya yang mengabadikan fenomena alam dahsyat ini. Di kawasan Asia Tenggara, kisah atau legenda seperti ini juga masih tersebar luas di antara masyarakat tradisional, namun belum ada yang meneliti keterkaitan legenda dengan  fenomena Taman Eden.
BENUA ATLANTIS MENURUT ARYSO SANTOS
Kontroversi dari Oppenheimer seolah dikuatkan oleh pendapat Aryso Santos. Profesor asal Brazil ini menegaskan bahwa Atlantis yang hilang sebagaimana cerita Plato itu adalah wilayah yang sekarang disebut Indonesia. Pendapat itu muncul setelah ia melakukan penelitian selama 30 tahun yang menghasilkan buku Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato’s Lost Civilization (2005). Santos dalam bukunya tersebut menampilkan 33 perbandingan, seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Sundaland (Indonesia bagian Barat).
Santos menetapkan bahwa pada masa lalu Atlantis merupakan benua yang membentang dari bagian selatan India, Sri Langka, dan Indonesia bagian Barat meliputi Sumatra, Kalimantan, Jawa dan terus ke arah timur. Wilayah Indonesia bagian barat sekarang sebagai pusatnya. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.
Argumen Santos tersebut didukung banyak arkeolog Amerika Serikat bahkan mereka meyakini bahwa benua Atlantis adalah sebuah pulau besar bernama Sundaland, suatu wilayah yang kini ditempati Sumatra, Jawa dan Kalimantan. Sekitar 11.600 tahun silam, benua itu tenggelam diterjang banjir besar seiring berakhirnya zaman es.
Gambar 2. Wilayah Sundaland (Indonesia bagian Barat dalam buku Santos (2005)
Menurut Plato, Atlantis merupakan benua yang hilang akibat letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus dan mencairnya Lapisan Es yang pada masa itu sebagian besar benua masih diliputi oleh Lapisan-lapisan Es. Maka tenggelamlah sebagian benua tersebut.
Santos berpendapat bahwa meletus-nya berpuluh-puluh gunung berapi secara bersamaan tergambarkan pada wilayah Indonesia (dulu). Letusan gunung api yang dimaksud di antaranya letusan gunung Meru di India Selatan, letusan gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba, dan letusan gunung Semeru/Mahameru di Jawa Timur. Letusan yang paling dahsyat di kemudian hari adalah letusan Gunung Tambora di Sumbawa yang memecah bagian-bagian pulau di Nusa Tenggara dan Gunung Krakatau (Krakatoa) yang memecah bagian Sumatera dan Jawa membentuk Selat Sunda (Catatan : tulisan Santos ini perlu diklarifikasi dan untuk sementara dikutip di sini sebagai apa yang diketahui Santos).
Berbeda dengan Plato, Santos tidak setuju mengenai lokasi Atlantis yang dianggap terletak di lautan Atlantik. Ilmuwan Brazil itu berargumentasi, bahwa letusan berbagai gunung berapi menyebabkan lapisan es mencair dan mengalir ke samudera sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut membebani samudera dan dasarnya sehingga mengakibatkan tekanan luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantai benua. Tekanan ini mengakibatkan gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh gunung-gunung yang meletus kemudian secara beruntun dan menimbulkan gelombang tsunami yang dahsyat. Santos menamakannya Heinrich Events. Catatan : pernyataan Santos ini disajikan seperti apa adanya dan tidak merupakan pendapat penulis.
Namun, ada beberapa keadaan masa kini yang antara Plato dan Santos sependapat yakni pertama, bahwa lokasi benua yang tenggelam itu adalah Atlantis dan oleh Santos dipastikan sebagai wilayah Republik Indonesia. Kedua, jumlah atau panjangnya mata rantai gunung berapi di Indonesia, diantaranya ialah: Kerinci, Talang, Krakatoa, Malabar, Galunggung, Pangrango, Merapi, Merbabu, Semeru, Bromo, Agung, Rinjani. Sebagian dari gunung itu telah atau sedang aktif kembali.
Dalam usaha mengemukakan pendapat, tampak Plato telah melakukan dua kekhilafan, pertama mengenai bentuk/posisi bumi yang katanya datar. Kedua, mengenai letak benua Atlantis yang katanya berada di Samudera Atlantik yang ditentang oleh Santos. Penelitian oleh para akhli Amerika Serikat di wilayah Atlantik terbukti tidak berhasil menemukan bekas-bekas benua yang hilang itu. Oleh karena itu tidaklah semena-mena ada peribahasa yang berkata, “Amicus Plato, sed magis amica veritas.” Artinya,”Saya senang kepada Plato tetapi saya lebih senang kepada kebenaran.”
Atlantis memang misterius, dan karenanya menjadi salah satu tujuan utama arkeologi di dunia. Jika Atlantis ditemukan, maka penemuan tersebut bisa jadi akan menjadi salah satu penemuan terbesar sepanjang masa.
PANDANGAN GEOLOGI
Pendekatan ilmu geologi untuk mengungkap fenomena hilangnya Benua Atlantis dan awal peradaban kuno, dapat ditinjau dari dua sudut pandang yaitu pendekatan tektonik lempeng dan kejadian zaman es.
Wilayah Indonesia dihasilkan oleh evolusi dan pemusatan lempeng kontinental Eurasia, lempeng lautan Pasifik, dan lempeng Australia Lautan Hindia (Hamilton, 1979). umumnya disepakati bahwa pengaturan fisiografi kepulauan Indonesia dikuasai oleh daerah paparan kontinen, letak daerah Sundaland di barat, daerah paparan Sahul atau Arafura di timur. Intervensi area meliputi suatu daerah kompleks secara geologi dari busur kepulauan, dan cekungan laut dalam (van Bemmelen, 1949).
Kedua area paparan memberikan beberapa persamaan dari inti-inti kontinen yang stabil ke separuh barat dan timur kepulauan. Area paparan Sunda menunjukkan perkembangan bagian tenggara di bawah permukaan air dari lempeng kontinen Eurasia dan terdiri dari Semenanjung Malaya, hampir seluruh Sumatra, Jawa dan Kalimantan, Laut Jawa dan bagian selatan Laut China Selatan.
Tatanan tektonik Indonesia bagian Barat merupakan bagian dari sistim kepulauan vulkanik akibat interaksi penyusupan Lempeng Hindia- Australia di Selatan Indonesia. Interaksi lempeng yang berupa jalur tumbukan (subduction zone) tersebut memanjang mulai dari kepulauan Tanimbar sebelah barat Sumatera, Jawa sampai ke kepulauan Nusa Tenggara di sebelah Timur. Hasilnya adalah terbentuknya busur gunung api (magmatic arc).
Gambar 3. Rekonstruksi Tektonik Lempeng di Wilayah Asia Tenggara (Hall, 2002). Garis merah adalah batas wilayah yang dikenal sebagai Sundaland
Rekontruksi tektonik lempeng tersebut akhirnya dapat menerangkan pelbagai gejala geologi dan memahami pendapat Santos, yang menyakini  Wilayah Indonesia memiliki korelasi dengan anggapan Plato yang menyatakan bahwa tembok Atlantis terbungkus emas, perak, perunggu, timah dan tembaga, seperti terdapatnya mineral berharga tersebut pada jalur magmatik di Indonesia. Hingga saat ini, hanya beberapa tempat di dunia yang merupakan produsen timah utama. Salah satunya disebut Kepulauan Timah dan Logam, bernama Tashish, Tartessos dan nama lain yang menurut Santos (2005) tidak lain adalah Indonesia. Jika Plato benar, maka Atlantis sesungguhnya adalah Indonesia.
Selain menunjukan kekayaan sumberdaya mineral, fenomena tektonik lempeng tersebut menyebabkan munculnya titik-titik pusat gempa, barisan gunung api aktif (bagian dari Ring of Fire dunia),  dan banyaknya komplek patahan (sesar) besar, tersebar di Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara dan Indonesia bagian timur. Pemunculan gunungapi aktif, titik-titik gempa bumi dan kompleks patahan yang begitu besar, seperti sesar Semangko (Great Semangko Fault membujur dari Aceh sampai teluk Semangko di Lampung) memperlihatkan tingkat kerawanan yang begitu besar. Menurut Kertapati (2006), karakteristik gempabumi di daerah Busur Sunda pada umumnya diikuti tsunami.
Para peneliti masa kini  terutama  Santos (2005) dan sebagian peneliti Amerika Serikat memiliki kenyakinan bahwa gejala kerawanan bencana geologi wilayah Indonesia adalah sesuai dengan anggapan Plato yang menyatakan bahwa Benua Atlantis telah hilang akibat letusan gunung berapi yang bersamaan.
Pendekatan lain akan keberadaan Benua Atlantis dan awal peradaban manusia (hancurnya Taman Eden) adalah kejadian Zaman Es. Pada zaman Es suhu atau iklim bumi turun dahsyat dan menyebabkan peningkatan  pembentukan es di kutub dan gletser gunung. Secara geologis, Zaman Es sering digunakan untuk merujuk kepada waktu lapisan Es di belahan bumi utara dan selatan; dengan definisi ini kita masih dalam Zaman Es. Secara awam untuk waktu 4 juta tahun ke belakang, definisi Zaman Es digunakan untuk merujuk kepada waktu yang lebih dingin dengan tutupan Es yang luas di seluruh benua Amerika Utara dan Eropa.
Penyebab terjadinya Zaman Es antara lain adalah terjadinya proses pendinginan aerosol yang sering menimpa planet bumi. Dampak ikutan dari peristiwa Zaman Es adalah penurunan muka laut. Letusan gunung api dapat menerangkan berakhirnya Zaman Es pada skala kecil dan  teori kepunahan Dinosaurus dapat menerangkan akhir Zaman Es pada skala besar.
Gambar 4. Penyebaran es di belahan bumi utara pada masa Pleistosen (USGS, 2005)
Dari sudut pandang di atas, Zaman Es terakhir dimulai sekitar 20.000 tahun yang lalu dan berakhir kira-kira 10.000 tahun lalu atau pada awal kala Holocene (akhir Pleistocene). Proses pelelehan Es di zaman ini berlangsung relatif lama dan beberapa ahli membuktikan proses ini berakhir sekitar 6.000 tahun yang lalu.
Pada Zaman Es, pemukaan air laut jauh lebih rendah daripada sekarang, karena banyak air yang tersedot karena membeku di daerah kutub. Kala itu Laut China Selatan kering, sehingga kepulauan Nusantara barat tergabung dengan daratan Asia Tenggara. Sementara itu pulau Papua juga tergabung dengan benua Australia.
Ketika terjadi peristiwa pelelehan Es tersebut maka terjadi penenggelaman daratan yang luas. Oleh karena itu gelombang migrasi manusia dari/ke Nusantara mulai terjadi. Walaupun belum ditemukan situs pemukiman purba, sejumlah titik diperkirakan sempat menjadi tempat tinggal manusia purba Indonesia sebelum mulai menyeberang selat sempit menuju lokasi berikutnya (Hantoro, 2001).
Tempat-tempat itu dapat dianggap sebagai awal pemukiman pantai di Indonesia. Seiring naiknya paras muka laut, yang mencapai puncaknya pada zaman Holosen ± 6.000 tahun dengan kondisi muka laut  ± 3 m lebih tinggi dari muka laut sekarang, lokasi-lokasi tersebut juga bergeser ke tempat yang lebih tinggi masuk ke hulu sungai.
Berkembangnya budaya manusia, pola berpindah, berburu dan meramu (hasil) hutan lambat laun berubah menjadi penetap, beternak dan berladang serta menyimpan dan bertukar hasil dengan kelompok lain. Kemampuan berlayar dan menguasai navigasi samudera yang sudah lebih baik, memungkinkan beberapa suku bangsa Indonesia mampu menyeberangi Samudra Hindia ke Afrika dengan memanfaatkan pengetahuan cuaca dan astronomi. Dengan kondisi tersebut tidak berlebihan Oppenheimer beranggapan bahwa  Taman Eden berada di wilayah Sundaland.
Taman Eden hancur akibat air bah yang memporak-porandakan dan mengubur sebagian besar hutan-hutan maupun taman-taman sebelumnya. Bahkan sebagian besar dari permukaan bumi ini telah tenggelam dan berada dibawah permukaan laut, Jadi pendapat Oppenheimer memiliki kemiripan dengan akhir Zaman Es yang menenggelamkan sebagian daratan Sundaland.

MENANGKAP PELUANG
Pendapat Oppenheimer (1999) dan Santos (2005) bagi sebagian para peneliti adalah kontroversial dan mengada-ada. Tentu  kritik ini adalah hal yang wajar dalam pengembangan ilmu untuk mendapatkan kebenaran. Beberapa tahun ke belakang pendapat yang paling banyak diterima adalah seperti yang dikemukakan oleh Kircher (1669) bahwa Atlantis itu berada di tengah-tengah Samudera Atlantik sendiri, dan tempat yang paling meyakinkan adalah Pulau Thera di Laut Aegea, sebelah timur Laut Tengah.
Pulau Thera yang dikenal pula sebagai Santorini adalah pulau gunung api yang terletak di sebelah utara Pulau Kreta. Sekira 1.500 SM, sebuah letusan gunung api yang dahsyat mengubur dan menenggelamkan kebudayaan Minoan. Hasil galian arkeologis menunjukkan bahwa kebudayaan Minoan merupakan kebudayaan yang sangat maju di Eropa pada zaman itu, namun demikian sampai saat ini belum ada kesepakatan di mana lokasi Atlantis yang sebenarnya. Setiap teori memiliki pendukung masing-masing yang biasanya sangat fanatik dan bahkan bisa saja Atlantis hanya ada dalam pemikiran Plato.
Perlu diketahui pula bahwa kandidat lokasi Atlantis bukan hanya Indonesia, banyak kandidat lainnya antara lain : Andalusia, Pulau Kreta, Santorini, Tanjung Spartel, Siprus, Malta, Ponza, Sardinia, Troy, Tantali, Antartika, Kepulauan Azores, Karibia, Bolivia, Meksiko, Laut Hitam, Kepulauan Britania, India, Srilanka, Irlandia, Kuba, Finlandia, Laut Utara, Laut Azov, Estremadura dan hasil penelitian  terbaru oleh Kimura’s (2007) yaitu menemukan  beberapa monument batu dibawah perairan Yonaguni, Jepang yang diduga  sisa-sisa dari peradaban Atlantis atau Lemuria.

Gambar 5. Monument Batu yang berhasil ditemukan dibawah perairan Yonaguni, Jepang, (Spiegel Distribution TV, 2000)

PELUANG PENGEMBANGAN ILMU
Adalah fakta bahwa saat ini berkembang  pendapat yang menjadikan Indonesia sebagai wilayah yang dianggap ahli waris Atlantis yang hilang. Untuk itu kita harus bersyukur dan membuat kita tidak rendah diri di dalam pergaulan internasional, sebab Atlantis pada masanya adalah merupakan pusat peradaban dunia yang misterius. Bagi para arkeolog atau oceanografer moderen, Atlantis  merupakan obyek menarik terutama soal teka-teki di mana sebetulnya lokasi benua tersebut dan karenanya menjadi salah satu tujuan utama arkeologi dunia. Jika Atlantis ditemukan, maka penemuan tersebut bisa jadi akan menjadi salah satu penemuan terbesar sepanjang masa.
Perkembangan fenomena ini menyebabkan Indonesia menjadi lebih dikenal di dunia internasional khususnya di antara para peneliti di berbagai bidang yang terkait. Oleh karena itu Pemerintah Indonesia perlu menangkap peluang ini dalam rangka meningkatkan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Peluang ini penting dan jangan sampai diambil oleh pihak lain.
Kondisi ini mengingatkan pada  Sarmast (2003), seorang arsitek Amerika keturunan Persia yang mengklaim telah menemukan Atlantis dan menyebutkan bahwa Atlantis dan Taman Firdaus adalah sama. Sarmast menunjukkan bahwa Laut Mediteranian adalah lokasi Atlantis, tepatnya sebelah tenggara Cyprus dan terkubur sedalam 1500 meter di dalam air.  ‘Penemuan’ Sarmast, menjadikan kunjungan wisatawan ke Cyprus melonjak tajam. Para penyandang hibah dana penelitian Sarmast, seperti editor, produser film, agen media dll mendapat keuntungan besar. Mereka seolah berkeyakinan bahwa jika Sarmast benar, maka mereka akan terkenal; dan jika tidak, mereka telah mengantungi uang yang sangat besar dari para sponsor.
Santos (2005) dan  seorang arkeolog Cyprus sendiri yaitu Flurentzos dalam artikel berjudul : ”Statement on the alleged discovery of atlantis off Cyprus” (Santos, 2003) memang menolak penemuan Sarmast. Mereka sependapat dengan Plato dan menyatakan secara tegas bahwa Atlantis berada di luar Laut Mediterania. Pernyataan ini didukung oleh Morisseau (2003) seorang ahli geologis Perancis yang tinggal di pulau Cyprus. Ia menyatakan tidak berhubungan sama sekali dengan fakta geologis. Bahkan Morisseau menantang Sarmast untuk melakukan debat terbuka. Namun demikian, usaha Sarmast  untuk membuktikan bahwa Atlantis yang hilang itu terletak di Cyprus telah menjadikan kawasan Cyprus dan sekitarnya pada suatu waktu tertentu dibanjiri oleh wisatawan ilmiah dan mampu mendatangkan kapital cukup berasal dari para sponsor dan wisatawan ilmiah tersebut.
Gambar 6. Peta Atlantis menurut Kircher (1669). Pada peta tersebut, Atlantis terletak di tengah Samudra Atlantik.
Demikian juga dengan letak Taman Eden, sudah banyak yang melakukan penelitian mulai dari agamawan sampai para ahli sejarah maupun ahli geologi jaman sekarang. Ada yang menduga letak Taman Eden berada di Mesir, di Mongolia, di Turki, di India, di Irak dsb-nya, tetapi tidak ada yang bisa memastikannya.
Penelitian yang cukup konprehensif berkenaan dengan Taman Eden diantaranya dilakukan oleh Zarins (1983) dari Southwest Missouri State University di Springfield.  Ia telah mengadakan penelitian lebih dari 10 tahun untuk mengungkapkan rahasia di mana letaknya Taman Eden. Ia menyelidiki foto-foto dari satelit dan berdasarkan hasil penelitiannya ternyata Taman Eden itu telah tenggelam dan sekarang berada di bawah permukaan laut di teluk Persia.
Gambar 7.  Taman Eden menurut Zarins (1983)
Hingga saat ini, letak dari Atlantis dan Taman Eden masih menjadi sebuah kontroversi, namun berdasarkan bukti arkeologis dan beberapa teori yang dikemukakan oleh para peneliti, menunjukkan kemungkinan peradaban tersebut berlokasi di Samudera Pasifik (disekitar Indonesia sekarang). Ini menjadi tantangan para peneliti Indonesia untuk menggali lebih jauh, walaupun banyak juga yang skeptis, beranggapan bahwa Atlantis dan Taman Eden tidak pernah ada di muka bumi ini.

Benua Atlantis itu (Ternyata) Indonesia

Posted by anonimus at Friday, October 29, 2010 0 comments Links to this post
Oleh Prof. Dr. H. PRIYATNA ABDURRASYID, Ph.D.


atlantis-indonesia-map-3.jpg MUSIBAH alam beruntun dialami Indonesia. Mulai dari tsunami di Aceh hingga yang mutakhir semburan lumpur panas di Jawa Timur. Hal itu

mengingatkan kita pada peristiwa serupa di wilayah yang dikenal sebagai Benua Atlantis. Apakah ada hubungan antara Indonesia dan

Atlantis?

the true history of atlantis II

Posted by anonimus at Friday, October 29, 2010 0 comments Links to this post
the collapse of the holy mountain of osiris
borobudurMount Atlas is the same Holy Mountain of Paradise represented by the Great Pyramid. Osiris dead, reposing inside the Holy Mountain, represents the dead Atlantis or, rather, the dead of Atlantis, buried and entombed by the gigantic explosion of the Holy Mount Atlas. Mount Atlas is the same as the Mount Meru of the Hindus, the pyramid-shaped mountain that there served as the sky’s support.
mandborobudurIndeed, the Egyptian word for pyramid, M’R was most probably read MeRu as in the Hindu name of the mountain simulated by the monument. The ancient Egyptians did not spell out the vowels in their hieroglyphs, so the above reading probably corresponds to the actual one of Mt. Meru, the exploded Mountain of Paradise.
In Hindu traditions, Mt. Meru served as the Stambha, the Pillar of Heaven. Mt. Meru (or Kailasa = “Skull” = Calvary”) also served as the support of the Cosmic Tree where the Cosmic Man (Purusha) was crucified, like Christ on the Cross. Mt. Meru is also the Holy Mountain of Paradise, endlessly portrayed in India during its explosion, in beautiful mandalas such as the Shri Yantra. By the way, the Golden Lotus often shown with them portrays the “atomic mushroom” of the cosmic explosion, as we argue in detail in our work entitled “The Secret of the Golden Flower“.
In consequence of the giant explosion, Mt. Meru (or Atlas), voided of its magma, collapsed like a sort of punctured balloon. Its enormous peak sunk underseas, turning into a giant caldera. Our researches into the ancient world legends have shown that this volcano is indeed the Krakatoa, the same one that still castigates the region whenever it again erupts explosively, as it did in 1883 and other occasions.
the meaning of the primordial castration
The Krakatoa is now a submarine volcano located inside the gigantic caldera that now forms the Sunda Strait separating Sumatra from Java. In Hindu myths, its explosion and subsequent fate are allegorized as the Primordial Castration which turned the Cosmic Phallus (Linga) into the Cosmic Yoni (or Vulva). And Earth’s Yoni is the same as the Khasma Mega of Hesiod, mentioned further above.
We see how the apparently absurd traditions of the ancients indeed make far more sense than those of the crude attempts at explanation by the modern experts of all sorts. It is also precisely to this fact that refers the legend of Atlas, the Pillar of Heaven. Unable to bear the load of an earth overpopulated with gods, Atlas collapsed, and let the sky fall dawn over the earth, destroying it.
The name of Atlas indeed derives from the Greek radix tla meaning “to bear”, preceded by the negative affix a, meaning “not”. Hence, the name of Atlas literally means “the one unable to bear [the skies]“. Such is the reason why Atlas (and other Titans like himself) are often portrayed with weak, serpentine legs. The collapse of the skies is, of course, a clever allegory of the fall of volcanic dust and debris from the afar explosion of Mt. Atlas. In Hindu myths, one layer buries the former one, giving rise to a new heaven and a new earth, just as we read in Revelation.
atlantis and the rising of the phoenix
garudapancasilaThe above is, of course, exactly the message of St. John’s Revelation (21:1) concerning the New Jerusalem. The New Jerusalem is Atlantis, reborn from its cinders, as a sort of Phoenix, the bird that personifies Paradise in Greek myths. These myths were indeed copied from Egypt who, in turn, cribbed them from India. India and, more exactly, Indonesia, is the true land of the Phoenix, as is relatively easy to show, since it is from there that comes the name of the Benu bird of the Egyptians and that of the Phoenix of the Greeks.
This mystic bird was called Vena in the Rig Veda. So, if the Phoenix indeed symbolizes Atlantis-Paradise resurging from its own cinders, as we believe it does, there can be little doubt that the legend is originally Vedic, and originated in the Indies. The name means nothing that makes sense in either Egyptian or Greek. But in the holy tongues of India it means the idea of Eros (Love) and, more exactly, the Sun of Justice that symbolizes Atlantis rising from the waters of the primordial abyss. This myth forms the essence of the one of the Celestial Jerusalem, as well as, say, those of the Orphic Cosmogonies, those of the Egyptians, and those of most other ancient nations.
egypt and the origin of the legend of atlantis
cosmic_manPlato concedes that he learnt the legend of Atlantis from Solon who, in turn, got it from the Egyptians. But those, in their turn, learnt it from the Hindus of Punt (Indonesia). Punt was the Ancestral Land (To-wer), the Island of Fire whence the Egyptians originally came, in the dawn of times, expelled by the cataclysm that razed their land. From there also came the Aryans, the Hebrews and Phoenicians, as well as the other nations that founded the magnificent civilizations of olden times.
It is from the primordial Lemurian Atlantis that derive all our myths and religious traditions, the very ones that allowed the ascent of Man above the beasts of the field. From Atlantis derive all our science and our technology: agriculture, cattle herding, the alphabet, metallurgy, astronomy, music, religion, and so forth. These inventions are so clever and so advanced that they seem as natural as the air we breath and the gods we worship. But they are all incredibly advanced inventions that came to us from the dawn of times, from the twin Atlantises we utterly forgot.
It is in India and in Indonesia, that, even today, we find the secret of Atlantis and Lemuria hidden behind the thick veil of their myths and allegories. The crucial events are disguised inside the Hindu and Buddhic religious traditions, or told as charming sagas like those of the Ramayana and the Mahaharata. The error that led the ancients, along with the modern researchers, into believing that Atlantis lay in the Atlantic Ocean is easy to understand now that we know the true whereabouts of the sunken continent. When humanity moved from Indonesia into the regions of Europe and the Near East, the “Occidental Ocean” of the Hindus became the Oriental Ocean, for it then lay towards the east.
The (Hindu) myths that told of Atlantis sinking in the Occidental Ocean became interpreted as referring to the Atlantic Ocean, western in regards to Europe, their new residence. The Hindus called the sunken continent by the name of Atala (or Atalas) a name uncannily similar to that of Atlas and of Atlantis (by the appending of the suffix tis or tiv = “mountain”, “island”, in Dravida, and pronounced “tiw”). It is from this base that names such as that of the mysterious Keftiu of the Egyptians, the “Islands in the Middle of the Ocean (the “Great Green”)” ultimately came (Keftiu = Kap-tiv = “capital island” or “Skull Island” = “Calvary” in Dravida, the pristine language of Indonesia). But this is a long story which we tell elsewhere, presenting the detailed evidence for this uncanny allegation of ours.
the reversal of the oceans and the cardinal directions
It is to this “reversal” of the Cardinal Directions just mentioned that Plato and Herodotus make reference, along with other ancient authorities. Interestingly enough, even the Amerindians — who came in, at least in part, from Indonesia into South America via the Pacific Ocean impelled by the Atlantean Cataclysm — often confuse the direction of their primeval homeland, which they sometimes place in the east, sometimes in the west. But, strangely enough, they never place it towards the north, as they should, if they came in via the Bering Strait.
The ancient Greeks attempted to mend their myths calling, by the name of “Atlantic”, the whole ocean that encircles Eurasia and Africa. But the result was even worse than before and the confusion only grew. Herodotus used to laugh at this ridiculous attempt by the geographers of his time (Hist. 2:28). Aristotle, in his De Coelo, is also very specific on the fact that the name of “Atlantic Ocean” — that is, the “Ocean of the Atlanteans” — was the whole of the circular, earth-encompassing ocean.
So, we able to conclude that Atlantis can legitimately be localized either in the ocean we presently call by that name, or, even more likely, in the ocean where the ancients placed their legends and their navigations, the Indian Ocean. This ocean they named Erythraean, Atlantic, and so on, names which are indeed related with that of Atlantis, “the land of the Reds”, the Primordial Phoenicia or Erythraea, whose names mean “the red one”.
It should perhaps be emphasized that it is the name of the Atlantic Ocean (or “Ocean of the Atlanteans”) that derives from that of Atlantis, and not vice-versa. And that name far predates Plato, being mentioned, f. i., by Herodotus, who wrote his History fully a century before Plato wrote the Critias. Moreover, as Herodotus explains, the name of “Atlantic Ocean” originally applied to the Indian Ocean, rather than the body of water now so named. So, it is on that side of the world, and not on ours that we should expect to find Atlantis.
atlas, hercules, atlantis, and the itinerary of the heroes
Greek myths often embody the confusion of east and west that we just pointed out. The itineraries of Greek heroes such as Hercules, Jason, Ulysses and the Argonauts are all absurd when placed in the Mediterranean or even in the Atlantic Ocean. But they all make a lot of geographical and mythical sense if we place them in the Indian Ocean, as we should. And that is indeed what we do, in other more specialized works of ours on this fascinating subject.
Likewise, the Titan Atlas and his mountain, Mt. Atlas, were placed just about everywhere, from Hesperia (Spain), the Canaries and Morroco to the Bosporus and the Far Orient, at the confines of Hades (Hell). The result was a profusion of Atlantises and of Pillars of Atlas (or of Hercules) that makes no sense al all. Indeed, the two heroes who personified the World’s Pillars represented the two Atlantises we discussed further above. They are personified as Atlas and Hercules, the primeval Twins whom we encounter in all Cosmogonies.
In Plato’s dialogues concerning Atlantis (the Critias and the Timaeus), Hercules is called Gadeiros or Eumelos, names that correspond to something like “Cowboy” or, rather “Fencer of Cattle”. This name is a literal translation of that of Setubandha, the Sanskrit appellation of Indonesia. This name is due to the fact that Indonesia indeed “fences out” the seas, dividing the Pacific from the Indian Ocean.
the ultima thule, the twins, and the war of doomsday
Indonesia was, as we said above, the Ultima Thule (or “Ultimate Boundary“) of the ancients, the last frontier which should not be crossed by the navigators. There lay the Pillars of Hercules and of Atlas, the two primordial Twins. In another guise, the two correspond to the twins of Gemini (Castor and Pollux), directly derived from the Ashvin Twins of the Hindus. In Egypt they corresponded to Seth and Osiris, and were commemorated by the two obelisks posted at the entrance of Egyptian temples.
Hercules is, of course, a Phoenician deity (Baal Melkart), in turn derived from Bala or Bala-Rama (“the Strong Rama”), the twin brother of Krishna. Bala means “Strong” or “Strength” in Sanskrit, being called the same (Bias = “Strength”) in Greek and other tongues. Krishna is the World’s Pillar, clearly the personification of Atlantis.
More exactly, the Twins personify the two races of blondes (Aryo-Semites) and brunets or “reds” (Dravidas), fated to fight wherever they meet. Both shades are originally from Eden (Lemuria), the primordial Paradise where humanity originally arose. Osiris, the Egyptian god, also played the role of Cosmic Pillar (Djed), a role he shared with Seth, his twin and dual. But this mythical symbolism ultimately derives from that of Shiva as the Sthanu, the “Pillar of the World” and that of Shesha (or Vritra), the Cosmic Serpent who was the archetype of Seth-Typhon.
the battle of the sons of light and the sons of darkness
The Twins — like the Devas and Asuras of the Hindus and the Sons of Light and the Sons of Darkness of the Essenians — are always the personifications of the two races that dispute world hegemony since the dawn of times. It was their war, according to Plato — who calls them “Greeks” and Atlanteans — that led to the destruction of Atlantis.
There is no reason to doubt that the great philosopher was indeed transmitting ancient traditions faithfully. For, we are starting to learn all over again that global wars can indeed lead to the world’s end. In fact, it is the same endless war that menaces us now as it did at the dawn of times. This frightening reality is told in the Ramayana, in the Mahabharata and in the Iliad, not to mention the other myths and traditions.
But the war of Atlantis is also the War of Armageddon narrated in the Book of Revelation. This war is in reality a repetition or replica of the worldwide, primordial battle between Gods and Devils. These mighty beings were the same as the so-called Titans (or Giants) in Greece. Their war was, as Plato and his commentators explain in detail, the same as the one of Atlantis.
Armageddon means (in Hebrew) the same as Shambhalla (in Sanskrit), “the Plains of Gathering”. There the armies of the world will gather, in the end of times, for “the war that is to end all wars”, for it will close the Kali Yuga. The perspective indeed seems frighteningly real, doesn’t it indeed? Fables or Reality? Religion or Profanity? Science or Superstitious Nonsense? We are inclined to believe that our ancestors spoke in earnest, and that the war of Armaggedon and the end of the world are fast becoming all too real possibilities.
are mars and venus a celestial example?
We do not want to seem alarmists, as our message is indeed one of hope and salvation, and not of “Bible thumping”. The recent discovery of vestiges of extinct life in Mars brings a memorable lesson that is worth detailing. Earth has been, in the past, the victim of countless catastrophes that nearly wiped out Life altogether. These cataclysms were due to different causes such as cometary and asteroidal falls or volcanic cataclysms bringing on or off the Ice Ages. Not impossibly, wars such as the War of Atlantis and the Battle of the Gods can have indeed happened in a far, utterly forgotten past that lives on in our myths and holy traditions from everywhere.
Perhaps our wars just continue these and others that possibly took place on Mars and Venus, destroying Life there, if not in other Solar Systems as well. It may even be the case that Big Bangs and Creations are indeed cyclic processes that recur periodically, just as the traditions of the Hindus on Cyclical Eras affirm in detail. The extinction of the dinosaurs, and the origin of the Moon — pulled out of the Earth by a planetoidal impact — are instances of such sobering cataclysms. Thousands of giant craters — as large as those on the Moon, though almost effaced by erosion — are still observable on the earth, as scientists are starting to discover. Hundreds of times in the past we have had massive extinctions of Life on earth.
Many times in the past our world nearly became as “empty and dark and devoid of form” as at Creation, when God reshaped the earth for the last time. The Uniformitarianism of Darwin and Lyell is no more than a naive belief in the Panglossian doctrine that “all things only happen for the better, in the best of all possible worlds”.
Fossils and extinctions are here to prove, just as do Geology and other sciences, that Catastrophism is a feature of Nature as much, and possibly even more, than Uniformitarian phenomena. Thousands of Apollo and Amor objects swarm across earth’s orbit, ready to strike us at a moment’s notice with a force of a million Megatons and over. The idea that God favors humans “above the beasts of the field” is just our own naive, self-centered notion of what God should look like. More likely, He regards all Life as sacred, as His own handiwork, if He exists at all. That is what Nature indisputably demonstrates in practice all the time.
Mars, with its dead residues of Life, with its oceans empty and dry, with its terrible dust storms sweeping across the endless void and devastation, is here to prove to all that God — or, as some will, Nature or Mother Earth — sometimes loses his/her temper and extinguishes Life altogether. This almost happened at the Flood, as the myths tell us. The victimizing of Atlantis — perhaps because they sinned, perhaps because they warred — almost took the rest of us along. Venus is another instance, in reverse, that planets can indeed die and become as sterile as the Moon. And perhaps, earth itself was just “reset back to zero” some four billion years ago, when the Moon was pulled out of it by a giant meteoritic impact of planetoidal size.
atlantis and the illusion of darwinian uniformitarianism
As we just said, Darwin’s Theory of Uniformitarian Evolution is just an illusion of die-hard scientists. What the world presents us daily is an endless series of ever larger cataclysms, ranging from atom smashing to the Big Bang. We recently watched a comet hitting Jupiter and opening a gash on that planet as big as the whole earth. Mars shows all signs of having been hit by a planetoidal sized body, which opened a huge crater on one side and pushed up Olympus Mons on the opposite one. Perhaps it was this cataclysm that extinguished Life on the Red Planet. Venus too presents vestiges of similar catastrophes. Perhaps we are only stranded here on earth, fated to become extinct when our allotted time expires who knows when?
Life is an illusion, as all things, as the Hindus teach us. According to them, even the gods eventually die, and are replaced by better, more evolved godly forms. An illusion is also the suprematist theory that affirms that Civilizations first arose in an Occidental Atlantis that never was, out of Europoid stock. But Civilization evolved at a time when the whole of Europe was almost fully covered by a mile thick glacier that rendered survival very meager and scant.
Plato’s Atlantis is, in contrast, described as a luxurious tropical Paradise, bedecked with metals, horses, elephants, coconut, pineapples, perfumes, aromatic woods and other features that were an exclusivity of India and Indonesia in the ancient world. Was the great philosopher dreaming, or was he indeed basing himself on Holy Books now lost in the bonfires of the Holy Inquisition ?
The Atlantic Atlantis is an illusion too, just as are the Cretan, the African, the American, the North European and the Black Sea ones. The true Atlantis, the archetype of all other Atlantises is Indonesia, or rather, the extensive sunken continent rimmed by this island arc. It is there that we had Plato’s “innavigable seas”, the same one mentioned by navigators. such as Pytheas, Himilco, Hanno and others. It was this primordial Atlantis that served as a model for the second Atlantis — the one of the Indus Valley — as well as for the myriad other similar Paradises that we encounter in all ancient religious traditions and mythologies.
the krakatoa volcano and the “innavigable seas” of atlantis
Another central, unique feature of Atlantis were its seas, rendered “innavigable” as the result of the cataclysm, as reported by Plato and other ancient authorities. As we mentioned further above, the seas of Atlantis were innavigable because they were covered thick with giant banks of floating, fiery pumice-stone. This pumice was ejected by the giant explosion of volcanic Mt. Atlas, the one which caused the foundering of the Lost Continent..
A similar phenomenon indeed happened — in a far lesser scale, but one big enough to be one of the world’s largest catastrophes — at the explosion of the Krakatoa volcano that we mentioned further above. The formation of pumice — a sort of stony “froth” made of siliceous glass — is characteristic of the Indonesian volcanoes, and is indeed the cause of their explosive eruptions of incomparable force. The phenomenon is quite similar to the “popping” of popcorn. The water-soaked siliceous magma of the submarine volcano (the primeval Krakatoa) built up tremendous pressures under the weight of the crust and the overlying sea water. Eventually, the topping crust which formed the volcanic peak gave, and the eruption occurred, explosively.
Thus released, the overheated water dissolved in the hot magma turned instantly into vapor, literally bursting like popcorn, except that in a worldwide scale. The sea was impelled, in a huge tsunami that was the event mythified as “the Flood from below”. Simultaneously, the ashes and debris were thrown up into the stratosphere, as “soot”. This fly ash eventually fell back to the earth and the sea, choking all life in the region, and causing the enormous quantities of rain, “the Flood from above”. Further away, it settled over the Ice Age glaciers, causing their melting and triggering the end of the Pleistocene, precisely as related above.
Interestingly enough, the Hindus associate this sort of stuff — this vitreous “seafroth” — with Krishna and Balarama, the archetypes of Hercules and Atlas. Balarama is the alias of the Serpent Shesha, whose name means (in Sanskrit) “residue” and, more exactly, the kind of foam such as ambergris or pumice stone thrown over the beaches by the seas. The whole story is a clever allegory of the explosion of Mt. Atlas, the World’s Pillar, ejecting the huge amounts of pumice stone and fly ash that covered the soil and the seas of Atlantis, and choking out all its paradisial forms of life.
The Titans — and Atlas in particular — were likened to Serpents (or Dragons), and to “weak-legged”, anguipedal, Civilizing Heroes such as Erychthonios, Cadmus, Hercules, Quetzalcoatl, Kukulkan, etc.. All such indeed derive from the Nagas (“Serpent-people”, “Dragons”) of India and Indonesia, as we argue elsewhere.
the illusory, chimerical atlantises
As we said above, the Cretan “Atlantis” of certain authorities is an illusion, as are all others outside the two Indies. Nevertheless, the explosion of the Thera volcano closely parallels the one of the Krakatoa of 1883, as some have noted. But it is far too small and far too wrongly sited in relation to the Pillars of Hercules for to be the right time and the right place.
Moreover, Crete lacked the size and the importance that Plato attributes to Atlantis, being puny in comparison to, say, the contemporary civilizations of Egypt, Babylon and Mycenian Greece. And the Theran cataclysm never sunk Crete underseas, or even hampered its existence in any notable way. In fact, the name of Crete (Kriti) means “swept”, rather than “sunken one”, as does the name of Atlantis in the holy tongues of India. So, Crete was recognizedly “swept” by the Theran cataclysm, but not indeed “sunken” by it, as Atlantis was.
The prehistoric explosion of the Krakatoa volcano that sundered open the Strait of Sunda was, by comparison a million times stronger. If the Theran explosion could sweep away the considerable extent of Minoan Crete, we are led to conclude that the one of the Indonesian volcano could well have wiped out an entire continental-sized civilization, and have triggered the chain of events that culminated in the end of the Pleistocene Ice Age.
Equally illusory are the Atlantises of the Bosporus (Moreau de Jonnés), of Spain (R. Hennig), of Libya (Borchardt), of Benin, in Africa (Leo Frobenius) and the even less likely one of the North Sea (Olaus Rudbeck), the Americas (several authors) and Antactica (idem). Even more impossible are the Atlantises located in sunken islands of continents of the Atlantic Ocean and, particularly, the Sargasso Sea, for they are not even geophysical possibilities.
the mid-atlantic ridge and donnelly’s atlantis
There are no sunken continents at the bottom of the Atlantic Ocean, as an extensive study of this region has unequivocally shown. What this detailed research disclosed is the existence of the Mid-Atlantic Ridge, a vast submarine cordillera that divides the Atlantic Ocean at the middle. This feature corresponds to the rift from whence the Tectonic Plates issue, causing the continents to drift away from the spot, at the rate of a few centimeter per year.
Hence, despite the brilliant plea of Ignatius Donnelly, this ridge corresponds not to a sunken continent, but to land that is slowly rising out of the sea bottom. Such rifts and ridges in fact exist in all oceans. They rise above sea level in certain spots forming island arcs, as in Indonesia and at the Indus Valley. Where they do, they cause the kind of terrible volcanoes and earthquakes that we have been discussing above. It is no coincidence that the two Atlantises we mentioned are located precisely at such spots where the Mid-Oceanic Ridges rise above the surface of the sea.
When we inspect the map of Fig. 1, we also note that a sizable chunk of India disappeared at the end of the Ice Age at the Indus Delta. This region is now known as the Rann of Kutch (“Marshes of Death”) and is in fact still sinking underseas, even today. This region is deemed a sort of Hell, and has been clearly flooded by some sort of terrible cataclysm that also took place at the end of the Pleistocene, just as did the one of Lemurian Atlantis.
lemurian atlantis and the four rivers of paradise
At this occasion, that of the demise of Atlantis, the Himalayan glaciers melted in the greater part, pouring its waters down the Indus Valley, in floods that were hundreds of times larger than the ones of today, even when the monsoon storms castigate the region. Such is clearly the record left by the tempest that swept away the second Atlantis (Hesperus), throwing it into the sea during the second of the Biblical Floods.
The same thing also happened at the other side of the Himalayas, whence issue the rivers that irrigate South Asia, China and Southeast Asia, such as the Huang-ho, the Yangtzé, the Mekong, the Irrawaddy, the Brahmaputra, the Ganges. These are indeed the Four Rivers of Eden (Lemurian Atlantis), as we argue in detail elsewhere. There can be very little doubt that the Lemurian Atlantis — as well as its successor, the Indian Atlantis — are sacred traditions based on real facts which were in no way exaggerated by our ancestors.
the civilizing heroes and heroines are atlantean escapees
The cataclysms in question caused the mass migrations of nations which later were to form civilizations of the past such as those of the Egyptians, the Greeks, the Cretans and the Mesopotamians. These also included the Jews, the Phoenicians, and the Aryans, driven away from their ancestral lands in Indonesia and Southeast Asia. At first they settled in India, but were driven out by the locals, moving to the places just mentioned.
Such mass migrations are told in the Bible and in similar Holy Books of all nations, in legends such as those of Moses and the Israelites, Aeneas and the Romans, Hercules and his Greek “cattle” (armies), of Cain’s expulsion from Eden, of Quetzalcoatl’s arrival in Mexico, of that of Viracocha and the Incas in Peru, of the Fomorians and the Tuatha de Danaan arriving in Britain, and so on.
These legends disguise real facts under the veil of allegories, and personify or deify the nations in question under the figures of heroes such as Noah, Manu, Hercules, Kukulkan, Abraham, Quetzalcoatl, and a myriad others, or in heroines like Venus, Demeter, Dana, Danu, Vesta, Hathor, Isis, Hecate and so on. Lemuria was indeed the Great Black Mother of Gods and Men. She is the same goddess that we know by names such as Kali, Parvati, Demeter, Hera, Isis, Ishtar, Venus, Cybele and even the Virgin Mary.
The paradoxical virginity of the Great Mother refers to the fact that she bore the Lemurian civilization on her own, in an autochthonous manner, without the help of an “inseminator” civilization. In contrast, all other civilizations evolved by being seeded from outside by the Civilizing Heroes, the Angels, the Gods, the Devils, etc.. These were the Lemurian Sons of God that, though , illuminated the world with the Light of our Great Mother.
The second Atlantis, India, is our Great Father. The Father is the inseminating god known as Shiva in India, Jahveh in Israel, Zeus in Greece, Viracocha in Peru, Quetzalcoatl in Mexico, Bochica in Colombia, and so on. He is the god that is castrated and dies but who resurrects from among the dead, whole and virile as ever. The image is not without analogy with an immortal volcano such as the Krakatoa that explodes and vanishes from sight, but keeps shining underneath the ocean, until the time comes for it to rise and shine again, perhaps at God’s command.
the many aspects of god
As we just said, myths work at several levels, and a parallel such as the Atlantean one is just a facet of God’s myriad aspects. In other words, volcanoes are manifestations of God’s power, the weapon he often chooses to castigate the nations and to force Evolution to follow its course. The Hindus call this force by the name of vajra, a Sanskrit word meaning both “hard as diamond”, as well as “thunderbolt”. The vajra is the thunderbolt weapon used by almighty gods such as Baal (Hercules’ archetype), Zeus, Indra, Haddad, and a myriad others. In fact, God is neither the vajra nor the volcano, but the force behind it, its impeller and wielder.
For the vajra is indeed the flail of the gods, the Celestial weapon He uses in order to quicken Evolution and to stir Nature into action, in the endless parade of life forms that characterizes Life. Perhaps all this has a purpose in the divine conscience, though I don’t really know for sure. But there is no doubt whatsoever in my mind that Catastrophism is God’s way, if He indeed has any. Moreover, it is also Nature’s way, let no one doubt it. The ancients well knew that, and so do I, having learnt from them. For instance, they often portrayed the vajra as a flail or a lash, or even a hammer or a mace wielded by the god in order to stir Nature into action.
Gods like Christ are not the only ones to die and to rise again from the dead. By the way, Christ too is the wielder of the “iron rod”, the hardest of metals being a metaphor for “diamond” and, hence, for the vajra. Christ was preceded by many aliases, and the conception of “dying-resurrecting” gods akin to the Sun of Justice dates from oldest antiquity. Among the many archetypes of Christ we can mention, offhand, Osiris, Attis, Tammuz, Adonis, Shiva, Kronos, Saturn, Dionysos, Serapis, Mithra and, of course, Krishna, in his infinite series of avatars, and Hercules, the great hero, in his fiery apotheosis that figured the Atlantean Conflagration.
1 Tektites are glass beads and concretions resulting from giant meteoritic (or cometary) falls or, perhaps, from gigantic volcanic explosions as well. These collisions scatter tektites far and wide, as in the above case. The ones in question are called Indochinites, in an allusion to the region where they abound the most. The Indochinites were dated at 700 kyears (one kiloyear = one thousand years). The explosion of Lake Toba took place 75 kyears ago. The even larger one of Lake Taupo took place at some 100 kyears ago or so.
These giant explosions — which all occurred in the region of Indonesia, volcanically the most active in the whole world — are easily large enough to trigger an Ice Age. However, whether one is indeed caused depends on other conditions, probably dictated by insolation and other variables, astronomical or not. As we just said, the region of Indonesia has literally hundreds of active or dormant volcanoes, and has been very little researched so far, due to its remoteness.
Further research of the Indonesian region will, now that its connection with the birthplace of Mankind is being pointed out, certainly confirm the reality of what we are claiming. Our research is based on very detailed local traditions and is the fruit of many years of study of the myth of Atlantis-Eden from a scientific though unbiased, point of view. We push no religious, scientific, philosophic or mercenary point, and our interest lies solely in establishing Truth. As the Romans used to say, Amicus Plato, magis amica Veritas.

the true history of atlantis

Posted by anonimus at Friday, October 29, 2010 1 comments Links to this post

Note: The cataclysms of fire and water of worldwide extent of which we speak in this essay are strictly scientific. They are widely attested in the geological record, being generally accepted by modern Geology. So are the massive extinctions of all sorts of species, and particularly of the large mammals which took place at the end of the Pleistocene Ice Age, some 11,600 years ago. Some 70% of the former species of great mammals which existed in the former era became extinct then, including, in all probability, two species of humans, the Neandertals and the Cro-Magnons, which became extinct more or less at this epoch.
Only the mechanism for the end of the Pleistocene Ice Age — which is a certain fact, but is so far unexplained by Science — is new and our own. We propose that this dramatic event was caused by a huge explosion of the Krakatoa volcano (or perhaps another one), which opened the Strait of Sunda, separating the islands of Java and Sumatra, in Indonesia.

kehidupan tragis di Ethiopia

Posted by anonimus at Friday, October 29, 2010 0 comments Links to this post



Begitulah bentuk kehidupan di ethiopia
kita disini masih bisa sibuk mencari-cari makanan yang lebih lezat
tak peduli berapapun harganya

tapi lihatlah kehidupan mereka di negrinya
begitu tragis dan membuat mata kita seakan tak sanggup melihatnya

ingatlah dan bersyukurlah
ini bukan tentang keberuntungan
melainkan tentang sisi lain dari kehidupan manusia
yang menjadi tolak ukur kehidupan kita
untuk menjadi manusia yang penuh rasa syukur
dapat menjalani kehidupan ini dengan sempurna

 


 
Kasus kelaparan, kurang gizi, kematian bayi, dan anak-anak kerap terjadi pada beberapa negara di Benua Afrika. Salah satu negara yang selama bertahun-tahun mengalami masalah seperti ini adalah Ethiopia. Negara yang terletak di wilayah Afrika Timur ini memiliki masalah kelaparan pada anak-anak yang berkelanjutan dari tahun ke tahun.


Ethiopia merupakan sebuah negara yang berbentuk Republik. Ibu kota negara ini adalah Addis Abeba. Negara ini memiliki luas wilayah sekitar 1.127.127 km2. Secara geografis, Ethiopia didominasi oleh bentang alam dataran tinggi (plato). Wilayah yang ada umumnya berupa gurun pasir yang membentang luas hingga ke Pantai Laut Merah. Selain itu, karena alam kebanyakan berupa gurun pasir, menyebabkan iklim yang ada menjadi iklim gurun yang keras. Kedua hal ini yang menyebabkan pertanian yang diusahakan di Ethiopia kurang maksimal dan selalu mengalami kegagalan untuk kebutuhan makanan bagi negaranya sendiri.


Jumlah penduduk Ethiopia adalah sekitar 59.690.383 (2003). Pada penduduk sendiri pun terjadi masalah yang kompleks. Sejak tahun 1970-an terus terjai perang saudara yang memperebutkan tahta kekuasaan di Ethiopia. Akibatnya, penduduk Ethiopia banyak yang menjadi korban termasuk anak-anak. Ribuan anak-anak menjadi yatim piatu. Selain itu, masalah kelaparan dan kurang gizi pun membayangi mereka karena kehidupan yang berpindah-pindah untuk menghindari perang menjadikan mereka sering tidak memperoleh makanan.
Kini, saat perang saudara masih terus berkecamuk, anak-anak di Ethiopia terus menjadi korban. Berbagai penyakit terus menyerang mereka seperti busung lapar, diare, dan lain-lain. Kematian pun tidak pernah lepas membayangi mereka...
 

makan di atas langit

Posted by anonimus at Friday, October 29, 2010 0 comments Links to this post
konsep makan diatas ketinggian lebih dari 25 meter ini dibuat oleh perusahaan yang berbasis di Belgia dan telah membuat 30 restaurant dengan konsep ini dilebih dari 30 negara. Tidak hanya makanan saja yang anda nikmati namun juga anda akan diiringi dengan musik live yang bermain disamping anda dan dengan 3 koki yang akan menyajikan makanan untuk anda. Anda akan berada diatas langit dengan diangkat oleh crane raksasa dan jangan khwatir dengan keamanan karena anda diharuskan menggunakan sabuk pengaman saat di Sky Dine ini. Dan anda pun dilarang untuk mebuang barang sembarangan kebawah ketika disini.


Dine In The Sky

























Jika Sholat dan Doa Naik Ke Langit

Posted by anonimus at Friday, October 29, 2010 0 comments Links to this post
Sesungguhnya rumah yang pertama dibangun untuk manusia beribadah adalah rumah yang di Bakkah (Makkah) yang diberkati dan menjadi petunjuk bagi manusia. (QS. Ali Imran: 96)



Mengayuh Sepeda dari Afrika Selatan Sampai Makkah Untuk Melaksanakan I

Posted by anonimus at Friday, October 29, 2010 0 comments Links to this post
Melewati Bostwana, Zimbabwe, Mozambique, Malawi, Tanzania, Kenya, Turki, Suriah, dan Yordania, Nathim Caircross (28 tahun) dan Imtiyaz Ahmad Haron (25 tahun) mengayuh sepeda ke Arab Saudi. Setiap hari mereka harus mengayuh sejauh 80-100 km, bermula dari Cape Town, Afrika Selatan.


nathim cairncross kanan dan imtiyaz ahmad haron

Wednesday, October 27, 2010

zaman purba lebih maju dari zaman modern

Posted by anonimus at Wednesday, October 27, 2010 0 comments Links to this post
Tahun 1900 ditemukan sebuah logam yang membatu yang berusia sekitar 2000 tahun disebuah kapal karam di pulau Antikythera Yunani, 50 tahun kemudian benda tersebut dilihat dengan sinar-X dan menemukan bahwa benda tersebut merupakan sebuah alat mekanik seperti mekanik pada jam tangan, penemuan ini membuat para ahli arkeologi kebingunan, karena pada saat itu bangsa yunani tidak akan mungkin membuat benda mekanik serumit itu.


Anticythère Mechanics



Anticythère Mechanics Setelah di X-ray



Perkiraannya alat ini digunakan sebagai kalender


Keberadaan mekanik pada jaman prasejarah juga bisa ditemui di kompleks kuil Dendera di Mesir. Pada ruang bawah kuil tersebut terdapat pahatan dinding dua buah benda yang menyerupai bola lampu pijar, hal ini kemudian dikaitkan dengan pertanyaan, bagaimana ruang bawah yang gelap dan panas itu mendapatkan cahaya?

beberapa teori mengatakan bahwa, ruang-ruang dalam kuil tersebut menggunakan cahaya matahari yang dipantulkan dari luar berulang kali oleh cermin-cermin didalam kuil, namun teori ini dapat terbantahkan, karena sinar yang dipantulkan semakin lama semakin lemah sehingga tak bisa menerangi semua ruangan.

Ada juga yang mengatakan menggunakan api / obor tapi tidak ada di satu ruangpun ditemukan bahan untuk membuat api, dan tidak akan cukup oksigen yang didapatkan untuk membuat obor. Jadi, satu-satunya cara untuk menerangi ruangan dalam kuil adalah dengan bola lampu.

Pertanyaannya sekarang, jika benar mereka menggunakan lampu, bagaimana mereka mendapatkan aliran listrik? Bahkan listriknya saja baru ditemukan ribuan tahun setelahnya.

Satu penemuan yang mungkin dapat mendukung keberadaan bola lampu jaman prasejarah adalah penemuan baterai bagdad yang telah di uji mampu menghasilkan listrik dengan menuangkan perasan jeruk kedalam gucinya.

Pahatan dinding dua buah benda yang menyerupai bola lampu pijar



Baterai Bagdad

 

Baterai Bagdad Diisi Perasan Jeruk


Di kompleks kuil Teotihuacan para ahli yang mempercayai ada campur tangan alien dijaman purba menemukan penataan kompleks yang mirip dengan tata letak sama dengan posisi solar system kita, tapi bagaimana mungkin designer kompleks kuil Teotihuacan mengetahui lebih dahulu system peredaran planet-planet mengitari matahari?

Bukankah hal itu memerlukan penelitian ilmiah berkelanjutan selama berabad-abad? ada yang bilang bahwaposisi kuil ini adalah sebuah kebetulan belaka, tapi jika kita melihat peninggalan sejarah ditempat lain yang bahkan lebih tua dari Teotihuacan seperti Stonehenge yang mana bila dilihat dari angkasa, lingkaran-lingkaran susunan batunya sangat menyerupai solar system kita.

Kompleks Kuil Teotihuacan



Kompleks Kuil Teotihuacan Solar System
 



Stonehenge
 



Stonehenge Solar System
 


Stonehenge Dilihat Dari Udara




Pada tahun 1929 diketemukan pula sebuah peta lukisan bertanda tangan seorang Kapten bernama Piri Reis tercantum juga tahun 1513 yang juga berarti 21 tahun setelah Colombus menemukan benua Amerika.

Yang menakjubkan adalah bahwa peta itu sangat akurat menggambarkan garis benua atau garis pulau bahkan dilengkapi dengan gambar sungai dan gunung. Bagaimana sang creator membuatnya? Pengetahuan geografi saja mulai  berkembang ratusan tahun setelahnya.

Piri Reis Map



Piri reis Map dibanding peta modern


Bukti yang paling mendukung teori adanya campur tangan alien / teknologi modern dimasa prasejarah adalah adanya kompleks peninggalan Pumapunku di dataran tinggi Bolivia, disana logika kita tidak akan bisa menerka.

Di Pumapunku ada reruntuhan struktur megalitikum yang telah dihancurkan oleh gempa bumi yang sangat dahsyat. Blok-blok yang runtuh di Pumapunku sangat menakjubkan, yang mana bentuk dari blok-blok yang berserakan mempunyai potongan / bentuk yang sempurna dan memiliki ukuran yang sama dan bahkan lebih menyerupai puzzle-puzzle.

Belum ada yang tahu pasti bagaimana suku Indian Aymara mengangkut batu-batu (800 ton/pcs) kesana, padahal dataran itu berada pada 4.000 meter diatas permukaan laut.

Pumapunku



Pumapunku Blok

Kita semua tahu, bahwa untuk mendirikan sebuah bangunan seperti Pumapunku memerlukan penulisan, perencanaan, dan ide bagaimana tiap-tiap bagian pecahan memilki fungsi masing-masing dan bagaimana cara menyatukannya, tapi para ahli telah sepakat bahwa Indian Aymara tidak pernah mengenal tulisan. Bagaimana mungkin mengerjakan puzzle Pumapunku tanpa perencanaan?

Pumapunku Blok Rekonstruksi Puzzle


Dari segi kualitas, pengerjaan batu di Pumapunku sangatlah sempurna, seperti dikerjakan oleh mesin, untuk memotong dengan ukuran tertentu, membuat lubang, bahkan membuat cekungan panjang dengan ukuran sangat kecil (millimeter), dan tiap-tiap batu mempunyai bentuk dan ukuran yang sama persis.

Padahal material-material batu yang digunakan adalah batu diorite dan granit, batu diorite adalah salah satu batu yang paling keras yang hanya bisa dikalahkan oleh berlian, para arkeolog memperkirakan alat yang digunakan oleh suku Aymara mungkin memiliki mata berlian atau berbahan berlian, namun tak seorangpun arkeolog yang mampu memperkirakan atau mencoba merekonstruksi bagaimana Indian Aymara membuat blok-blok batu tersebut.

Lubang Pada Blok Pumapunku



Pumapunku Millimeter Detail



Pumapunku Ukiran








Sumber :
www.kaskus.us

Friday, October 29, 2010

perkebunan ganja skala home industry


perkebunan ganja skala "HOME INDUSTRY" yang ada di salah satu negara bagian AMERIKA SERIKAT
Bagian depan rumah yang tampak biasa saja. Tidak terlihat mencurigakan.
Spoiler for perkebunan ganja:

Piranha Raksasa Pemakan Buaya





Selama ini kita mengenal Piranha adalah jenis ikan kecil pemakan daging yang berhabitat di sepanjang Sungai Amazone. Kita tak pernah tahu di Sungai Kongo ada satu jenis ikan mirip Piranha yang mampu menyantap seekor buaya.

air kencing bisa mengobati jerawat


ada kegunaan lain dari cairan tubuh ini, yaitu dapat mengobati jerawat

meskipun tidak semua orang mengakuinya, namun beberapa telah mencoba bentuk pengobatan jerawat ini di beberapa waktu dalam kehidupan mereka. 

Jadi, bagaimana mungkin urin membantu mencegah jerawat dan jerawat?

Bola Api Luar Biasa Muncul dari Komet Hartley 2






INILAH.COM, Jakarta- Astronom berhasil merekam dua bola api luar biasa yang berasal dari komet terdekat dalam kurun 24 tahun terakhir. Bola api itu menimbulkan spekulasi hujan meteor.

ATM yang Mendidik di jepang


Untuk melakukan Withdraw (Tarik Tunai) di ATM inipara Nasabah diharuskan menyelesaikan Soal-Soal Matematika dahulu, baru setelah itu mereka bisa melakukan transaksi...

sundaland itu atlantis?


benua Sunda Land”Peradaban Atlantis yang hilang” hingga kini barangkali hanyalah sebuah mitos mengingat belum ditemukannya bukti-bukti yang kuat tentang keberadaannya. Mitos itu  pertama kali dicetuskan oleh seorang akhli filsafat terkenal dari Yunani, Plato (427 – 347 SM), dalam bukunya ”Critias dan Timaeus”. Disebutkan oleh Plato  bahwa terdapat awal peradaban yang disebut Benua Atlantis; para penduduknya dianggap sebagai dewa, makhluk luar angkasa, atau bangsa superior; benua itu kemudian hilang,  tenggelam secara perlahan-lahan karena serangkaian bencana, termasuk gempa bumi. 


Selama lebih dari 2000 tahun, Atlantis yang hilang telah menjadi dongeng.  Tetapi sejak abad pertengahan, kisah Atlantis menjadi populer di dunia Barat. Banyak ilmuwan Barat secara diam-diam meyakini kemungkinan keberadaannya.  Di antara para ilmuwan itu banyak  yang menganggap bahwa Atlantis terletak di Samudra Atlantis, bahkan ada yang menganggap Atlantis terletak di Benua Amerika sampai Timur Tengah. Penelitian pun dilakukan di wilayah-wilayah tersebut. Akan tetapi,  kebanyakan peneliti itu  tidak memberikan bukti atau telaah yang cukup. Sebagian besar dari mereka hanya mengira-ngira. .


Hanya beberapa tempat di bumi yang keadaannya memiliki persayaratan untuk dapat diduga sebagai Atlantis sebagaimana dilukiskan oleh Plato lebih dari 20 abad yang lalu. Akan tetapi Samudera Atlantik tidak termasuk wilayah yang memenuhi persyaratan itu. Para peneliti masa kini malahan menunjuk Sundaland (Indonesia bagian barat hingga ke semenanjung Malaysia dan Thailand) sebagai Benua Atlantis yang hilang dan merupakan awal peradaban manusia
.
Fenomen Atlantis dan awal peradaban selalu merupakan impian para peneliti di dunia untuk membuktikan dan menjadikannya penemuan ilmiah sepanjang masa. Apakah pandangan geologi memberi petunjuk yang kuat terhadap kemungkinan ditemukannya Atlantis yang hilang itu? Apabila jawabannya negatif, apakah peluang yang dapat ditangkap dari perdebatan ada tidaknya Atlantis dan kemungkinan lokasinya di wilayah Indonesia?.


PENDAHULUAN
”Mitos” atau cerita tentang benua Atlantis yang hilang pertama kali dicetuskan oleh seorang filosof terkenal dari Yunani  bernama Plato (427 – 347 SM) dalam bukunya berujudl Critias and Timaeus. Penduduknya dianggap dewa, makhluk luar angkasa atau bangsa superior. Plato berpendapat bahwa peradaban dari para peghuni benua Atlantis yang hilang itulah sebagai sumber peradaban manusia saat ini.
Hampir semua tulisan tentang sejarah peradaban menempatkan Asia Tenggara sebagai kawasan ‘pinggiran’. Kawasan yang kebudayaannya dapat subur berkembang hanya karena imbas migrasi manusia atau riak-riak difusi budaya dari pusat-pusat peradaban lain, baik yang berpusat di Mesir, Cina, maupun India. Pemahaman tersebut mengacu pada teori yang dianut saat ini yang  mengemukakan bahwa pada Jaman Es paling akhir yang dialami bumi terjadi sekitar 10.000 sampai 8.000 tahun yang lalu mempengaruhi migrasi spesies manusia.
Jaman Es terakhir ini dikenal dengan nama periode Younger Dryas. Pada saat ini, manusia telah menyebar ke berbagai penjuru bumi berkat ditemukannya cara membuat api 12.000 tahun yang lalu. Dalam kurun empat ribu tahun itu, manusia telah bergerak dari kampung halamannya di padang rumput Afrika Timur ke utara, menyusuri padang rumput purba yang kini dikenal sebagai Afrasia.
Padang rumput purba ini membentang dari pegunungan Kenya di selatan, menyusuri Arabia, dan berakhir di pegunungan Ural di utara. Jaman Es tidak mempengaruhi mereka karena kebekuan itu hanya terjadi di bagian paling utara bumi sehingga iklim di daerah tropik-subtropik justru menjadi sangat nyaman. Adanya api membuat banyak masyarakat manusia betah berada di padang rumput Afrasia ini.
Maka, ketika para ilmuwan barat berspekulasi tentang keberadaan benua Atlantis yang hilang, mereka mengasumsikan bahwa lokasinya terdapat di belahan bumi Barat, di sekitar laut Atlantik, atau paling jauh di sekitar Timur Tengah sekarang. Penelitian untuk menemukan sisa Atlantis pun banyak dilakukan di kawasan-kawasan tersebut. Namun di akhir dasawarsa 1990, kontroversi tentang letak Atlantis yang hilang muluai muncul berkaitan dengan pendapat dua orang peneliti, yaitu: Oppenheimer (1999) dan Santos (2005).
KONTROVERSI DAN REKONTRUKSI OPPENHEIMER
Kontroversi tentang sumber peradaban dunia muncul sejak diterbitkannya buku Eden The East (1999) oleh  Oppenheimer, Dokter ahli genetik yang banyak mempelajari sejarah peradaban. Ia berpendapat bahwa Paparan Sunda (Sundaland) adalah merupakan  cikal bakal peradaban kuno atau dalam bahasa agama sebagai Taman Eden. Istilah ini diserap dari kata dalam bahasa Ibrani Gan Eden. Dalam bahasa Indonesia disebut Firdaus yang diserap dari kata Persia “Pairidaeza” yang arti sebenarnya adalah Taman.
Menurut Oppenheimer,  munculnya peradaban di Mesopotamia, Lembah Sungai Indus, dan Cina justru dipicu oleh kedatangan para migran dari Asia Tenggara. Landasan argumennya adalah etnografi, arkeologi, osenografi, mitologi, analisa DNA, dan linguistik. Ia mengemukakan bahwa di wilayah Sundaland sudah ada peradaban yang menjadi leluhur peradaban Timur Tengah 6.000 tahun silam. Suatu ketika datang banjir besar yang menyebabkan penduduk Sundaland berimigrasi ke barat yaitu ke Asia, Jepang, serta Pasifik. Mereka adalah leluhur Austronesia.
Gambar 1. Buku Eden The East
(Oppenheimer, 1999)
Rekonstruksi Oppenheimer diawali dari saat berakhirnya puncak Jaman Es (Last Glacial Maximum) sekitar 20.000 tahun yang lalu. Ketika itu, muka air laut masih sekitar 150 m di bawah muka air laut sekarang. Kepulauan Indonesia bagian barat masih bergabung dengan benua Asia menjadi dataran luas yang dikenal sebagai Sundaland. Namun, ketika bumi memanas, timbunan es yang ada di kutub meleleh dan mengakibatkan banjir besar yang melanda dataran rendah di berbagai penjuru dunia.
Data geologi dan oseanografi mencatat setidaknya ada tiga banjir besar yang terjadi yaitu pada sekitar 14.000, 11.000, dan 8,000 tahun yang lalu. Banjir besar yang terakhir bahkan menaikkan muka air laut hingga 5-10 meter lebih tinggi dari yang sekarang. Wilayah yang paling parah dilanda banjir adalah Paparan Sunda dan pantai Cina Selatan. Sundaland malah menjadi pulau-pulau yang terpisah, antara lain Kalimantan, Jawa, Bali, dan Sumatera. Padahal, waktu itu kawasan ini sudah cukup padat dihuni manusia prasejarah yang berpenghidupan sebagai petani dan nelayan.
Bagi Oppenheimer, kisah ‘Banjir Nuh’ atau ‘Benua Atlantis yang hilang’ tidak lain adalah rekaman budaya yang mengabadikan fenomena alam dahsyat ini. Di kawasan Asia Tenggara, kisah atau legenda seperti ini juga masih tersebar luas di antara masyarakat tradisional, namun belum ada yang meneliti keterkaitan legenda dengan  fenomena Taman Eden.
BENUA ATLANTIS MENURUT ARYSO SANTOS
Kontroversi dari Oppenheimer seolah dikuatkan oleh pendapat Aryso Santos. Profesor asal Brazil ini menegaskan bahwa Atlantis yang hilang sebagaimana cerita Plato itu adalah wilayah yang sekarang disebut Indonesia. Pendapat itu muncul setelah ia melakukan penelitian selama 30 tahun yang menghasilkan buku Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato’s Lost Civilization (2005). Santos dalam bukunya tersebut menampilkan 33 perbandingan, seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Sundaland (Indonesia bagian Barat).
Santos menetapkan bahwa pada masa lalu Atlantis merupakan benua yang membentang dari bagian selatan India, Sri Langka, dan Indonesia bagian Barat meliputi Sumatra, Kalimantan, Jawa dan terus ke arah timur. Wilayah Indonesia bagian barat sekarang sebagai pusatnya. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.
Argumen Santos tersebut didukung banyak arkeolog Amerika Serikat bahkan mereka meyakini bahwa benua Atlantis adalah sebuah pulau besar bernama Sundaland, suatu wilayah yang kini ditempati Sumatra, Jawa dan Kalimantan. Sekitar 11.600 tahun silam, benua itu tenggelam diterjang banjir besar seiring berakhirnya zaman es.
Gambar 2. Wilayah Sundaland (Indonesia bagian Barat dalam buku Santos (2005)
Menurut Plato, Atlantis merupakan benua yang hilang akibat letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus dan mencairnya Lapisan Es yang pada masa itu sebagian besar benua masih diliputi oleh Lapisan-lapisan Es. Maka tenggelamlah sebagian benua tersebut.
Santos berpendapat bahwa meletus-nya berpuluh-puluh gunung berapi secara bersamaan tergambarkan pada wilayah Indonesia (dulu). Letusan gunung api yang dimaksud di antaranya letusan gunung Meru di India Selatan, letusan gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba, dan letusan gunung Semeru/Mahameru di Jawa Timur. Letusan yang paling dahsyat di kemudian hari adalah letusan Gunung Tambora di Sumbawa yang memecah bagian-bagian pulau di Nusa Tenggara dan Gunung Krakatau (Krakatoa) yang memecah bagian Sumatera dan Jawa membentuk Selat Sunda (Catatan : tulisan Santos ini perlu diklarifikasi dan untuk sementara dikutip di sini sebagai apa yang diketahui Santos).
Berbeda dengan Plato, Santos tidak setuju mengenai lokasi Atlantis yang dianggap terletak di lautan Atlantik. Ilmuwan Brazil itu berargumentasi, bahwa letusan berbagai gunung berapi menyebabkan lapisan es mencair dan mengalir ke samudera sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut membebani samudera dan dasarnya sehingga mengakibatkan tekanan luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantai benua. Tekanan ini mengakibatkan gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh gunung-gunung yang meletus kemudian secara beruntun dan menimbulkan gelombang tsunami yang dahsyat. Santos menamakannya Heinrich Events. Catatan : pernyataan Santos ini disajikan seperti apa adanya dan tidak merupakan pendapat penulis.
Namun, ada beberapa keadaan masa kini yang antara Plato dan Santos sependapat yakni pertama, bahwa lokasi benua yang tenggelam itu adalah Atlantis dan oleh Santos dipastikan sebagai wilayah Republik Indonesia. Kedua, jumlah atau panjangnya mata rantai gunung berapi di Indonesia, diantaranya ialah: Kerinci, Talang, Krakatoa, Malabar, Galunggung, Pangrango, Merapi, Merbabu, Semeru, Bromo, Agung, Rinjani. Sebagian dari gunung itu telah atau sedang aktif kembali.
Dalam usaha mengemukakan pendapat, tampak Plato telah melakukan dua kekhilafan, pertama mengenai bentuk/posisi bumi yang katanya datar. Kedua, mengenai letak benua Atlantis yang katanya berada di Samudera Atlantik yang ditentang oleh Santos. Penelitian oleh para akhli Amerika Serikat di wilayah Atlantik terbukti tidak berhasil menemukan bekas-bekas benua yang hilang itu. Oleh karena itu tidaklah semena-mena ada peribahasa yang berkata, “Amicus Plato, sed magis amica veritas.” Artinya,”Saya senang kepada Plato tetapi saya lebih senang kepada kebenaran.”
Atlantis memang misterius, dan karenanya menjadi salah satu tujuan utama arkeologi di dunia. Jika Atlantis ditemukan, maka penemuan tersebut bisa jadi akan menjadi salah satu penemuan terbesar sepanjang masa.
PANDANGAN GEOLOGI
Pendekatan ilmu geologi untuk mengungkap fenomena hilangnya Benua Atlantis dan awal peradaban kuno, dapat ditinjau dari dua sudut pandang yaitu pendekatan tektonik lempeng dan kejadian zaman es.
Wilayah Indonesia dihasilkan oleh evolusi dan pemusatan lempeng kontinental Eurasia, lempeng lautan Pasifik, dan lempeng Australia Lautan Hindia (Hamilton, 1979). umumnya disepakati bahwa pengaturan fisiografi kepulauan Indonesia dikuasai oleh daerah paparan kontinen, letak daerah Sundaland di barat, daerah paparan Sahul atau Arafura di timur. Intervensi area meliputi suatu daerah kompleks secara geologi dari busur kepulauan, dan cekungan laut dalam (van Bemmelen, 1949).
Kedua area paparan memberikan beberapa persamaan dari inti-inti kontinen yang stabil ke separuh barat dan timur kepulauan. Area paparan Sunda menunjukkan perkembangan bagian tenggara di bawah permukaan air dari lempeng kontinen Eurasia dan terdiri dari Semenanjung Malaya, hampir seluruh Sumatra, Jawa dan Kalimantan, Laut Jawa dan bagian selatan Laut China Selatan.
Tatanan tektonik Indonesia bagian Barat merupakan bagian dari sistim kepulauan vulkanik akibat interaksi penyusupan Lempeng Hindia- Australia di Selatan Indonesia. Interaksi lempeng yang berupa jalur tumbukan (subduction zone) tersebut memanjang mulai dari kepulauan Tanimbar sebelah barat Sumatera, Jawa sampai ke kepulauan Nusa Tenggara di sebelah Timur. Hasilnya adalah terbentuknya busur gunung api (magmatic arc).
Gambar 3. Rekonstruksi Tektonik Lempeng di Wilayah Asia Tenggara (Hall, 2002). Garis merah adalah batas wilayah yang dikenal sebagai Sundaland
Rekontruksi tektonik lempeng tersebut akhirnya dapat menerangkan pelbagai gejala geologi dan memahami pendapat Santos, yang menyakini  Wilayah Indonesia memiliki korelasi dengan anggapan Plato yang menyatakan bahwa tembok Atlantis terbungkus emas, perak, perunggu, timah dan tembaga, seperti terdapatnya mineral berharga tersebut pada jalur magmatik di Indonesia. Hingga saat ini, hanya beberapa tempat di dunia yang merupakan produsen timah utama. Salah satunya disebut Kepulauan Timah dan Logam, bernama Tashish, Tartessos dan nama lain yang menurut Santos (2005) tidak lain adalah Indonesia. Jika Plato benar, maka Atlantis sesungguhnya adalah Indonesia.
Selain menunjukan kekayaan sumberdaya mineral, fenomena tektonik lempeng tersebut menyebabkan munculnya titik-titik pusat gempa, barisan gunung api aktif (bagian dari Ring of Fire dunia),  dan banyaknya komplek patahan (sesar) besar, tersebar di Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara dan Indonesia bagian timur. Pemunculan gunungapi aktif, titik-titik gempa bumi dan kompleks patahan yang begitu besar, seperti sesar Semangko (Great Semangko Fault membujur dari Aceh sampai teluk Semangko di Lampung) memperlihatkan tingkat kerawanan yang begitu besar. Menurut Kertapati (2006), karakteristik gempabumi di daerah Busur Sunda pada umumnya diikuti tsunami.
Para peneliti masa kini  terutama  Santos (2005) dan sebagian peneliti Amerika Serikat memiliki kenyakinan bahwa gejala kerawanan bencana geologi wilayah Indonesia adalah sesuai dengan anggapan Plato yang menyatakan bahwa Benua Atlantis telah hilang akibat letusan gunung berapi yang bersamaan.
Pendekatan lain akan keberadaan Benua Atlantis dan awal peradaban manusia (hancurnya Taman Eden) adalah kejadian Zaman Es. Pada zaman Es suhu atau iklim bumi turun dahsyat dan menyebabkan peningkatan  pembentukan es di kutub dan gletser gunung. Secara geologis, Zaman Es sering digunakan untuk merujuk kepada waktu lapisan Es di belahan bumi utara dan selatan; dengan definisi ini kita masih dalam Zaman Es. Secara awam untuk waktu 4 juta tahun ke belakang, definisi Zaman Es digunakan untuk merujuk kepada waktu yang lebih dingin dengan tutupan Es yang luas di seluruh benua Amerika Utara dan Eropa.
Penyebab terjadinya Zaman Es antara lain adalah terjadinya proses pendinginan aerosol yang sering menimpa planet bumi. Dampak ikutan dari peristiwa Zaman Es adalah penurunan muka laut. Letusan gunung api dapat menerangkan berakhirnya Zaman Es pada skala kecil dan  teori kepunahan Dinosaurus dapat menerangkan akhir Zaman Es pada skala besar.
Gambar 4. Penyebaran es di belahan bumi utara pada masa Pleistosen (USGS, 2005)
Dari sudut pandang di atas, Zaman Es terakhir dimulai sekitar 20.000 tahun yang lalu dan berakhir kira-kira 10.000 tahun lalu atau pada awal kala Holocene (akhir Pleistocene). Proses pelelehan Es di zaman ini berlangsung relatif lama dan beberapa ahli membuktikan proses ini berakhir sekitar 6.000 tahun yang lalu.
Pada Zaman Es, pemukaan air laut jauh lebih rendah daripada sekarang, karena banyak air yang tersedot karena membeku di daerah kutub. Kala itu Laut China Selatan kering, sehingga kepulauan Nusantara barat tergabung dengan daratan Asia Tenggara. Sementara itu pulau Papua juga tergabung dengan benua Australia.
Ketika terjadi peristiwa pelelehan Es tersebut maka terjadi penenggelaman daratan yang luas. Oleh karena itu gelombang migrasi manusia dari/ke Nusantara mulai terjadi. Walaupun belum ditemukan situs pemukiman purba, sejumlah titik diperkirakan sempat menjadi tempat tinggal manusia purba Indonesia sebelum mulai menyeberang selat sempit menuju lokasi berikutnya (Hantoro, 2001).
Tempat-tempat itu dapat dianggap sebagai awal pemukiman pantai di Indonesia. Seiring naiknya paras muka laut, yang mencapai puncaknya pada zaman Holosen ± 6.000 tahun dengan kondisi muka laut  ± 3 m lebih tinggi dari muka laut sekarang, lokasi-lokasi tersebut juga bergeser ke tempat yang lebih tinggi masuk ke hulu sungai.
Berkembangnya budaya manusia, pola berpindah, berburu dan meramu (hasil) hutan lambat laun berubah menjadi penetap, beternak dan berladang serta menyimpan dan bertukar hasil dengan kelompok lain. Kemampuan berlayar dan menguasai navigasi samudera yang sudah lebih baik, memungkinkan beberapa suku bangsa Indonesia mampu menyeberangi Samudra Hindia ke Afrika dengan memanfaatkan pengetahuan cuaca dan astronomi. Dengan kondisi tersebut tidak berlebihan Oppenheimer beranggapan bahwa  Taman Eden berada di wilayah Sundaland.
Taman Eden hancur akibat air bah yang memporak-porandakan dan mengubur sebagian besar hutan-hutan maupun taman-taman sebelumnya. Bahkan sebagian besar dari permukaan bumi ini telah tenggelam dan berada dibawah permukaan laut, Jadi pendapat Oppenheimer memiliki kemiripan dengan akhir Zaman Es yang menenggelamkan sebagian daratan Sundaland.

MENANGKAP PELUANG
Pendapat Oppenheimer (1999) dan Santos (2005) bagi sebagian para peneliti adalah kontroversial dan mengada-ada. Tentu  kritik ini adalah hal yang wajar dalam pengembangan ilmu untuk mendapatkan kebenaran. Beberapa tahun ke belakang pendapat yang paling banyak diterima adalah seperti yang dikemukakan oleh Kircher (1669) bahwa Atlantis itu berada di tengah-tengah Samudera Atlantik sendiri, dan tempat yang paling meyakinkan adalah Pulau Thera di Laut Aegea, sebelah timur Laut Tengah.
Pulau Thera yang dikenal pula sebagai Santorini adalah pulau gunung api yang terletak di sebelah utara Pulau Kreta. Sekira 1.500 SM, sebuah letusan gunung api yang dahsyat mengubur dan menenggelamkan kebudayaan Minoan. Hasil galian arkeologis menunjukkan bahwa kebudayaan Minoan merupakan kebudayaan yang sangat maju di Eropa pada zaman itu, namun demikian sampai saat ini belum ada kesepakatan di mana lokasi Atlantis yang sebenarnya. Setiap teori memiliki pendukung masing-masing yang biasanya sangat fanatik dan bahkan bisa saja Atlantis hanya ada dalam pemikiran Plato.
Perlu diketahui pula bahwa kandidat lokasi Atlantis bukan hanya Indonesia, banyak kandidat lainnya antara lain : Andalusia, Pulau Kreta, Santorini, Tanjung Spartel, Siprus, Malta, Ponza, Sardinia, Troy, Tantali, Antartika, Kepulauan Azores, Karibia, Bolivia, Meksiko, Laut Hitam, Kepulauan Britania, India, Srilanka, Irlandia, Kuba, Finlandia, Laut Utara, Laut Azov, Estremadura dan hasil penelitian  terbaru oleh Kimura’s (2007) yaitu menemukan  beberapa monument batu dibawah perairan Yonaguni, Jepang yang diduga  sisa-sisa dari peradaban Atlantis atau Lemuria.

Gambar 5. Monument Batu yang berhasil ditemukan dibawah perairan Yonaguni, Jepang, (Spiegel Distribution TV, 2000)

PELUANG PENGEMBANGAN ILMU
Adalah fakta bahwa saat ini berkembang  pendapat yang menjadikan Indonesia sebagai wilayah yang dianggap ahli waris Atlantis yang hilang. Untuk itu kita harus bersyukur dan membuat kita tidak rendah diri di dalam pergaulan internasional, sebab Atlantis pada masanya adalah merupakan pusat peradaban dunia yang misterius. Bagi para arkeolog atau oceanografer moderen, Atlantis  merupakan obyek menarik terutama soal teka-teki di mana sebetulnya lokasi benua tersebut dan karenanya menjadi salah satu tujuan utama arkeologi dunia. Jika Atlantis ditemukan, maka penemuan tersebut bisa jadi akan menjadi salah satu penemuan terbesar sepanjang masa.
Perkembangan fenomena ini menyebabkan Indonesia menjadi lebih dikenal di dunia internasional khususnya di antara para peneliti di berbagai bidang yang terkait. Oleh karena itu Pemerintah Indonesia perlu menangkap peluang ini dalam rangka meningkatkan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Peluang ini penting dan jangan sampai diambil oleh pihak lain.
Kondisi ini mengingatkan pada  Sarmast (2003), seorang arsitek Amerika keturunan Persia yang mengklaim telah menemukan Atlantis dan menyebutkan bahwa Atlantis dan Taman Firdaus adalah sama. Sarmast menunjukkan bahwa Laut Mediteranian adalah lokasi Atlantis, tepatnya sebelah tenggara Cyprus dan terkubur sedalam 1500 meter di dalam air.  ‘Penemuan’ Sarmast, menjadikan kunjungan wisatawan ke Cyprus melonjak tajam. Para penyandang hibah dana penelitian Sarmast, seperti editor, produser film, agen media dll mendapat keuntungan besar. Mereka seolah berkeyakinan bahwa jika Sarmast benar, maka mereka akan terkenal; dan jika tidak, mereka telah mengantungi uang yang sangat besar dari para sponsor.
Santos (2005) dan  seorang arkeolog Cyprus sendiri yaitu Flurentzos dalam artikel berjudul : ”Statement on the alleged discovery of atlantis off Cyprus” (Santos, 2003) memang menolak penemuan Sarmast. Mereka sependapat dengan Plato dan menyatakan secara tegas bahwa Atlantis berada di luar Laut Mediterania. Pernyataan ini didukung oleh Morisseau (2003) seorang ahli geologis Perancis yang tinggal di pulau Cyprus. Ia menyatakan tidak berhubungan sama sekali dengan fakta geologis. Bahkan Morisseau menantang Sarmast untuk melakukan debat terbuka. Namun demikian, usaha Sarmast  untuk membuktikan bahwa Atlantis yang hilang itu terletak di Cyprus telah menjadikan kawasan Cyprus dan sekitarnya pada suatu waktu tertentu dibanjiri oleh wisatawan ilmiah dan mampu mendatangkan kapital cukup berasal dari para sponsor dan wisatawan ilmiah tersebut.
Gambar 6. Peta Atlantis menurut Kircher (1669). Pada peta tersebut, Atlantis terletak di tengah Samudra Atlantik.
Demikian juga dengan letak Taman Eden, sudah banyak yang melakukan penelitian mulai dari agamawan sampai para ahli sejarah maupun ahli geologi jaman sekarang. Ada yang menduga letak Taman Eden berada di Mesir, di Mongolia, di Turki, di India, di Irak dsb-nya, tetapi tidak ada yang bisa memastikannya.
Penelitian yang cukup konprehensif berkenaan dengan Taman Eden diantaranya dilakukan oleh Zarins (1983) dari Southwest Missouri State University di Springfield.  Ia telah mengadakan penelitian lebih dari 10 tahun untuk mengungkapkan rahasia di mana letaknya Taman Eden. Ia menyelidiki foto-foto dari satelit dan berdasarkan hasil penelitiannya ternyata Taman Eden itu telah tenggelam dan sekarang berada di bawah permukaan laut di teluk Persia.
Gambar 7.  Taman Eden menurut Zarins (1983)
Hingga saat ini, letak dari Atlantis dan Taman Eden masih menjadi sebuah kontroversi, namun berdasarkan bukti arkeologis dan beberapa teori yang dikemukakan oleh para peneliti, menunjukkan kemungkinan peradaban tersebut berlokasi di Samudera Pasifik (disekitar Indonesia sekarang). Ini menjadi tantangan para peneliti Indonesia untuk menggali lebih jauh, walaupun banyak juga yang skeptis, beranggapan bahwa Atlantis dan Taman Eden tidak pernah ada di muka bumi ini.

Benua Atlantis itu (Ternyata) Indonesia


Oleh Prof. Dr. H. PRIYATNA ABDURRASYID, Ph.D.


atlantis-indonesia-map-3.jpg MUSIBAH alam beruntun dialami Indonesia. Mulai dari tsunami di Aceh hingga yang mutakhir semburan lumpur panas di Jawa Timur. Hal itu

mengingatkan kita pada peristiwa serupa di wilayah yang dikenal sebagai Benua Atlantis. Apakah ada hubungan antara Indonesia dan

Atlantis?

the true history of atlantis II


the collapse of the holy mountain of osiris
borobudurMount Atlas is the same Holy Mountain of Paradise represented by the Great Pyramid. Osiris dead, reposing inside the Holy Mountain, represents the dead Atlantis or, rather, the dead of Atlantis, buried and entombed by the gigantic explosion of the Holy Mount Atlas. Mount Atlas is the same as the Mount Meru of the Hindus, the pyramid-shaped mountain that there served as the sky’s support.
mandborobudurIndeed, the Egyptian word for pyramid, M’R was most probably read MeRu as in the Hindu name of the mountain simulated by the monument. The ancient Egyptians did not spell out the vowels in their hieroglyphs, so the above reading probably corresponds to the actual one of Mt. Meru, the exploded Mountain of Paradise.
In Hindu traditions, Mt. Meru served as the Stambha, the Pillar of Heaven. Mt. Meru (or Kailasa = “Skull” = Calvary”) also served as the support of the Cosmic Tree where the Cosmic Man (Purusha) was crucified, like Christ on the Cross. Mt. Meru is also the Holy Mountain of Paradise, endlessly portrayed in India during its explosion, in beautiful mandalas such as the Shri Yantra. By the way, the Golden Lotus often shown with them portrays the “atomic mushroom” of the cosmic explosion, as we argue in detail in our work entitled “The Secret of the Golden Flower“.
In consequence of the giant explosion, Mt. Meru (or Atlas), voided of its magma, collapsed like a sort of punctured balloon. Its enormous peak sunk underseas, turning into a giant caldera. Our researches into the ancient world legends have shown that this volcano is indeed the Krakatoa, the same one that still castigates the region whenever it again erupts explosively, as it did in 1883 and other occasions.
the meaning of the primordial castration
The Krakatoa is now a submarine volcano located inside the gigantic caldera that now forms the Sunda Strait separating Sumatra from Java. In Hindu myths, its explosion and subsequent fate are allegorized as the Primordial Castration which turned the Cosmic Phallus (Linga) into the Cosmic Yoni (or Vulva). And Earth’s Yoni is the same as the Khasma Mega of Hesiod, mentioned further above.
We see how the apparently absurd traditions of the ancients indeed make far more sense than those of the crude attempts at explanation by the modern experts of all sorts. It is also precisely to this fact that refers the legend of Atlas, the Pillar of Heaven. Unable to bear the load of an earth overpopulated with gods, Atlas collapsed, and let the sky fall dawn over the earth, destroying it.
The name of Atlas indeed derives from the Greek radix tla meaning “to bear”, preceded by the negative affix a, meaning “not”. Hence, the name of Atlas literally means “the one unable to bear [the skies]“. Such is the reason why Atlas (and other Titans like himself) are often portrayed with weak, serpentine legs. The collapse of the skies is, of course, a clever allegory of the fall of volcanic dust and debris from the afar explosion of Mt. Atlas. In Hindu myths, one layer buries the former one, giving rise to a new heaven and a new earth, just as we read in Revelation.
atlantis and the rising of the phoenix
garudapancasilaThe above is, of course, exactly the message of St. John’s Revelation (21:1) concerning the New Jerusalem. The New Jerusalem is Atlantis, reborn from its cinders, as a sort of Phoenix, the bird that personifies Paradise in Greek myths. These myths were indeed copied from Egypt who, in turn, cribbed them from India. India and, more exactly, Indonesia, is the true land of the Phoenix, as is relatively easy to show, since it is from there that comes the name of the Benu bird of the Egyptians and that of the Phoenix of the Greeks.
This mystic bird was called Vena in the Rig Veda. So, if the Phoenix indeed symbolizes Atlantis-Paradise resurging from its own cinders, as we believe it does, there can be little doubt that the legend is originally Vedic, and originated in the Indies. The name means nothing that makes sense in either Egyptian or Greek. But in the holy tongues of India it means the idea of Eros (Love) and, more exactly, the Sun of Justice that symbolizes Atlantis rising from the waters of the primordial abyss. This myth forms the essence of the one of the Celestial Jerusalem, as well as, say, those of the Orphic Cosmogonies, those of the Egyptians, and those of most other ancient nations.
egypt and the origin of the legend of atlantis
cosmic_manPlato concedes that he learnt the legend of Atlantis from Solon who, in turn, got it from the Egyptians. But those, in their turn, learnt it from the Hindus of Punt (Indonesia). Punt was the Ancestral Land (To-wer), the Island of Fire whence the Egyptians originally came, in the dawn of times, expelled by the cataclysm that razed their land. From there also came the Aryans, the Hebrews and Phoenicians, as well as the other nations that founded the magnificent civilizations of olden times.
It is from the primordial Lemurian Atlantis that derive all our myths and religious traditions, the very ones that allowed the ascent of Man above the beasts of the field. From Atlantis derive all our science and our technology: agriculture, cattle herding, the alphabet, metallurgy, astronomy, music, religion, and so forth. These inventions are so clever and so advanced that they seem as natural as the air we breath and the gods we worship. But they are all incredibly advanced inventions that came to us from the dawn of times, from the twin Atlantises we utterly forgot.
It is in India and in Indonesia, that, even today, we find the secret of Atlantis and Lemuria hidden behind the thick veil of their myths and allegories. The crucial events are disguised inside the Hindu and Buddhic religious traditions, or told as charming sagas like those of the Ramayana and the Mahaharata. The error that led the ancients, along with the modern researchers, into believing that Atlantis lay in the Atlantic Ocean is easy to understand now that we know the true whereabouts of the sunken continent. When humanity moved from Indonesia into the regions of Europe and the Near East, the “Occidental Ocean” of the Hindus became the Oriental Ocean, for it then lay towards the east.
The (Hindu) myths that told of Atlantis sinking in the Occidental Ocean became interpreted as referring to the Atlantic Ocean, western in regards to Europe, their new residence. The Hindus called the sunken continent by the name of Atala (or Atalas) a name uncannily similar to that of Atlas and of Atlantis (by the appending of the suffix tis or tiv = “mountain”, “island”, in Dravida, and pronounced “tiw”). It is from this base that names such as that of the mysterious Keftiu of the Egyptians, the “Islands in the Middle of the Ocean (the “Great Green”)” ultimately came (Keftiu = Kap-tiv = “capital island” or “Skull Island” = “Calvary” in Dravida, the pristine language of Indonesia). But this is a long story which we tell elsewhere, presenting the detailed evidence for this uncanny allegation of ours.
the reversal of the oceans and the cardinal directions
It is to this “reversal” of the Cardinal Directions just mentioned that Plato and Herodotus make reference, along with other ancient authorities. Interestingly enough, even the Amerindians — who came in, at least in part, from Indonesia into South America via the Pacific Ocean impelled by the Atlantean Cataclysm — often confuse the direction of their primeval homeland, which they sometimes place in the east, sometimes in the west. But, strangely enough, they never place it towards the north, as they should, if they came in via the Bering Strait.
The ancient Greeks attempted to mend their myths calling, by the name of “Atlantic”, the whole ocean that encircles Eurasia and Africa. But the result was even worse than before and the confusion only grew. Herodotus used to laugh at this ridiculous attempt by the geographers of his time (Hist. 2:28). Aristotle, in his De Coelo, is also very specific on the fact that the name of “Atlantic Ocean” — that is, the “Ocean of the Atlanteans” — was the whole of the circular, earth-encompassing ocean.
So, we able to conclude that Atlantis can legitimately be localized either in the ocean we presently call by that name, or, even more likely, in the ocean where the ancients placed their legends and their navigations, the Indian Ocean. This ocean they named Erythraean, Atlantic, and so on, names which are indeed related with that of Atlantis, “the land of the Reds”, the Primordial Phoenicia or Erythraea, whose names mean “the red one”.
It should perhaps be emphasized that it is the name of the Atlantic Ocean (or “Ocean of the Atlanteans”) that derives from that of Atlantis, and not vice-versa. And that name far predates Plato, being mentioned, f. i., by Herodotus, who wrote his History fully a century before Plato wrote the Critias. Moreover, as Herodotus explains, the name of “Atlantic Ocean” originally applied to the Indian Ocean, rather than the body of water now so named. So, it is on that side of the world, and not on ours that we should expect to find Atlantis.
atlas, hercules, atlantis, and the itinerary of the heroes
Greek myths often embody the confusion of east and west that we just pointed out. The itineraries of Greek heroes such as Hercules, Jason, Ulysses and the Argonauts are all absurd when placed in the Mediterranean or even in the Atlantic Ocean. But they all make a lot of geographical and mythical sense if we place them in the Indian Ocean, as we should. And that is indeed what we do, in other more specialized works of ours on this fascinating subject.
Likewise, the Titan Atlas and his mountain, Mt. Atlas, were placed just about everywhere, from Hesperia (Spain), the Canaries and Morroco to the Bosporus and the Far Orient, at the confines of Hades (Hell). The result was a profusion of Atlantises and of Pillars of Atlas (or of Hercules) that makes no sense al all. Indeed, the two heroes who personified the World’s Pillars represented the two Atlantises we discussed further above. They are personified as Atlas and Hercules, the primeval Twins whom we encounter in all Cosmogonies.
In Plato’s dialogues concerning Atlantis (the Critias and the Timaeus), Hercules is called Gadeiros or Eumelos, names that correspond to something like “Cowboy” or, rather “Fencer of Cattle”. This name is a literal translation of that of Setubandha, the Sanskrit appellation of Indonesia. This name is due to the fact that Indonesia indeed “fences out” the seas, dividing the Pacific from the Indian Ocean.
the ultima thule, the twins, and the war of doomsday
Indonesia was, as we said above, the Ultima Thule (or “Ultimate Boundary“) of the ancients, the last frontier which should not be crossed by the navigators. There lay the Pillars of Hercules and of Atlas, the two primordial Twins. In another guise, the two correspond to the twins of Gemini (Castor and Pollux), directly derived from the Ashvin Twins of the Hindus. In Egypt they corresponded to Seth and Osiris, and were commemorated by the two obelisks posted at the entrance of Egyptian temples.
Hercules is, of course, a Phoenician deity (Baal Melkart), in turn derived from Bala or Bala-Rama (“the Strong Rama”), the twin brother of Krishna. Bala means “Strong” or “Strength” in Sanskrit, being called the same (Bias = “Strength”) in Greek and other tongues. Krishna is the World’s Pillar, clearly the personification of Atlantis.
More exactly, the Twins personify the two races of blondes (Aryo-Semites) and brunets or “reds” (Dravidas), fated to fight wherever they meet. Both shades are originally from Eden (Lemuria), the primordial Paradise where humanity originally arose. Osiris, the Egyptian god, also played the role of Cosmic Pillar (Djed), a role he shared with Seth, his twin and dual. But this mythical symbolism ultimately derives from that of Shiva as the Sthanu, the “Pillar of the World” and that of Shesha (or Vritra), the Cosmic Serpent who was the archetype of Seth-Typhon.
the battle of the sons of light and the sons of darkness
The Twins — like the Devas and Asuras of the Hindus and the Sons of Light and the Sons of Darkness of the Essenians — are always the personifications of the two races that dispute world hegemony since the dawn of times. It was their war, according to Plato — who calls them “Greeks” and Atlanteans — that led to the destruction of Atlantis.
There is no reason to doubt that the great philosopher was indeed transmitting ancient traditions faithfully. For, we are starting to learn all over again that global wars can indeed lead to the world’s end. In fact, it is the same endless war that menaces us now as it did at the dawn of times. This frightening reality is told in the Ramayana, in the Mahabharata and in the Iliad, not to mention the other myths and traditions.
But the war of Atlantis is also the War of Armageddon narrated in the Book of Revelation. This war is in reality a repetition or replica of the worldwide, primordial battle between Gods and Devils. These mighty beings were the same as the so-called Titans (or Giants) in Greece. Their war was, as Plato and his commentators explain in detail, the same as the one of Atlantis.
Armageddon means (in Hebrew) the same as Shambhalla (in Sanskrit), “the Plains of Gathering”. There the armies of the world will gather, in the end of times, for “the war that is to end all wars”, for it will close the Kali Yuga. The perspective indeed seems frighteningly real, doesn’t it indeed? Fables or Reality? Religion or Profanity? Science or Superstitious Nonsense? We are inclined to believe that our ancestors spoke in earnest, and that the war of Armaggedon and the end of the world are fast becoming all too real possibilities.
are mars and venus a celestial example?
We do not want to seem alarmists, as our message is indeed one of hope and salvation, and not of “Bible thumping”. The recent discovery of vestiges of extinct life in Mars brings a memorable lesson that is worth detailing. Earth has been, in the past, the victim of countless catastrophes that nearly wiped out Life altogether. These cataclysms were due to different causes such as cometary and asteroidal falls or volcanic cataclysms bringing on or off the Ice Ages. Not impossibly, wars such as the War of Atlantis and the Battle of the Gods can have indeed happened in a far, utterly forgotten past that lives on in our myths and holy traditions from everywhere.
Perhaps our wars just continue these and others that possibly took place on Mars and Venus, destroying Life there, if not in other Solar Systems as well. It may even be the case that Big Bangs and Creations are indeed cyclic processes that recur periodically, just as the traditions of the Hindus on Cyclical Eras affirm in detail. The extinction of the dinosaurs, and the origin of the Moon — pulled out of the Earth by a planetoidal impact — are instances of such sobering cataclysms. Thousands of giant craters — as large as those on the Moon, though almost effaced by erosion — are still observable on the earth, as scientists are starting to discover. Hundreds of times in the past we have had massive extinctions of Life on earth.
Many times in the past our world nearly became as “empty and dark and devoid of form” as at Creation, when God reshaped the earth for the last time. The Uniformitarianism of Darwin and Lyell is no more than a naive belief in the Panglossian doctrine that “all things only happen for the better, in the best of all possible worlds”.
Fossils and extinctions are here to prove, just as do Geology and other sciences, that Catastrophism is a feature of Nature as much, and possibly even more, than Uniformitarian phenomena. Thousands of Apollo and Amor objects swarm across earth’s orbit, ready to strike us at a moment’s notice with a force of a million Megatons and over. The idea that God favors humans “above the beasts of the field” is just our own naive, self-centered notion of what God should look like. More likely, He regards all Life as sacred, as His own handiwork, if He exists at all. That is what Nature indisputably demonstrates in practice all the time.
Mars, with its dead residues of Life, with its oceans empty and dry, with its terrible dust storms sweeping across the endless void and devastation, is here to prove to all that God — or, as some will, Nature or Mother Earth — sometimes loses his/her temper and extinguishes Life altogether. This almost happened at the Flood, as the myths tell us. The victimizing of Atlantis — perhaps because they sinned, perhaps because they warred — almost took the rest of us along. Venus is another instance, in reverse, that planets can indeed die and become as sterile as the Moon. And perhaps, earth itself was just “reset back to zero” some four billion years ago, when the Moon was pulled out of it by a giant meteoritic impact of planetoidal size.
atlantis and the illusion of darwinian uniformitarianism
As we just said, Darwin’s Theory of Uniformitarian Evolution is just an illusion of die-hard scientists. What the world presents us daily is an endless series of ever larger cataclysms, ranging from atom smashing to the Big Bang. We recently watched a comet hitting Jupiter and opening a gash on that planet as big as the whole earth. Mars shows all signs of having been hit by a planetoidal sized body, which opened a huge crater on one side and pushed up Olympus Mons on the opposite one. Perhaps it was this cataclysm that extinguished Life on the Red Planet. Venus too presents vestiges of similar catastrophes. Perhaps we are only stranded here on earth, fated to become extinct when our allotted time expires who knows when?
Life is an illusion, as all things, as the Hindus teach us. According to them, even the gods eventually die, and are replaced by better, more evolved godly forms. An illusion is also the suprematist theory that affirms that Civilizations first arose in an Occidental Atlantis that never was, out of Europoid stock. But Civilization evolved at a time when the whole of Europe was almost fully covered by a mile thick glacier that rendered survival very meager and scant.
Plato’s Atlantis is, in contrast, described as a luxurious tropical Paradise, bedecked with metals, horses, elephants, coconut, pineapples, perfumes, aromatic woods and other features that were an exclusivity of India and Indonesia in the ancient world. Was the great philosopher dreaming, or was he indeed basing himself on Holy Books now lost in the bonfires of the Holy Inquisition ?
The Atlantic Atlantis is an illusion too, just as are the Cretan, the African, the American, the North European and the Black Sea ones. The true Atlantis, the archetype of all other Atlantises is Indonesia, or rather, the extensive sunken continent rimmed by this island arc. It is there that we had Plato’s “innavigable seas”, the same one mentioned by navigators. such as Pytheas, Himilco, Hanno and others. It was this primordial Atlantis that served as a model for the second Atlantis — the one of the Indus Valley — as well as for the myriad other similar Paradises that we encounter in all ancient religious traditions and mythologies.
the krakatoa volcano and the “innavigable seas” of atlantis
Another central, unique feature of Atlantis were its seas, rendered “innavigable” as the result of the cataclysm, as reported by Plato and other ancient authorities. As we mentioned further above, the seas of Atlantis were innavigable because they were covered thick with giant banks of floating, fiery pumice-stone. This pumice was ejected by the giant explosion of volcanic Mt. Atlas, the one which caused the foundering of the Lost Continent..
A similar phenomenon indeed happened — in a far lesser scale, but one big enough to be one of the world’s largest catastrophes — at the explosion of the Krakatoa volcano that we mentioned further above. The formation of pumice — a sort of stony “froth” made of siliceous glass — is characteristic of the Indonesian volcanoes, and is indeed the cause of their explosive eruptions of incomparable force. The phenomenon is quite similar to the “popping” of popcorn. The water-soaked siliceous magma of the submarine volcano (the primeval Krakatoa) built up tremendous pressures under the weight of the crust and the overlying sea water. Eventually, the topping crust which formed the volcanic peak gave, and the eruption occurred, explosively.
Thus released, the overheated water dissolved in the hot magma turned instantly into vapor, literally bursting like popcorn, except that in a worldwide scale. The sea was impelled, in a huge tsunami that was the event mythified as “the Flood from below”. Simultaneously, the ashes and debris were thrown up into the stratosphere, as “soot”. This fly ash eventually fell back to the earth and the sea, choking all life in the region, and causing the enormous quantities of rain, “the Flood from above”. Further away, it settled over the Ice Age glaciers, causing their melting and triggering the end of the Pleistocene, precisely as related above.
Interestingly enough, the Hindus associate this sort of stuff — this vitreous “seafroth” — with Krishna and Balarama, the archetypes of Hercules and Atlas. Balarama is the alias of the Serpent Shesha, whose name means (in Sanskrit) “residue” and, more exactly, the kind of foam such as ambergris or pumice stone thrown over the beaches by the seas. The whole story is a clever allegory of the explosion of Mt. Atlas, the World’s Pillar, ejecting the huge amounts of pumice stone and fly ash that covered the soil and the seas of Atlantis, and choking out all its paradisial forms of life.
The Titans — and Atlas in particular — were likened to Serpents (or Dragons), and to “weak-legged”, anguipedal, Civilizing Heroes such as Erychthonios, Cadmus, Hercules, Quetzalcoatl, Kukulkan, etc.. All such indeed derive from the Nagas (“Serpent-people”, “Dragons”) of India and Indonesia, as we argue elsewhere.
the illusory, chimerical atlantises
As we said above, the Cretan “Atlantis” of certain authorities is an illusion, as are all others outside the two Indies. Nevertheless, the explosion of the Thera volcano closely parallels the one of the Krakatoa of 1883, as some have noted. But it is far too small and far too wrongly sited in relation to the Pillars of Hercules for to be the right time and the right place.
Moreover, Crete lacked the size and the importance that Plato attributes to Atlantis, being puny in comparison to, say, the contemporary civilizations of Egypt, Babylon and Mycenian Greece. And the Theran cataclysm never sunk Crete underseas, or even hampered its existence in any notable way. In fact, the name of Crete (Kriti) means “swept”, rather than “sunken one”, as does the name of Atlantis in the holy tongues of India. So, Crete was recognizedly “swept” by the Theran cataclysm, but not indeed “sunken” by it, as Atlantis was.
The prehistoric explosion of the Krakatoa volcano that sundered open the Strait of Sunda was, by comparison a million times stronger. If the Theran explosion could sweep away the considerable extent of Minoan Crete, we are led to conclude that the one of the Indonesian volcano could well have wiped out an entire continental-sized civilization, and have triggered the chain of events that culminated in the end of the Pleistocene Ice Age.
Equally illusory are the Atlantises of the Bosporus (Moreau de Jonnés), of Spain (R. Hennig), of Libya (Borchardt), of Benin, in Africa (Leo Frobenius) and the even less likely one of the North Sea (Olaus Rudbeck), the Americas (several authors) and Antactica (idem). Even more impossible are the Atlantises located in sunken islands of continents of the Atlantic Ocean and, particularly, the Sargasso Sea, for they are not even geophysical possibilities.
the mid-atlantic ridge and donnelly’s atlantis
There are no sunken continents at the bottom of the Atlantic Ocean, as an extensive study of this region has unequivocally shown. What this detailed research disclosed is the existence of the Mid-Atlantic Ridge, a vast submarine cordillera that divides the Atlantic Ocean at the middle. This feature corresponds to the rift from whence the Tectonic Plates issue, causing the continents to drift away from the spot, at the rate of a few centimeter per year.
Hence, despite the brilliant plea of Ignatius Donnelly, this ridge corresponds not to a sunken continent, but to land that is slowly rising out of the sea bottom. Such rifts and ridges in fact exist in all oceans. They rise above sea level in certain spots forming island arcs, as in Indonesia and at the Indus Valley. Where they do, they cause the kind of terrible volcanoes and earthquakes that we have been discussing above. It is no coincidence that the two Atlantises we mentioned are located precisely at such spots where the Mid-Oceanic Ridges rise above the surface of the sea.
When we inspect the map of Fig. 1, we also note that a sizable chunk of India disappeared at the end of the Ice Age at the Indus Delta. This region is now known as the Rann of Kutch (“Marshes of Death”) and is in fact still sinking underseas, even today. This region is deemed a sort of Hell, and has been clearly flooded by some sort of terrible cataclysm that also took place at the end of the Pleistocene, just as did the one of Lemurian Atlantis.
lemurian atlantis and the four rivers of paradise
At this occasion, that of the demise of Atlantis, the Himalayan glaciers melted in the greater part, pouring its waters down the Indus Valley, in floods that were hundreds of times larger than the ones of today, even when the monsoon storms castigate the region. Such is clearly the record left by the tempest that swept away the second Atlantis (Hesperus), throwing it into the sea during the second of the Biblical Floods.
The same thing also happened at the other side of the Himalayas, whence issue the rivers that irrigate South Asia, China and Southeast Asia, such as the Huang-ho, the Yangtzé, the Mekong, the Irrawaddy, the Brahmaputra, the Ganges. These are indeed the Four Rivers of Eden (Lemurian Atlantis), as we argue in detail elsewhere. There can be very little doubt that the Lemurian Atlantis — as well as its successor, the Indian Atlantis — are sacred traditions based on real facts which were in no way exaggerated by our ancestors.
the civilizing heroes and heroines are atlantean escapees
The cataclysms in question caused the mass migrations of nations which later were to form civilizations of the past such as those of the Egyptians, the Greeks, the Cretans and the Mesopotamians. These also included the Jews, the Phoenicians, and the Aryans, driven away from their ancestral lands in Indonesia and Southeast Asia. At first they settled in India, but were driven out by the locals, moving to the places just mentioned.
Such mass migrations are told in the Bible and in similar Holy Books of all nations, in legends such as those of Moses and the Israelites, Aeneas and the Romans, Hercules and his Greek “cattle” (armies), of Cain’s expulsion from Eden, of Quetzalcoatl’s arrival in Mexico, of that of Viracocha and the Incas in Peru, of the Fomorians and the Tuatha de Danaan arriving in Britain, and so on.
These legends disguise real facts under the veil of allegories, and personify or deify the nations in question under the figures of heroes such as Noah, Manu, Hercules, Kukulkan, Abraham, Quetzalcoatl, and a myriad others, or in heroines like Venus, Demeter, Dana, Danu, Vesta, Hathor, Isis, Hecate and so on. Lemuria was indeed the Great Black Mother of Gods and Men. She is the same goddess that we know by names such as Kali, Parvati, Demeter, Hera, Isis, Ishtar, Venus, Cybele and even the Virgin Mary.
The paradoxical virginity of the Great Mother refers to the fact that she bore the Lemurian civilization on her own, in an autochthonous manner, without the help of an “inseminator” civilization. In contrast, all other civilizations evolved by being seeded from outside by the Civilizing Heroes, the Angels, the Gods, the Devils, etc.. These were the Lemurian Sons of God that, though , illuminated the world with the Light of our Great Mother.
The second Atlantis, India, is our Great Father. The Father is the inseminating god known as Shiva in India, Jahveh in Israel, Zeus in Greece, Viracocha in Peru, Quetzalcoatl in Mexico, Bochica in Colombia, and so on. He is the god that is castrated and dies but who resurrects from among the dead, whole and virile as ever. The image is not without analogy with an immortal volcano such as the Krakatoa that explodes and vanishes from sight, but keeps shining underneath the ocean, until the time comes for it to rise and shine again, perhaps at God’s command.
the many aspects of god
As we just said, myths work at several levels, and a parallel such as the Atlantean one is just a facet of God’s myriad aspects. In other words, volcanoes are manifestations of God’s power, the weapon he often chooses to castigate the nations and to force Evolution to follow its course. The Hindus call this force by the name of vajra, a Sanskrit word meaning both “hard as diamond”, as well as “thunderbolt”. The vajra is the thunderbolt weapon used by almighty gods such as Baal (Hercules’ archetype), Zeus, Indra, Haddad, and a myriad others. In fact, God is neither the vajra nor the volcano, but the force behind it, its impeller and wielder.
For the vajra is indeed the flail of the gods, the Celestial weapon He uses in order to quicken Evolution and to stir Nature into action, in the endless parade of life forms that characterizes Life. Perhaps all this has a purpose in the divine conscience, though I don’t really know for sure. But there is no doubt whatsoever in my mind that Catastrophism is God’s way, if He indeed has any. Moreover, it is also Nature’s way, let no one doubt it. The ancients well knew that, and so do I, having learnt from them. For instance, they often portrayed the vajra as a flail or a lash, or even a hammer or a mace wielded by the god in order to stir Nature into action.
Gods like Christ are not the only ones to die and to rise again from the dead. By the way, Christ too is the wielder of the “iron rod”, the hardest of metals being a metaphor for “diamond” and, hence, for the vajra. Christ was preceded by many aliases, and the conception of “dying-resurrecting” gods akin to the Sun of Justice dates from oldest antiquity. Among the many archetypes of Christ we can mention, offhand, Osiris, Attis, Tammuz, Adonis, Shiva, Kronos, Saturn, Dionysos, Serapis, Mithra and, of course, Krishna, in his infinite series of avatars, and Hercules, the great hero, in his fiery apotheosis that figured the Atlantean Conflagration.
1 Tektites are glass beads and concretions resulting from giant meteoritic (or cometary) falls or, perhaps, from gigantic volcanic explosions as well. These collisions scatter tektites far and wide, as in the above case. The ones in question are called Indochinites, in an allusion to the region where they abound the most. The Indochinites were dated at 700 kyears (one kiloyear = one thousand years). The explosion of Lake Toba took place 75 kyears ago. The even larger one of Lake Taupo took place at some 100 kyears ago or so.
These giant explosions — which all occurred in the region of Indonesia, volcanically the most active in the whole world — are easily large enough to trigger an Ice Age. However, whether one is indeed caused depends on other conditions, probably dictated by insolation and other variables, astronomical or not. As we just said, the region of Indonesia has literally hundreds of active or dormant volcanoes, and has been very little researched so far, due to its remoteness.
Further research of the Indonesian region will, now that its connection with the birthplace of Mankind is being pointed out, certainly confirm the reality of what we are claiming. Our research is based on very detailed local traditions and is the fruit of many years of study of the myth of Atlantis-Eden from a scientific though unbiased, point of view. We push no religious, scientific, philosophic or mercenary point, and our interest lies solely in establishing Truth. As the Romans used to say, Amicus Plato, magis amica Veritas.

the true history of atlantis



Note: The cataclysms of fire and water of worldwide extent of which we speak in this essay are strictly scientific. They are widely attested in the geological record, being generally accepted by modern Geology. So are the massive extinctions of all sorts of species, and particularly of the large mammals which took place at the end of the Pleistocene Ice Age, some 11,600 years ago. Some 70% of the former species of great mammals which existed in the former era became extinct then, including, in all probability, two species of humans, the Neandertals and the Cro-Magnons, which became extinct more or less at this epoch.
Only the mechanism for the end of the Pleistocene Ice Age — which is a certain fact, but is so far unexplained by Science — is new and our own. We propose that this dramatic event was caused by a huge explosion of the Krakatoa volcano (or perhaps another one), which opened the Strait of Sunda, separating the islands of Java and Sumatra, in Indonesia.

kehidupan tragis di Ethiopia





Begitulah bentuk kehidupan di ethiopia
kita disini masih bisa sibuk mencari-cari makanan yang lebih lezat
tak peduli berapapun harganya

tapi lihatlah kehidupan mereka di negrinya
begitu tragis dan membuat mata kita seakan tak sanggup melihatnya

ingatlah dan bersyukurlah
ini bukan tentang keberuntungan
melainkan tentang sisi lain dari kehidupan manusia
yang menjadi tolak ukur kehidupan kita
untuk menjadi manusia yang penuh rasa syukur
dapat menjalani kehidupan ini dengan sempurna

 


 
Kasus kelaparan, kurang gizi, kematian bayi, dan anak-anak kerap terjadi pada beberapa negara di Benua Afrika. Salah satu negara yang selama bertahun-tahun mengalami masalah seperti ini adalah Ethiopia. Negara yang terletak di wilayah Afrika Timur ini memiliki masalah kelaparan pada anak-anak yang berkelanjutan dari tahun ke tahun.


Ethiopia merupakan sebuah negara yang berbentuk Republik. Ibu kota negara ini adalah Addis Abeba. Negara ini memiliki luas wilayah sekitar 1.127.127 km2. Secara geografis, Ethiopia didominasi oleh bentang alam dataran tinggi (plato). Wilayah yang ada umumnya berupa gurun pasir yang membentang luas hingga ke Pantai Laut Merah. Selain itu, karena alam kebanyakan berupa gurun pasir, menyebabkan iklim yang ada menjadi iklim gurun yang keras. Kedua hal ini yang menyebabkan pertanian yang diusahakan di Ethiopia kurang maksimal dan selalu mengalami kegagalan untuk kebutuhan makanan bagi negaranya sendiri.


Jumlah penduduk Ethiopia adalah sekitar 59.690.383 (2003). Pada penduduk sendiri pun terjadi masalah yang kompleks. Sejak tahun 1970-an terus terjai perang saudara yang memperebutkan tahta kekuasaan di Ethiopia. Akibatnya, penduduk Ethiopia banyak yang menjadi korban termasuk anak-anak. Ribuan anak-anak menjadi yatim piatu. Selain itu, masalah kelaparan dan kurang gizi pun membayangi mereka karena kehidupan yang berpindah-pindah untuk menghindari perang menjadikan mereka sering tidak memperoleh makanan.
Kini, saat perang saudara masih terus berkecamuk, anak-anak di Ethiopia terus menjadi korban. Berbagai penyakit terus menyerang mereka seperti busung lapar, diare, dan lain-lain. Kematian pun tidak pernah lepas membayangi mereka...
 

makan di atas langit


konsep makan diatas ketinggian lebih dari 25 meter ini dibuat oleh perusahaan yang berbasis di Belgia dan telah membuat 30 restaurant dengan konsep ini dilebih dari 30 negara. Tidak hanya makanan saja yang anda nikmati namun juga anda akan diiringi dengan musik live yang bermain disamping anda dan dengan 3 koki yang akan menyajikan makanan untuk anda. Anda akan berada diatas langit dengan diangkat oleh crane raksasa dan jangan khwatir dengan keamanan karena anda diharuskan menggunakan sabuk pengaman saat di Sky Dine ini. Dan anda pun dilarang untuk mebuang barang sembarangan kebawah ketika disini.


Dine In The Sky

























Jika Sholat dan Doa Naik Ke Langit


Sesungguhnya rumah yang pertama dibangun untuk manusia beribadah adalah rumah yang di Bakkah (Makkah) yang diberkati dan menjadi petunjuk bagi manusia. (QS. Ali Imran: 96)



Mengayuh Sepeda dari Afrika Selatan Sampai Makkah Untuk Melaksanakan I


Melewati Bostwana, Zimbabwe, Mozambique, Malawi, Tanzania, Kenya, Turki, Suriah, dan Yordania, Nathim Caircross (28 tahun) dan Imtiyaz Ahmad Haron (25 tahun) mengayuh sepeda ke Arab Saudi. Setiap hari mereka harus mengayuh sejauh 80-100 km, bermula dari Cape Town, Afrika Selatan.


nathim cairncross kanan dan imtiyaz ahmad haron

Wednesday, October 27, 2010

zaman purba lebih maju dari zaman modern


Tahun 1900 ditemukan sebuah logam yang membatu yang berusia sekitar 2000 tahun disebuah kapal karam di pulau Antikythera Yunani, 50 tahun kemudian benda tersebut dilihat dengan sinar-X dan menemukan bahwa benda tersebut merupakan sebuah alat mekanik seperti mekanik pada jam tangan, penemuan ini membuat para ahli arkeologi kebingunan, karena pada saat itu bangsa yunani tidak akan mungkin membuat benda mekanik serumit itu.


Anticythère Mechanics



Anticythère Mechanics Setelah di X-ray



Perkiraannya alat ini digunakan sebagai kalender


Keberadaan mekanik pada jaman prasejarah juga bisa ditemui di kompleks kuil Dendera di Mesir. Pada ruang bawah kuil tersebut terdapat pahatan dinding dua buah benda yang menyerupai bola lampu pijar, hal ini kemudian dikaitkan dengan pertanyaan, bagaimana ruang bawah yang gelap dan panas itu mendapatkan cahaya?

beberapa teori mengatakan bahwa, ruang-ruang dalam kuil tersebut menggunakan cahaya matahari yang dipantulkan dari luar berulang kali oleh cermin-cermin didalam kuil, namun teori ini dapat terbantahkan, karena sinar yang dipantulkan semakin lama semakin lemah sehingga tak bisa menerangi semua ruangan.

Ada juga yang mengatakan menggunakan api / obor tapi tidak ada di satu ruangpun ditemukan bahan untuk membuat api, dan tidak akan cukup oksigen yang didapatkan untuk membuat obor. Jadi, satu-satunya cara untuk menerangi ruangan dalam kuil adalah dengan bola lampu.

Pertanyaannya sekarang, jika benar mereka menggunakan lampu, bagaimana mereka mendapatkan aliran listrik? Bahkan listriknya saja baru ditemukan ribuan tahun setelahnya.

Satu penemuan yang mungkin dapat mendukung keberadaan bola lampu jaman prasejarah adalah penemuan baterai bagdad yang telah di uji mampu menghasilkan listrik dengan menuangkan perasan jeruk kedalam gucinya.

Pahatan dinding dua buah benda yang menyerupai bola lampu pijar



Baterai Bagdad

 

Baterai Bagdad Diisi Perasan Jeruk


Di kompleks kuil Teotihuacan para ahli yang mempercayai ada campur tangan alien dijaman purba menemukan penataan kompleks yang mirip dengan tata letak sama dengan posisi solar system kita, tapi bagaimana mungkin designer kompleks kuil Teotihuacan mengetahui lebih dahulu system peredaran planet-planet mengitari matahari?

Bukankah hal itu memerlukan penelitian ilmiah berkelanjutan selama berabad-abad? ada yang bilang bahwaposisi kuil ini adalah sebuah kebetulan belaka, tapi jika kita melihat peninggalan sejarah ditempat lain yang bahkan lebih tua dari Teotihuacan seperti Stonehenge yang mana bila dilihat dari angkasa, lingkaran-lingkaran susunan batunya sangat menyerupai solar system kita.

Kompleks Kuil Teotihuacan



Kompleks Kuil Teotihuacan Solar System
 



Stonehenge
 



Stonehenge Solar System
 


Stonehenge Dilihat Dari Udara




Pada tahun 1929 diketemukan pula sebuah peta lukisan bertanda tangan seorang Kapten bernama Piri Reis tercantum juga tahun 1513 yang juga berarti 21 tahun setelah Colombus menemukan benua Amerika.

Yang menakjubkan adalah bahwa peta itu sangat akurat menggambarkan garis benua atau garis pulau bahkan dilengkapi dengan gambar sungai dan gunung. Bagaimana sang creator membuatnya? Pengetahuan geografi saja mulai  berkembang ratusan tahun setelahnya.

Piri Reis Map



Piri reis Map dibanding peta modern


Bukti yang paling mendukung teori adanya campur tangan alien / teknologi modern dimasa prasejarah adalah adanya kompleks peninggalan Pumapunku di dataran tinggi Bolivia, disana logika kita tidak akan bisa menerka.

Di Pumapunku ada reruntuhan struktur megalitikum yang telah dihancurkan oleh gempa bumi yang sangat dahsyat. Blok-blok yang runtuh di Pumapunku sangat menakjubkan, yang mana bentuk dari blok-blok yang berserakan mempunyai potongan / bentuk yang sempurna dan memiliki ukuran yang sama dan bahkan lebih menyerupai puzzle-puzzle.

Belum ada yang tahu pasti bagaimana suku Indian Aymara mengangkut batu-batu (800 ton/pcs) kesana, padahal dataran itu berada pada 4.000 meter diatas permukaan laut.

Pumapunku



Pumapunku Blok

Kita semua tahu, bahwa untuk mendirikan sebuah bangunan seperti Pumapunku memerlukan penulisan, perencanaan, dan ide bagaimana tiap-tiap bagian pecahan memilki fungsi masing-masing dan bagaimana cara menyatukannya, tapi para ahli telah sepakat bahwa Indian Aymara tidak pernah mengenal tulisan. Bagaimana mungkin mengerjakan puzzle Pumapunku tanpa perencanaan?

Pumapunku Blok Rekonstruksi Puzzle


Dari segi kualitas, pengerjaan batu di Pumapunku sangatlah sempurna, seperti dikerjakan oleh mesin, untuk memotong dengan ukuran tertentu, membuat lubang, bahkan membuat cekungan panjang dengan ukuran sangat kecil (millimeter), dan tiap-tiap batu mempunyai bentuk dan ukuran yang sama persis.

Padahal material-material batu yang digunakan adalah batu diorite dan granit, batu diorite adalah salah satu batu yang paling keras yang hanya bisa dikalahkan oleh berlian, para arkeolog memperkirakan alat yang digunakan oleh suku Aymara mungkin memiliki mata berlian atau berbahan berlian, namun tak seorangpun arkeolog yang mampu memperkirakan atau mencoba merekonstruksi bagaimana Indian Aymara membuat blok-blok batu tersebut.

Lubang Pada Blok Pumapunku



Pumapunku Millimeter Detail



Pumapunku Ukiran








Sumber :
www.kaskus.us
Welcome to My Blog

Popular Post

Blogger templates

My Blog List

Sample text

Pageviews past week

shoutbox zone


ShoutMix chat widget

clock link

flag counter zone

free counters

Ads Header

Followers

Blog Archive

About Me

Followers

Friends

Blog Archive

Ajari aku ‘tuk bisa Menjadi yang engkau cinta Agar ku bisa memiliki rasa Yang luar biasa untukku dan untukmu

Blog Archive

web counter zone

Best Free Cute WordPress Themes

Hiya!

Welcome to Cutie Gadget, the place that love to post Cute Gadgets and Cute Stuff. Today I will share you my findings about Cute Wordpress Themes. These themes are really good if you create Cute themed Blog, Girls blog, Candy blog, or children blog as themes Free Cute Blog Templates really suitable for that reason. Ok, here’s the list :

pink cute themes 300x144 Best Free Cute Wordpress Themes

This Cute Candy themed Worpress template called Pink-Kupy. The color is combination of Gradation of pink, from Soft pink to vibrant pink. However, the background color is dark grey and white, they’re made to harmonised the pinky color. A really nice Pink Wordpress themes :) Free Download here

leaf cute themes 300x150 Best Free Cute Wordpress Themes

If you bored with regular Wordpress backgrond that using the usual color backgrond, then this wordpress themes is good for you.I really like the leaf green background, blended with white color. Look simple, cute and nice! Download here

greenery wordpress 300x145 Best Free Cute Wordpress Themes

The last but not the least, here is the Beautiful themes named Greenery. The color lime green, which looked really fresh and nice. I really like the tree color, looked cute because the cartoon styled drawing. Download here.

If don’t use worpdress, but using Blogger or Blogspot as your Blogging Platform, you can check out my Post about Cute Blogger Themes

Popularity: 1% [?]

Artikel Best Free Cute WordPress Themes Proudly presented by The Most Unique Gadget Blog. Please also see our sister site:Free Powerpoint Templates and Themes to get Free Powerpoint Template for school, business, medical presentation and many more!.

calender zone

Pages

my stuff and life. Powered by Blogger.
There was an error in this gadget

- Copyright © my zoONne -Robotic Notes- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -